LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 24 Layu Sebelum Berkembang


__ADS_3

Malam hari saat sedang melipat pakaiannya, Laila memasukkan pakaian dirinya dan Rohim ke dalam tas. Ia pun berhenti ketika akan memasukan beberapa berkas miliknya ke dalam tas.


"Mas. Atau kita beli kasur baru saja. Aku punya sedikit tabungan. Kita besok pagi ke kota dulu ambil uang."


Laila duduk di sisi Rohim yang sedang sibuk memberikan lakban kardus yang baru saja ia masukan buku-buku Laila ketika kuliah.


Rohim duduk di sisi sang istri.


"Mas sebenarnya malu pada mu Dik. Rencana yang begitu matang sudah mas buat. Tapi Allah berkehendak lain. Harusnya mas yang memikirkan hal seperti ini. Mas malu jadinya, tapi kalau tidak beli nanti kasihan Abah dan Ibu kalau sampai melihat kasur itu. Takutnya malah Abah juga yang membelikan kita." Rohim menatap buku tabungan sang istri.


Ternyata ia dan istri memiliki sifat yang sama. Hobi menabung untuk hal-hal tak terduga dan untuk setiap hajat yang ingin dicapai.


"Mas pinjam dulu. Nanti kalau mas sudah dapat mas ganti."


Laila mencolek hidung Rohim.


"Sama Kang Kidi yang harus dibalikin. Kalau sama istri sendiri bayarnya pakai cinta saja. Hehehe...."


Rohim tertawa mendengar istrinya sudah bisa menggoda.


"Jadi malam ini bisa Mas bayar cash sama bunga-bunga nya Dik?"


Laila tersipu malu. Karena Rohim merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri. Kopiah hitamnya ia letakkan diatas perutnya.


"Atau mau malam besok mas bayarnya?" Tanya Rohim.


Laila pun sambil tersipu malu menjawab pertanyaan Rohim.


"Sayang sekali Mas harus menabung dulu. Setelah Isya tadi, istri Mas ini kedatangan tamu bulanan."

__ADS_1


Rohim tersenyum sambil mengusap wajahnya.


"Tapi Islam tidak melarang untuk bermesraan dengan istrinya saat sang istri sedang haid bukan?" Rohim menyipitkan kedua matanya.


Laila tersipu malu. Ia memang pernah belajar di pondok bahwa selagi istri sedang haid, seorang suami boleh bersenang-senang dengan istrinya asal tidak bertemunya keeelamin.


Maka malam itu pengantin baru itu merasakan indahnya sentuhan halal dalam mahligai pernikahan.


Saat pagi tiba, Rohim dan Laila pergi ke kota. Tiba di bank, Laila mengambil sebagian tabungannya selama ia kuliah. Ia tak pernah membeli jajan saat di kampus. Ia lebih sering berpuasa Senin dan Kamis serta uang yang sisa di akhir bulan akan ia tabung. Dan saat ia kembali ke kampung halaman. Tak terasa ia memiliki tabungan sebesar dua juta.


Saat akan membeli di kota, Rohim pun menyarankan untuk membeli di desanya saja agar bisa sekalian diantar oleh toko. Jadi tidak harus menyewa mobil. Laila pun manut. Dalam perjalanan pulang. Rohim pun mengajak Laila berhenti di sebuah warung yang berada di perbatasan desa Sumber Sari dengan desa Donojoyo.


Laila pun penasaran kenapa berhenti di warung. Saat tiba di warung itu.


"Kenapa berhenti di sini mas?" Tanya Laila penasaran.


"Kamu harus cicip soto di sini Dik. Rasanya enak."


"Mas Rohim.... Kemana saja kok lama tidak kemari." Tanya anak lelaki itu.


Rohim pun mengusap rambut anak lelaki itu.


"Mas Rohim pulang ke kampung. Adit sehat?"


"Sehat dong Mas."


Rohim pun menarik satu kursi dan meminta sang istri duduk. Tak lama muncul seorang perempuan yang berusia kurang lebih sama dengan Waroh. Perempuan itu pemilik warung makan itu. Ia janda dengan 4 anak. Perempuan itu tersenyum manis pada Rohim dan Laila. Ia sebenarnya memendam perasaan pada Rohim. Karena Mukidi sering sekali menggoda sang janda dengan menjodohkan ia dan Rohim.


Rohim lelaki yang lugu. Untuk urusan cinta ia tak punya pengalaman. Jika ia sering kewarung itu bersama Mukidi karena di warung itu termasuk warung makan yang murah dan enak. Dan kondisi Perempuan yang juga janda dengan 4 anak membuat Rohim jika makan disana tak mengambil uang kembaliannya.

