
Hati ibu mana yang tak merasa sedih. Sekujur tubuh puteranya terdapat koreng atau luka. Saat Umi Laila mengganti pakaian Furqon. Di ketiak kiri dan kanannya di berikan kapas. Bagian yang lembab itu telah bernanah. Bau amis cukup menyengat. Ia pun membersihkan tubuh Furqon dengan hati-hati. Kedua pipi Umi Laila pun telah basah karena butiran hangat yang jatuh dari sudut matanya.
Sulung Umi Laila itu hanya menutup rapat bibirnya. Ia hanya meringis, tak ada rintihan ketika Umi Laila memberikan saleb pada bagian ketiak, dan di bagian ruas-ruas jari. Saat selesai, Ibu jari Furqon menyapu pipi Umi Laila.
"Maaf kan Furqon ya Mi. Jadi membuat Umi bersedih." Ucap Furqon pelan.
Umi Laila duduk di sisi putranya. Ia usap pelan rambut Furqon.
"Tidak, Umi yang minta maaf. Kemarin-kemarin tidak ada buat Furqon ketika anak Umi ini sering sakit." Ucap Umi Laila.
Abi Rohim menjelaskan jika selama ini, putra mereka sering sakit di pondok. Tetapi saat dihubungi lewat telepon, Furqon tak mengadu atau mengeluh. Ia ingat bagaiamana Umi dan Abinya sering memberikan nasehat kepada para santri untuk kuat rekosoh atau hidup prihatin ketika mondok agar kelak setelah boyong atau selesai mondok, tidak kecewa, tidak kaget jika takdir tidak seindah impian.
"Yai nya Furqon bilang dirawat dulu Mi. Nanti kalau sudah sembuh baru diantar ke pondok lagi." Ucap Abi Rohim.
"Ih... bau apa ini Umi.... " Celoteh Ayra yang baru pulang dari mengaji di Masjid. Ia ikut ngaji bersama anak-anak yang berusia SD. Lulu, Ayu dan beberapa santri yang telah khatam dan di wisudah, membantu untuk mengajar anak-anak yang masih Iqro.
Ayra tampak menutup hidungnya. Furqon tersenyum melihat Rahmi yang datang dari arah belakang Ayra. Adik kandungnya itu terlihat dengan rambut panjangnya yang sedikit keriting terurai sehingga terlihat begitu lucu, belum lagi jilbab yang di ikatkan pada bagian rok seperti celemek membuat Furqon merasa gemas dengan kelakuan Rahmi.
"Rahmi.... itu rambutnya bisa mobat mabit loh kalau kena angin." Ucap Furqon seraya menatap adik kandungnya.
"Kang Furqon, itu kenapa badannya?" Tanya Rahmi penasaran. Ia melihat wajah Furqon dipenuhi seperti cacar atau luka.
"Ini namanya lagi tirakat Dik, menghapus dosa kalau Mas bersabar. Eh tunggu, tadi Dik Rahmi panggil Kang?" Tanya Furqon penasaran.
"Lah iyo Kang. Kang, kang santri dipanggil 'kang'. Mosok manggil kakaknya Mas. Yo biar enak Kang juga." Ucap Rahmi ceplas ceplos. Tangan kanan dan tangan kirinya pun sibuk membenahi rambutnya. Ayra pun melihat bagian telapak kaki Furqon.
"Kang Furqon sakit, jadi dijemput sama Abi?" Tanya Ayra yang menjawab pertanyaan nya tadi.
Furqon mengangguk.
__ADS_1
"Ini kalau Dokter Ayu pernah cerita, bakteri Kang. Kang Furqon pasti pakai peralatan mandi, atau apa-apa yang untuk kebersihan bareng-bareng sama teman. Iya ga Kang?" Tanya Ayra yang terlihat kedua pupil matanya membesar mengamati bagian ujung telapak kaki Furqon.
"Wah wah, mau jadi dokter berarti Dik Ayra ini." Ucap Furqon.
Ayra justru mencebik kan bibirnya. Ia beranjak ke pangkuan Abi Rohim. Beberapa hari tak bertemu membuat ia rindu mendengar cerita atau apapun itu dari Abi Rohim. Rahmi pun ikut bergelayut di punggung Abi Rohim.
"Bi, tidak beli Oleh-oleh Bi?" Tanya Ayra polos.
Bocah yang masih berusia 5 tahun, ia masih begitu lugu.
"Oleh-oleh nya biar cerita dari Kang Furqon. Ini ada sangkut pautnya sama soal bakteri yang Ayra sebut tadi." Ucap Abi Rohim.
Furqon pun menoleh ke arah Umi Laila.
