
Malam yang cukup larut, terlihat Mukidi yang kelelahan karena membereskan peralatan yang dikenakan untuk acara siang tadi. Ia merebahkan tubuhnya di lantai teras ruangan santri putra. Para panitia yang tadi ikut membantu membersihkan lokasi yang digunakan untuk acara siang tadi telah pulang. Rohim yang baru saja menyerahkan Alya kepada Laila untuk tidur, ia keluar kerumah karena belum mengantuk. Ia berjalan kearah Mukidi yang tergeletak memandangi langit-langit.
“Mikir op otoh kang?” Tanya Rohim.
“Mikir kira-kira lamaran saya diterima apa tidak yak Kang?” Ucap Mukidi dengan gelisah
"Saya condongnya ke diterima kayaknya Kang. Kalau melihat respon bapaknya Mbak Ajeng kemarin. Insyaallah. Tapi ya apapun hasilnya sampeyan harus legowo. Itu berarti yang terbaik untuk sampeyan." Ucap Rohim.
Besok adalah ketentuan atau jawaban yang akan diberikan oleh Ajeng untuk dirinya. Mukidi bahkan disaat Mahalul Qiyam menangis tanpa bersuara. Ia berharap bisa segera menikah. Karena ibunya sudah mulai tua, ia juga malu. Karena predikat bujang tua pun melekat pada dirinya. Yang ia khawatirkan justru bukan dirinya yang menjadi objek perbincangan para ibu-ibu melainkan hati sang ibu. Saat perempuan yang telah melahirkan dirinya itu harus pulang kerumah ketika dari luar bertemu tetangga dan mengatakan bahwa anaknya tak laku-laku.
"Kang... " Ucap Mukidi yang menoleh ke arah Rohim yang juga ikut merebahkan diri di sisinya.
Rohim menoleh ke arah temannya itu.
"Aku minta maaf, bibir ini kayaknya susah sekali untuk manggil sampeyan dengan Abi... seperti permintaan nya Gus Imam tadi siang." Ucap Mukidi.
Rohim malah tersenyum dan mengeluarkan suara tawa sedikit terkekeh-kekeh.
"Saya lebih nyaman di panggil Kang. Lah saya itu kadang merasa bingung kalau sudah sama-sama jama'ah. Saya kadang pinginnya seperti ini kang. Ngobrol ya biasa, kadang ketemu jama'ah yang usianya lebih tua dari saya, pasti akan berakhir obrolan itu dengan nggah, nggeh... Lah istri saya itu loh sampai kadang kalo sampeyan ga ke pondok, malah bingung. 'Mana Kang Kidi ya... Biar bisa ngerasain kayak orang-orang ngobrol biasa dan bercanda.' " Ucap Rohim yang lalu bangun dan duduk. Ia mengeluarkan rokok dari sakunya.
Mukidi pun bangun dan ikut mengambil sebatang rokok yang terdapat gambar jambu merah di bungkusnya. Dua lelaki itu justru sedang menikmati rokok mereka. Sedangkan di suatu kediaman yang tak lain adalah rumah Ajeng. Satu keluarga itu sedang berdiskusi.
"Bagaimana Jeng? Kamu sudah punya keputusan? Jangan sampai besok Nak Anwar datang, kamu malah belum ada keputusan." Ucap Ayah Ajeng dengan penuh harap.
__ADS_1
"Apakah ayah dan Ibu tidak malu karena punya menantu tapi tidak sarjana?" Tanya Ajeng hati-hati.
Ia pun sebenarnya bingung. Karena baginya Mukidi pria yang baik, bertanggungjawab juga terlihat penyayang. Disamping itu pemahaman Mukidi tentang Agama yang bagi dia minim ilmu agama cukup bisa membimbing dirinya. Akan tetapi status sosial menjadi keraguan Ajeng.
"Kamu atau Ayah dan Ibu yang kamu khawatirkan?" Ucap Ayah Ajeng sambil menikmati secangkir kopinya.
"Ya nanti malah jadi bahan omongan orang. Anak Ayah ini akhir tahun wisudah. Suaminya cuma tamat SMA terus juga ga ada kerjaan tetap." Ucap Ajeng pelan.
