
Sore hari setelah berbuka puasa. Laila menyiapkan dua rantang stainless. Ia akan mengantarkan ketupat, rendang juga sayur serta sambal yang telah ia masak untuk hari raya besok. ia akan mengantar rantang itu ke Sumber Waras.
Ia diantar oleh Ayu mengendarai motor Rohim. Ketiga anaknya ia titipkan dengan Lulu. Tiba di sumber Waras. Laila terlebih dahulu ke kediaman Abah Ucup. Ia pun menyempatkan diri untuk berbincang sejenak. Ibu Halimah meminta sang anak untuk menginap di kediaman nya beberapa malam karena Rohim juga tak ada dirumahnya.
"Ada Lulu dan Ayu Bu dirumah." Ucap Laila pada ibunya. Ia pun berpamitan pada Abah Ucup dan Bu Halimah.
Ia bermaksud mengantar rantang berisi makanan dan ketupat yang telah ia siapkan untuk saudara kandung satu-satunya. Namun apa hendak di kata. Rasa tidak suka dari sang kakak begitu melekat pada diri Waroh. Hingga ia pun mau tidak mau membenci Laila ketika mereka sudah menikah dan memiliki anak..
Waroh kembali tak menyambut baik apa yang adiknya berikan.
"Ndak usah, bawa kembali rantang mu. Kamu itu lah wes tahu setiap tahun tak tolak kok masih diantar terus. Mbok mikir. Aku ga akan mau makan makanan mu. Ga sudih aku!" Ucap Waroh penuh cibiran.
Hari raya kali ini. Laila memang selalu mengantar apa saja makanan saat memang ia rindu rumah apalagi momen hari lebaran. tentu bagi Laila Waroh sama seperti Abah Ucup. Ia saudara tertuanya. Ia ingin memberikan juga makanan yang ia masak.
"Ya sudah kalau kakak tidak mau. Saya bawa pulang lagi. Saya minta maaf ya Kak kalau sebagai adik saya. ada salah dan khilafnya. Besok hari raya, saya mohon dimaafkan ya kak." Ucap Laila lirih.
Waroh mendengus kesal. Ia tak terlalu memperdulikan Laila. Ia lebih fokus ke bumbu rendang yang sedang akan ia tumis. Laila pun tak ingin menambah mood Waroh bertambah jelek. Ia berpamitan, Ayu yang menunggu diteras Abah Ucup bisa melihat bagaimana Umi nya begitu luar biasa. Tak ada gurat kecewa, tak ada rasa kesal. Ia sudah bisa menebak. Bahwa isi rantang itu masih sama.
"Ya Allah Gusti.... Terbuat dari apa hati Umi ku..." ucap Ayu yang segera bergegas menuju motor ketika Umi Laila telah berada di motor.
Ia tadi sudah berpamitan pada Abah Ucup sehingga ia pun langsung pulang ke kediamannya bersama Ayu. Namun tiba di kediamannya. Ia hanya menitikkan airmata ketika meletakkan rantang di dapur. Saat malam takbir, Laila masih mengganti seprai kamar nya dengan yang baru. Telepon nya berdering. Ia angkat panggilan dari Rohim dengan mengucapkan salam.
__ADS_1
"Sehat Mi?"
"Alhamdulilah sehat. Abi?"
"Alhamdulilah sehat. Bagaimana jadi tadi kerumah Abah?"
"Jadi, diantar Ayu."
"Lalu bagaimana dengan Kak Waroh? Apa masih ditolak rantangnya?"
Seketika pertanyaan suaminya yang juga sudah hapal sifat Waroh pun. Ia menitikkan air matanya kembali.
"Ya wajar toh Bi. Aku ini manusia biasa. Aku ini juga perempuan biasa."
"Lah Sayyidah Khadijah, Sayyidah Fatimah, Sayyidah Aisyah juga manusia biasa Mi... "
"Tapi Bi..."
"Sudah Mi... Maafkan setiap apa yang kak Waroh lakukan. Kak Waroh itu kan saudara mu toh... Kalau kamu merasa sakit lah kak Waroh juga yang dapat imbal baliknya karena menyakiti adiknya." Ingat Rohim.