__ADS_1


"Kemana Mas Rohim? ini siapa? adiknya?"


Postur tubuh yang sama dan memang ada kemiripan dari wajah Rohim dan Laila jika di lihat sepintas. Kulit kuning Langsat, hidung Bangir dan wajah yang teduh membuat orang yang baru mengenal mereka akan menyangka bahwa mereka kakak adik. Terlebih penampilan Laila yang menggunakan Sarung batik khas santriwati, membuat orang berpikir jika ia adik Rohim. Rohim dikenal tak pernah membonceng perempuan.


"Em... Ini istri saya Mbak Lina. Dik, ini Mbak Lina."


Rohim memperkenalkan Lina dengan Laila. Seketika hati Lina terasa panas. Sesak di dadanya. Ia tak menyangka lelaki bernama Rohim yang dekat dengan anak nomor tiganya itu telah menikah. Ia berpikir jika selama ini sang guru ngaji menyukai dirinya. Karena Rohim yang setiap pulang dari kota, selalu memberikan uang jajan pada anak bungsu dan Adit. Adit adalah anak nomor tiga Lina.


Ia tak percaya jika guru ngaji yang sering ia dengarkan petuahnya itu memberikan harapan palsu pada dirinya. Lina yang salah mengartikan perhatian Rohim pada Adit dan adiknya. Rohim memiliki pemahaman jika Adit dan adiknya adalah ank yatim. Suami Lina yang meninggal di sambar petir. Membuat Rohim jika pulang dari menjual hasil panennya, akan memberikan sedikit bagian untuk anak yatim. Maka hal itu ia berikan pada Adit dan adiknya.


Sedangkan untuk uang kembalian yang sering Rohim tolak, disana ia niatkan untuk shodaqoh pada janda. Baginya itu cara terbaik untuk menolong janda dengan 4 anak yang masih berjuang yang benar untuk menghidupi anak-anaknya. Ia tak Bermaksiat, melainkan berjualan makanan.


Laila merasakan jika tatapan Lina seketika tidak suka pada dirinya. Namun segera ia tepis. Ia tak ingin setan menguasai hatinya. Cepat menarik kesimpulan dan menilai orang lain. Terlebih merasa lebih baik dari orang lain karena dirinya mengenakan hijab sedangkan perempuan bernama Lina itu mengenakan rok pendek serta baju lengan pendek, walau cukup ketat.


"Mau makan apa Kang?" Tanya Lina dingin.


"Biasa saja mbak." Jawab Rohim sambil membenarkan barang belanjaan yang tadi di beli istrinya untuk kebutuhan pindah kerumah baru.


Laila mengamati Rohim yang ia lihat suaminya itu dari tadi tak memandang sang pemilik warung. Namun ada rasa penasaran kenapa seketika raut wajah Lina berubah ketika menerima uluran tangan Laila.


"Dik, ternyata perempuan itu nafsunya besar. betul berarti ya?"


Laila mendelik mendengar kalimat dari suaminya. Rohim tersenyum melihat pipi Laila merona.


"Nafsu belanja nya Dik... Iniloh. Wong tadi niatnya mau beli kasur sama seprai toh? Lah kok ini yang di bawa pulang gorden, nampan, wadah Aqua dan bulu ayam... Berarti kan nafsunya besar. Kenapa wajah mu seperti tomat begitu? ow... Mas Lupa kamu pasti sudah khatam kitab...." Rohim tak jadi meneruskan karena Lina telah tiba ke meja nya dengan membawa dua porsi soto dengan dua piring nasi putih.


"Minumnya air putih saja ya kang. Gula dan kopinya kebetulan habis." Ungkap Lina saat akan pergi dari meja Rohim.


"Es sirup boleh Mbak." Pinta Rohim dengan suara pelan dan sibuk mengambilkan kecap dan saos ke arah istrinya. Ia baru berapa hari menikah telah memahami Laila. Istrinya sangat hobi makanan pedas.

__ADS_1


"Tidak ada. Sirupnya abis Kang. Lagi belum belanja. Air putih saja ya." Jawab Lina dingin.


Ia pun cepat berlalu meninggalkan sepasang suami istri itu. Ia menahan air mata yang akan jatuh. Gula dan kopi juga sirup sebenarnya ada. Namun kehadiran Laila sebagai istri Rohim membuat Janda empat anak itu merasakan patah hati karena cinta terpendamnya pada guru ngaji harus kandas.


__ADS_2