
Saat telah selesai membongkar tenda di depan dan belakang rumah. Abah Ucup pun mengobrol dengan menantunya sambil menikmati Mendut sisa acara ijab kemarin yang telah di hangatkan oleh Laila.
Rohim menikmati kopi buatan istrinya. Tiba-tiba Bu Salamah muncul dari dalam rumah.
"Bah, ayo kita ke rumah Bu Leni. Ini tendanya belum dibayar. Nanti takut uangnya terpakai." Ajak Bu Salamah pada suaminya.
"Ya wes. Abah tinggal dulu ya Him"
"Ya Bah. Hati-hati."
Abah Ucup pun pergi bersama Bu Salamah. Rohim pun menikmati kopinya. Laila yang dari belakang rumah pun membawa jemuran yang telah kering karena cuaca cukup panas. Laila melihat di teras hanya ada Suaminya seorang diri.
"Abah sudah berangkat Mas?"
"Sudah. Baru saja. Kamu Ndak lelah apa dari tadi beres-beres terus?"
Tanya Rohim pada Laila yang dari pagi tadi ada saja yang dikerjakan istrinya itu. Entah itu menyapu, membuang sampah, mengepel dan mencuci lap-lap kotor.
"Sudah biasa kang. Kalau sudah beres tenang kalau mau ngapa-ngapain." Jawab Laila pelan.
__ADS_1
Baru ia ingin membuka satu Mendut. Pipinya Kembali di buat merah.
"Lah memangnya kita mau ngapain?"
"......"
Rohim tersenyum melihat Laila tersipu malu.
Tiba-tiba Waroh kembali memberikan sebuah provokasi kepada adik dan adik iparnya.
"Eala Cing.... Enak e santai-santai. Gawe ne monak-manak ae. Mangan Eneng seng ngekei. Urip mu Cing...."
[Eala Kucing. Enaknya santai-santai. Kerjanya cuma melahirkan, melahirkan saja. Makan tinggal makan. Ada yang memberi. Hidup Mu cing....]
"Jangan terlalu diambil hati. Sabar. Negatif thinking itu bisa bikin hati kita semakin berburuk sangka." Rohim menenangkan hati istrinya. Ia paham betul bahwa Waroh dari pagi sengaja menggunakan kucing sebagai alasan padahal ia ingin menyindir Laila dan Dirinya. Namun ia tak ingin berburuk sangka. Ia hanya berpikir ada sebab dan akibat. Ia yang dulu tak jadi melamar Waroh maka ini lah akibatnya. Luka di hati Waroh harus dirasakan sang istri.
Padahal dari sejak kecil, Waroh yang selalu iri pada Laila karena dianggap orang tuanya pilih kasih dengan Laila. Padahal orang tua Mereka tidak pilih kasih. Melainkan sedari kecil, Laila lebih mudah di suruh-suruh. Di suruh ke warung mau. Disuruh membersihkan rumah mau, disuruh menanak nasi dan sayur mau. Sedangkan Waroh selalu menolak disaat orang tuanya meminta bantuan. Sehingga tanpa Waroh sadari rasa jengkel orang tuanya setiap kali di nasehati selalu membantah, setiap berbicara selalu menyakiti hati kedua orang tuanya, membuat hatinya keras. Ia susah mendapatkan hidayah.
Laila menunduk malu.
__ADS_1
"Besok kita bisa ke Sumber Sari mas. Laila kasihan mas kalau harus lebih lama disini." Ucap Laila lirih.
"Apa tidak apa-apa?"
"Nanti biar Laila yang berbicara sama Abah dan Ibu. Biar Ndak disangka Mas nya yang ga betah. Biar alasannya santri nya mas kasihan kalau libur terlalu lama. Jadi Abah sama Ibu Ndak tersinggung kita pindah begitu cepat."
Usapan lembut pada punggung tangan Laila memberikan ketenangan di hati Laila.
"Mas terserah kamu Dik. Mas hanya ingin, Kita menjalani rumah tangga kita dengan bahagia. Walau rumah tangga itu tempatnya masalah. Karena kalau menikah berharap ga punya masalah itu sama saja mengharapkan kenyang tapi ga makan. Hehehe... "
Rohim yang sudah membuka bungkus satu buah kue Mendut mengarahkan pada Laila. Laila pun mengucapkan basmalah dan mengigit kue Mendut yang di suapkan Rohim pada dirinya.
Lalu Rohim pun mengarahkan Mendut yang bekas digigit Laila ke arah wajahnya. Seolah ia berbicara dengan kue Mendut itu.
"Apa rasanya Ndut? Aku saja belum pernah di gigit Ning Laila. Kamu sudah merasakan bibir manis Dik Laila."
Rohim pun memasukan potongan kue Mendut sisa gigitan Laila tadi kedalam mulutnya dan ia kunyah perlahan. Kembali Laila tersipu malu di buat rayuan maut Rohim.
"Ternyata rasa bekas gigitannya saja manis dan enak Dik. Apalagi di gigit ya..."
__ADS_1
Laila tak berani mengangkat wajahnya. Ia menunduk malu. Rohim pun tertawa melihat ekspresi malu-malu sang istri.
"Sungguh nikmat jatuh cinta setelah halal. Pacaran setelah menikah." Batin Rohim sambil menyeruput kopinya.