LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 58 Mukidi Bahagia


__ADS_3

"Maksud bapak? Cah ndeso?" Tanya istrinya.


Ayah dari Ajeng itu pun mengeluarkan beberapa kertas dan ia tunjukkan itu adalah beberapa hasil print dari web yang Mukidi buat di internet yang berjudul 'cara memanfaatkan lahan kosong menjadi penghasil uang'. Dan Ayah Ajeng menceritakan bahwa saat beberapa bulan lalu mereka terlilit hutang bank. Ia yang pensiun kaget karena banyaknya kebutuhan. Sehingga tanpa ia sadari ia beberapa bulan tak mampu membayar cicilan pinjaman dan akan berujung dengan di sita nya rumah mereka yang di jadikan Agunannya.


Ayang Ajeng melihat di video YouTube yang di upload oleh Mukidi tentang lahan yang di buat menjadi kebun semangka. Dan lelaki paruh baya itu mengikuti apa yang ia tonton. Ia menyewa orang untuk menemani dirinya mengurus lahan yang ia sulap menjadi lahan kebun semangka.


"Saya tidak menyangka jika dalam waktu tiga bulan. Saya mendapatkan untung sebanyak 200 persen. Bayangkan 200 persen itu sudah bersih...Saya begitu ingin berjumpa dengan nak Kidi dan belajar banyak hal. Saya yang memiliki lahan nganggur sebanyak 3 hektar. dan bermodal hasil jual motor saya dan istri. Saya bisa melunasi hutang bahkan bisa beli motor baru cash." ucap ayah Ajeng dengan wajah berbinar-binar.


Ajeng yang dari tadi duduk di sisi ayahnya hanya mengamati obrolan mereka. Mukidi baru terlihat PD. Ia menaikan kepalanya. Sedari tadi ia tak berani untuk menatap lawan bicaranya. Ada rasa minder sebagai orang desa. Ia tak menyangka maksud hati ingin menyimpan semua kenangan bersama ibunya. Ilmu-ilmu bertani yang ibunya miliki dari sang ayah. Ia simpan dalam video dan ia seolah-olah berbagi. Ternyata itu membuat orang lain terinspirasi. Padahal ibunya lah yang mengerti masalah pertanian.


Ia baru beberapa tahu menekuni pertanian dan merasa tak cocok dengan hatinya. Sehingga mencari apa yang ia sukai namun bisa menghasilkan uang. Maka salah satunya yaitu melalu komputer. Ia begitu tertarik dengan komputer. Hal itu pun salah satunya karena saran Rohim. Saat Mukidi mengeluh hasil panen mulai sering tak sesuai karena mereka di desa. Ada banyak biaya operasional yang membuat mereka sebagai petani merugi.


Dan Rohim mengatakan, coba cari sisi lain yang positif namun bisa menghasilkan uang dan halal. Dan ini awal mula dirinya bisa memiliki penghasilan tanpa harus bekerja dengan orang lain..


"Jadi Nak Anwar ini kemari ada perlu apa?" Tanya Ayah Ajeng. Jadi Nak Anwar ini mau melamar anak saya?" Tanya ayah Ajeng.


Mukidi menjawab polos.


"Ya kalau diterima Pak" Jawab Mukidi.


Rohim tersenyum simpul mendengar jawaban sang sahabat.


"Wah kalau saya terserah sama Ajeng. Saya tidak pernah memaksakan sesuatu. Apalagi menikah. Itu harus suka sama suka." Ucap Ayah Ajeng sambil menoleh ke arah Ajeng.


"Bagaimana Jeng?" Tanya ibunya pada sang putri.


"Ajeng.... boleh minta waktu dulu Kang?" Ucap Ajeng sambil menundukkan kepalanya.


Mukidi melihat pujaan hati dengan rasa penuh harap.


"Ya boleh berapa lama kalau boleh tahu Mbak Ajeng?" Tanya Mukidi.


"Satu Minggu..." Ucap Ajeng melihat Mukidi.

__ADS_1


Mukidi menoleh ke arah Rohim. Rohim pun tersenyum dan mengatakan terserah kepada Mukidi. Akhirnya Mukidi memberikan waktu yang Ajeng minta. Malam itu keluarga Ajeng merasa sangat senang mengobrol dengan Mukidi juga Rohim. Setelah hampir pukul sembilan mereka kembali ke Kali Bening. Dan saat tiba di sebuah toko yang masih buka, Rohim membelikan sikat gigi, sabun dan satu selimut juga bantal.


Mukidi sudah menjadi kebiasaannya. Ketika ia pergi bersama Rohim. Ia akan cepat membayar belanjaan sahabatnya itu. Semenjak ekonominya membaik. Ia rajin bekerja, maka ia selalu royal pada sahabatnya. Karena bagi Mukidi ia begitu banyak berubah dan belajar dari Rohim tentang kehidupan, akhlak juga cara menjalani hidup lebih baik lagi. Namun sahabatnya itu selalu menolak jika diberi uang. Maka moment seperti itulah ia bisa memberikan sahabatnya itu sesuatu.