"Ibu dulu pilih ayah mu bukan karena dia sarjana atau PNS. Tapi karena sikapnya yang baik, sopan. Banyak yang lebih kaya, lebih tampan dari ayah yang melamar ibu. Tapi kalau mereka bertandang kerumah. Mereka tidak sopan dengan kakek dan nenek mu. Dan Alhamdulillah pilihan ibu tepat sekarang." Ucap Ibu Ajeng sambil mencoba memberikan keyakinan pada anaknya bahwa tingginya pendidikan calon suami, tampannya calon suami. Tak menjamin akan hidup bahagia.
Ajeng pun kembali mengingat selama ia KKN di desa itu. Terlihat sosok Mukidi begitu menyayangi ibunya. Bahkan beberapa kali ia akan berhenti melayani orang yang akan mengeprint, karena ibunya memanggil butuh bantuan.
“Ayah lihat dia pria yang mandiri, disamping itu dia ayah acungkan jempol. Berani lamar kamu langsung. Bukan malah sibuk menyatakan cintanya seperti kebanyakan lelaki yang suka kamu.” Ucap Ayah Ajeng.
“Hidup di desa kalau rezekinya kota, ya lebih baik di desa Jeng. Lah Ayah loh bisa melihat channel youtuube Ayah berkembang pesat. Apalagi channel milik Nak Anwar itu konsisten dan jarang ada yang menekuni pasti dia sudah punya penghasilan dari channenya. Ayah lihat di beberapa negara, justru orang-orang dapat uang dari channel mereka. Itu kedepannya bisa jadi lahan pekerjaan bahkan profesi pekerjaan.” Ucap Ayah Ajeng.
Ajeng pun sebenarnya masih ragu, tetapi belajar dari pengalaman teman-temannya yang pacaran ia lihat banyak hal-hal yang dibuat sangat indah. Padahal ada kepribadian yang ditutupi agar terlihat sempurna, baik, dimata pacarnya. Sedangkan Mukidi, Ajeng bisa tahu semua kebiasaan lelaki itu, karena seringnya ia berinteraksi dengan ketua karang taruna desa Kali Bening itu. Belum lagi kepandaian Mukidi dalam mengetik dan menggunakan komputer. Ia yang mahasiswa saja tak bisa selincah Mukidi. Disamping itu Ajeng merasa jika ia rasa di cintai akan lebih baik daripada mencintai.
Maka keesokan harinya, Ajeng pun menerima kedatangan Mukidi yang alias Ahmad Anwar dengan menggunakan baju putih. Ia telah mengirim pesan pada Mukidi jika ia akan memakai baju Putih jika menerima lamaran lelaki itu, dan akan mengenakan baju berwarna merah jika menolak lamaran Mukidi. Hari itu hari bersejarah bagi Mukidi. Ia yang pesimis akan diterima lamarannya oleh Ajeng merasa terharu. Kedua orang tua Ajeng pun menanyakan perihal Mukidi kapan akan melamar putri satu-satunya.
“Mak e dan Kang Rohim bilang, jika memang di terima, maka lebih cepat lebih baik. Kalau memang Bapak dan ibu setuju, minggu depan saya akan mengajak Ibu saya kemari untuk melamar secara resmi.” Ucap Mukidi sambil mengelus-elus ujung lututnya utnuk menghilangkan rasa nervous.
Akhirnya kedua orang tua Ajeng pun setuju. Mukidi betul-betul datang seminggu kemudian di kediaman Ajeng Bersama keluarganya. Dan malam itu tak di temani Rohim karena sang istri sedang akan melahirkan. Disaat proses lamaran itu, pihak Mukidi yang memang dari rumah telah berunding jika mereka ingin pernikahan di lakukan satu bulan kemudian. Hal itu karena Rohim yang menyarankan. Kejadian batalnya pernikahan Mukidi yang dahulu pun membuat, Mukidi dan sang ibu setuju. Namun orang tua Ajeng justru sedikit gelisah. Ia pun meminta waktu pada Mukidi terkait permintaan dari pihak Mukidi.
__ADS_1
Saat ia dan Mukidi sedang di ruang tengah, ia bertanya pada calon menantunya.