"Iya Mi, Furqon biasa satu handuk, sabun mandinya bareng-bareng dengan temen yang sepertinya jarang dapat kiriman lebih Mi. Punya dia selalu hilang Mi." Ucap Furqon.
Putri Munir itu begitu cerdas. Rasa ingin tahunya begitu besar.
Umi Laila dan Abi Rohim saling pandang. Ayra termasuk anak yang aktif. Sedari balita, ia tak bisa duduk anteng atau diam. Ia akan sibuk ketika Umi ikut ke majelis yang akan di isi oleh Umi Laila. Kali ini, kembali sepasang suami istri itu dibuat kagum dengan kecerdasan Ayra dan Furqon.
"Umi, Hadist nya, Mi?" Tanya Ayra ke arah Umi Laila.
^^^"قال "مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ" ^^^
Jawab Umi Laila. Namun suami istri itu terpana akan penjelasan dari Furqon.
"Rasulullah bersabda 'Muslim yang paling utama adalah seorang muslim dimana orang-orang muslim (lainnya) selamat dari keburukan mulut dan tangannya." Jawab Furqon mantap dan cepat.
Abi Rohim dan Umi Laila terharu. Ia bersyukur karena baru satu tahun anaknya di pondok kan ke pesantren yang tak hanya fokus pada hapalan al Quran tetapi juga adab, akhlak para santri.
__ADS_1
"Masyaallah. Anak-anak Umi betul-betul cerdas." Ucap Umi Laila penuh haru dan rasa kagum.
"Maksudnya keburukan mulut dan tangan apa Mi? Mencuri?" Tanya Ayra lagi yang merasa geregetan pada bagian ujung jempol Furqon. Ayra mengelupas kulit atau luka yang mulai kering.
"Dik Ayra... sakit... " Ucap Furqon yang reflek menarik kakinya.
"Hehe, maaf Kang. Tapi sepertinya sudah kering." Jawab Ayra.
Umi Laila kini mengolesi saleb di bagian telapak kaki putranya. Ayra baru sadar, bau yang tak sedap dari tadi adalah aroma saleb yang ada ditangan Umi Laila. Ia tampak memundurkan kepalanya saat ia mencoba mencium saleb itu.
"Maksudnya, setiap muslim yang paling utama adalah seorang muslim yang tidak merugikan orang lain, baik melalui lisan atau tindakannya. Kita diminta untuk mawas diri, introspeksi diri. Sudah benar apa belum. Sukur-syukur bisa memberi manfaat kepada orang lain." Jawab Umi Laila.
"Rasulullah bersabda خَيْرُ النَّاسِ اَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ" Timpal Furqon semangat.
"Sebaik-baik orang adalah yang dapat memberi manfaat kepada sesama. Lebih baik lagi jika kita mampu menciptakan kebahagiaan orang lain, salah satunya meringankan beban orang lain." Jawab Umi Laila lagi.
"Seperti Umi dan Abi yang selalu menolong siapa saja dan selalu melakukan hal-hal yang bermanfaat. Berarti Kang Furqon menolong temannya karena sering lihat Umi dan Abi suka menolong kan?" Tanya Ayra pada Furqon.
Anggukan dari Furqon membuat Ayra merasa senang. Kedua netra Ayra berbinar. Ia memeluk Umi Laila dari belakang sehingga ia berada di posisi punggung Umi Laila. Melihat Abi Rohim yang telah berdiri dengan posisi Rahmi berada di punggungnya. Umi Laia pun memegang tangan Ayra dan satu tangan lainnya memegang punggung Ayra.
"Wah, Umi dan Abi bangga sekali. Anak-anak Umi dan Abi bisa cerdas dan berakhlak baik." Ucap Umu Laila.
Ayra berteriak ala anak kecil karena senang. Ia bahkan mencium pipi kanan Umi Laila beberapa kali.
"Siapa dulu Umi ku.... Umi ku, Idola ku." Ucap Ayra dengan suaranya lantang. Umi Laila bahkan beberapa kali membenarkan posisi tangannya untuk menahan berat tubuh Ayra yang bergerak. Rahmi juga melakukan hal yang sama namun ia melakukan pada Abi Rohim. Usia mereka yang hanya terpaut satu tahun lebih membuat mereka seperti kembar.
Satu ruangan itu pun tertawa. Suasana yang sangat dirindukan oleh Furqon.
'Furqon juga mengagumi Umi.' batin Furqon.
__ADS_1
Dibalik tawa Umi Laila, ada sedikit rasa khawatir. Ayra belum tahu jika ia bukan putri kandungnya. Umi Laila masih menunggu moment yang pas untuk membahas perihal orang tua kandung Ayra.