Selama dalam perjalanan, Mukidi mulai merasa gelisah.


"Diterima ga ya kang?" Tanya nya cemas sambil menatap aspal yang terbentang di hadapannya.


"Berdoa Kang. Insyaallah jodoh tidak akan tertukar. Saya bantu doa." Ucap Rohim sambil menepuk pundak sahabatnya.


"Semoga ga gagal lagi kali ini ya kang."


"Aamiin." Akhirnya setelah mengantar Rohim pulang.


Mukidi pun pulang. Tiba dirumah ibunya yang dari tadi menanti sang anak.


"Di... alhamdulilah kamu pulang. Mak e Ndak bisa tidur. Nunggu kamu." Tanya Bu Sri.


Ibunya pun membawa oleh-oleh martabak dari anaknya yang telah dingin karena jarak kota ke kabupaten mereka hampir dua jam karena jalan yang belum terlalu bagus menuju daerah mereka.


Mukidi yang duduk di meja dapur cepat membuka toples peyek sambil mengangkat satu kakinya ke atas kursi. Bu Sri menyerahkan satu cangkir kopi hangat untuk putranya.


"Bukan itu saja. Tapi ini loh yang jadi Mak e deg deg kan. Takut bom atau apa. Sore tadi ada pak pos mengirim ini. Tak tanya dari siapa dia juga tidak tahu." Ucap Bu Sri sambil keluar dari kamar membawa sebuah amplop


Mukidi melihat amplop tersebut tertulis namaya nya.


To Mr. Ahmad Anwar.


Cah Ndeso Channel.


Dan terlihat sebuah plakat.


Mukidi cepat membaca surat di dalamnya. Yang menyatakan bahwa itu Plakat pertama yang didapat ia sebagai Youtuber, yang channelnya telah mencapai 100.000 subscriber. Plakat itu berwarna perak berbentuk logo YouTube.

__ADS_1


Mukidi memukul pipinya Kanan dan kiri. Ia pun minta di cubit pipinya oleh Bu Sri.


"Mak...Coba cubit pipi ku Mak." Pinta Mukidi.


Bu Sri mencubit kedua pipi anaknya.


"Adoooh... sakit Mak..." Ucap Mukidi.


Bu Sri mendorong kepala anaknya.


"Lah tadi suruh nyubit!" Bu Sri terlihat kesal.


Ia melihat benda yang di pegang Mukidi.


"Jane OPO toh Itu Di?" Tanya sang ibu penasaran.


Mukidi memeluk ibunya. Ia pernah membaca artikel jika ia mendapatkan Plakat itu. Berarti ia akan mendapatkan uang dari channel YouTube nya. Dak ia tak percaya jika ia bisa mendapatkan Plakat itu. Padahal ia memposting hal-hal sepele. Semua kegiatan nya di desa. Dari memancing, berkebun, memasak menggunakan alat sederhana di tengah kebun.


"Aduh.. kamu ini kesambet OPO toh Di?" Gerutu ibu Mukidi karena di peluk erat oleh anak satu-satunya.


"Mak.. Pantas tadi calon mertua ku kok melihat aku sudah seperti artis. Aku sebentar lagi dapat penghasilan dari kerjaan ku yang cuma di depan laptop Mak." Ucap Mukidi senang.


"Maksud mu kamu jadi orang kaya seperti yang sering kamu ucapkan sama Mak e?" Tanya Mak e.


"Iya Mak... Doakan Mukidi bisa jadi artis Mak!" Mukidi pun menangis sambil memeluk ibunya.


Selama ini ia dianggap orang bodoh dan pemalas. Karena ia memutuskan membuka usaha jasa ketik dan print out. Maka ia bisa dari pagi hingga tengah malam berada di depan layar monitor. Di tahun 2009 membuat ia dianggap buang buang waktu. Tak mungkin bisa dapat uang kalau tidak keluar dari rumah untuk bekerja. Dan kali ini Mukidi membuktikan bahwa ia bisa sukses dari ke Istikomahan nya selama menekuni minta dan hobinya. Sehingga air mata ibu yang hampir setiap hari mendengar orang bergosip bahkan mengomentari hidup anaknya yang tidak umum, hari itu bisa ia berikan senyum lebar dan ibunya bisa bangga anaknya sukses bukan karena harta warisan orang tua dan berdiri sendiri.


Bu Sri hanya bersyukur karena mendengar anaknya mendapatkan kabar bahagia.


"Alhamdulilah... Mak ga sia-sia shalat lail tiap malam Di... Poso Senin kamis untuk kamu. Siang malam Mak doa... Hari ini Allah kabulkan doa Mak e. Kamu bisa sukses....".


Hati ibu mana yang tak bahagia saat melihat anaknya juga bahagia. Apalagi mendengar kata jika anaknya akan mendapatkan uang. Walau ia tak mengharap uang tersebut tetapi ada rasa bangga ketika ia bisa mengatakan anak ku sudah punya penghasilan sendiri.

__ADS_1


__ADS_2