Sepasang suami istri pun kembali saling mengingatkan juga saling memberikan semangat satu sama lainnya. Begitu indah toleransi beragama di Kali Bening. Disaat pagi akan shalat Idul Fitri. Jangan aneh karena akan banyak masyarakat yang non Muslim yang sibuk di area parkir mengatur motor jama'ah yang akan shalat idul Fitri.
__ADS_1
Umi Laila yang sudah hapal kegiatan itu sebelum berangkat ke masjid sudah membuatkan dua teko kopi dan teh untuk di bawa ke area parkir. Dan tak lupa jajannya.
Bahkan sandal jama'ah masjid Nurul Iman yang biasanya di tata atau disusun rapi oleh para santri Kali Bening. Pagi itu para remaja non Muslim ikut menyusun sandal dan sepatu itu agar nanti ketika jama'ah selesai shalat tak bingung mencari pasangannya.
Beberapa bapak-bapak bahkan memasang terpal ketika melihat di area tenda depan masjid terlihat jama'ah kepanasan kena pancaran sinar matahari pagi saat sedang menunggu waktu shalat id..
Begitu Guyup, akur, rukun di Kali Bening. Bahkan Dokter Ayu sudah hadir ke kediaman Umi Laila setelah selesai shalat Id. Ia memasak ketupat juga opor ayam dan sambal ati ampela untuk di berikan kepada Umi Laila. Sebuah toleransi yang dibangun dengan baik, bahkan dokter Wayan tampak duduk di teras rumah Umi Laila sambil menikmati rendang ayam buatan Umi Laila. Ia juga mengingat bagaimana bijaksananya sang suami dari Laila.
"Andai banyak Ulama seperti Kang Rohim itu. Maka Indonesia ini bisa tentram sekali. Saya ingat ketika waktu itu ada Pak Made yang meninggal dunia. Itu saya bingung kok dikasih uang sama pak Toha. Ternyata kata Pak Toha ini adalah bermula dari Kang Rohim."
Laila pun menceritakan jika dulu awal-awal ia menikah, kadang kalau ada orang yang ekonominya lemah meninggal dunia. Itu akan bingung untuk kain mori dan yang lainnya. intinya untuk mengurus jenazah Sampai proses pemakaman. Hingga Rohim memberikan ide pada bapak-bapak di desa tersebut agar bisa mengadakan Rukun Kematian. Dimana kas yang diambil setiap bulan akan digunakan untuk setiap warga yang meninggal untuk mengurus jenazah.
Namun terjadi perdebatan saat ada warga non muslim yang juga tinggal disana dan ingin ikut. Rohim pun menyarankan bahwa itu bukan untuk agama tapi bermasyarakat. Maka para masyarakat non muslim pun bisa ikut rukun kematian itu. Dan ketika ada yang meninggal juga mendapatkan uang sebesar nominal yang sama dengan warga muslim yang meninggal. Maka disitu Pak Wayan bisa geleng-geleng. Bagaimana Islam begitu indah, begitu lembut, begitu ramah hidup berdampingan dengan non muslim.
"Kalau di desa kami dulu Umi... Saya itu sampai geleng-geleng kepala. Lah diundang kenduri tapi nanti yang ngundang bilangnya 'nanti ga usah datang pak dokter, biar berkatnya diantar'. Saya merasa kayak-kayak kami non muslim ini najis atau menjijikan betul. Tapi disini, melihat Abi Rohim. Kami baru merasakan bagian dari Ketuhanan yang Maha Esa dan Pancasila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia." Ucap Dokter Wayan dengan semangat.
Ia betul-betul merasa betah dan nyaman tinggal di Kali Bening. Karena banyak Agama bisa hidup berdampingan dan akrab. Juga tak memandang ras juga suku.
Laila hanya tersenyum getir.
"Disaat orang-orang mengagumi kita Bi, saudara sendiri malah membenci kita. Semoga Kak Waroh terbuka hatinya suatu hari nanti. Aamiin." Ucap Umi Laila dalam hatinya.
__ADS_1