“Sebelumnya Bapak minta maaf, bukan maksud untuk apa-apa tapi kalau kalian menikah bulan depan. Ajeng belum selesai kuliahnya. Lalu bagiamana dengan kuliahnya. Apalagi nak Anwar mengatakan untuk setelah menikah Ajeng bisa ikut Bersama nak Anwar ke Kali Bening.” Ucap Ayah Ajeng pada Mukidi dengan hati-hati.
Mukidi pun menunduk, ia merasa malu dan rendah diri. Ia tahu mungkin biaya kuliah juga biaya hidup tetapi ia sudah mantap bahwa akan berusaha menjadi suami yang baik.
“Insyaallah Pak, saya akan berusaha mencari nafkah untuk Ajeng dan tetap menyelesaikan kuliahnya. Sementara dia kuliah, dia bisa tinggal disini dulu. Saya tidak tahu apkaah bisa memberikan rezeki berlimpah untuk Ajeng, tetapi saya akan berusaha maksimal dan tetap mencari yang halal masalah banyak atau tidaknya itu saya pasrahkan pada Gusti Allah.” Ucap Mukidi mantap.
Sang ayah pun tertegun, ia justru menyesal mengungkapkan isi hatinya. Ternyata calon menantunya memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.Ia pun yang mendengar penuturan Mukidi yang mantap. Akhirnya setuju pernikahan itu dilangsungkan satu bulan kemudian.
Sepulang dari acara lamaran pun, para tetagga juga keluarga Mukidi ikut mampir ke rumah sakit untuk melihat kondisi Laila yang di bawa ke kota untuk melahirkan anak ke 3. Saat tiba dirumah sakit , Rohim ikut senang mendengar kabar bahwa pernikahan akan dilaksanakan secepatnya. Ketika akan pulang Mukidi sempat bertanya pada Rohim.
“Kang, saya bingung mas kawinnya. Ajeng bilang terserah berapa tapi dia minta bentuknya emas. Mau saya ingin yang lebih dari kemarin. Tapi takut kira-kira calon mertua bakal tersinggung tidak untuk serah-serahan. Karena calon mertua juga tidak minta nominalnya berapa.” Ucap Mukidi.
“Memang Rasulullah juga pernah bersabda bahwa sebaik-baik perempuan adalah yang paling murah maharnya. Namun sebagai lelaki kang, seklaipun perempuan atau calon istri kita tidak meminta. Apa salahnya jika kita mampu, kita memberikan lebih. Lah wong hasil dari youtube belum laki proyek pengadaan barang di kecamtaran kemarin baru cairan toh?” Goda Rohim sambil tersenyum.
Laila pun ikut menambahkan.
"Lah besok itu, sampeyan Bakal ada yang masakin, buatkan kopi, merhatiin kang. Lah ga harus mengandung, ga harus momong. Tahu-tahu udah dewasa dan bisa dijadikan teman hidup. Ga salah kalau memang mau memberikan yang menurut sampeyan itu bisa membahagiakan calon mertua dan istri. Lah nyatanya sampeyan sekarang rezekinya lumayan lebih dibandingkan dahulu."
Sungguh Mukidi menjelma menjadi lelaki yang bergerak mencari peluang yang menghasilkan uang tidak dari Bertani. Ia yang memang tak mendalami bidang bertanian mencoba mencari sesutau yang baru. Satu saran dari Pak Toha untuk mendirikan sebuah CV untuk ATK yang bisa mengikuti tender di pemerintahan dan swasta, tahun itu menghasilakn untung yang menggiurkan. Bahkan ia justru belajar cara untuk persentasi apa yang ia tawarkan pada beberapa kantor terkait harga atau peawaran cv nya. Laila yang biasa di jawa berorganisasi memang memiliki pengalaman untuk berbicara di depan umum. Dan itu ia berikan pada Mukidi. Hanya saja sahabat rohim itu sering rendah diri karena merasa dari desa, belum lagi tampang yang pas-pasan, warna kulit yang sedikit gelap membuat ia kadang menciut urusan percintaan.
Mukidi pun akhirnya melansungkan pernikahan di bulan depan. Akan tetapi bukan Mukidi jika tak membuat beberapa orang bisa tertawa. Banyak kejadian yang unik dan menjadi memori tersendiri, khususnya Rohim dan istri. Karena Pagi Ketika pernikahan akan berlangsung, Rohim tak bisa berangkat Bersama karena putri ketiga mereka sedang tak sehat.
__ADS_1