LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 52 Sejarah Kali Bening


__ADS_3

Hampir satu bulan dua minggu Laila berada di rumah sakit. Pagi itu ia sedang menunggu jemputan pulang dari Pak Toha. Ia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter dan akan menjalani rawat jalan. Ia diminta untuk kontrol satu Minggu sekali.


Rohim telah menyelesaikan semua urusan administrasi. Tinggal menunggu Pak Toha dan Abah Ucup beserta keluarganya datang menjemput. Laila sudah bisa menggerakkan bagian tangannya. Hanya saja kakinya belum bisa bergerak. Karena menurut dokter yang menangani Laila ada cidera saraf tulang belakang.


Ia bahkan telah melakukan operasi pada bagian saraf tulang belakang. Dan hanya butuh terapi untuk pemulihan sarafnya. Maka dibutuhkan kontrol. Pagi itu Laila bahagia karena ia bisa pulang dan bertemu anak-anak didiknya. Ia juga bisa bertemu dengan Furqon. Selama dirumah sakit. Ia hanya satu kali bertemu buah hatinya.


Selama Laila di rumah sakit. Furqon harus berpindah-pindah. Kadang di kediamannya Bu Toha, kadang Bu Sri, kadang di Sumber Waras. Mau tidak mau karena Bu Salamah juga sedang merawat Waroh yang sedang pasca melahirkan juga. Waroh juga telah memiliki satu anak.


Saat tiba di Sumber Sari, kedua belas anak Laila telah menunggu perempuan yang telah mereka anggap guru. Satu bangunan permanen telah berdiri di sebelah Masjid Nurul Iman. Bangunan yang cukup lebar. Dimana di bangunan itu, Terdapat 2 ruangan yang cukup lebar. Dan dua pintu di arah depan.


Abah Ucup mendorong kursi Laila ke kediaman Rohim dan Laila.


Warga berencana gedung itu untuk Rohim dan Santri-santri Putrinya. Sedangkan Rohim akan tinggal di pintu sebelah. Sedangkan rumah yang dulu ia tempati berencana akan di bongkar oleh warga dan akan di bangun permanen. Laila menangis diatas kursi roda saat Abah Ucup mendorong kursi roda itu ke arah rumah nya. Kedua matanya melihat bangunan yang di depan nya terdapat papan nama Pembangunan Pondok Pesantren.


Laila hanya mampu meneteskan air mata. Ia tak percaya jika warga memberikan bantuan sampai di bangunkan bangunan. Ke enam santri putri yang merindukan Laila, dengan cepat mencium tangan gurunya. Lulu dan Ayu bahkan sampai tersedu-sedu. Mereka bersedih melihat kondisi perempuan yang sekarang harus duduk di kursi roda.


Saat makan siang, Rohim dengan hati-hati Rohim menyuapi sang istri makan siang. Sudah hampir satu bulan lebih guru ngaji itu dengan sepenuh hati menemani, merawat sang istri yang sangat ia sayangi.


"Terimakasih Mas,dan maaf merepotkan mas." Ucap Laila setelah suapan terakhir masuk ke dalam mulutnya.


"Mas yang berterima kasih pada mu Dik. Tidak semua perempuan siap hidup bersusah-payah apalagi menemani suaminya dalam berdakwah. Dan Kamu, kamu perempuan hebat yang pantas Abah saat itu memilihkan dirimu untuk mas. Jika kamu saja kuat, sabar, telaten menemani hari-hari suami mu ini. Kenapa mas tidak bisa sabar dan telaten disaat kamu juga mengalami musibah." Rohim mengucapkan itu sambil mengelap ujung bibir istrinya yang terdapat ada sisa air sop.

__ADS_1


Kembali Rohim melanjutkan kalimatnya.


"Bukan seorang pendaki sejati jika kita naik ke atas puncak bertemu rasa lelah, rasa haus, rasa ingin berhenti. Maka rumah tangga ini akan mencapai tujuan kita jika kita selalu bersama dalam suka dan duka.


Laila kembali terharu mendengar ucapan suaminya. Ia sadar karena selama hampir satu bulan ini ia harus butuh bantuan sang suami. Untuk buang air pun harus dibantu. Beruntung sekarang tangannya bisa ia gerakkan. Namun sang suami sudah terbiasa menyuapi nya.


Sungguh cinta dan kesetiaan serta kasih sayang adalah harta yang paling berharga.


"Jangan menangis. Kamu sudah memberikan kebahagiaan pada ku Dik. Bahkan bagi ku tidak ada celah kebahagiaan yang kamu berikan. Kini kamu juga memberikan aku satu gadis cantik. Dan semoga anak-anak kita akan sehebat ibunya yang tak pernah mengeluh mendampingi suaminya. Yang tak pernah memandang ku rendah, yang selalu menerima berapapun hasil yang ku bawa pulang. Dan yang paling penting, selalu menjaga kehalalan yang suami dan anaknya makan." Rohim mengusap air mata yang kembali jatuh di pipi sang istri.


Laila jarang menangis di hadapan orang lain. Jika ia menangis maka tentu itu sudah menyangkut masalah empati dan simpati. Jarang ia menangis karena disakiti makhluknya. Jika ia tersakiti oleh makhluk Allah. Ia hanya akan menangis dihadapan pemilik muka bumi itu.


Laila selalu berprasangka baik pada Gusti Allah. Maka pegangan teguh nya itulah yang membuat dirinya tetap ceria dan Bahagia juga optimis bahwa suatu saat nanti akan ada jalan keluar dari apa yang sekarang ia jalani.


Beruntung, kebun sawit di tanah Masjid yang di buat dan dirawat Rohim sekarang telah mengahasilkan. Sehingga waktu Rohim di kebun tak terlalu lama seperti dulu. Selama berapa Minggu pasca operasi dan pulang ke sumber Sari. Mereka menggunakan uang yang diberikan ibu-ibu yang berkunjung membesuk Laila. Bahkan untuk membeli susu Alya pun, Rohim dan Laila tak berani menganggu uang yang ada namun itu uang kiriman dari wali santri.


Hari berganti hari, warga pun heran karena kenapa Rohim tak kunjung pindah ke bangunan yang telah mereka bangun. Ada warga yang beranggapan bahwa Rohim tak suka dengan bangunan yang masih alakadarnya di bangun oleh warga. Pak Toha yang kenal betul siapa Rohim, ia pun berinisiatif mengajak beberapa bapak-bapak menemui Rohim, mereka ialah yang membangun gedung calon pesantren yang ada disisi masjid.


Saat menemui Rohim setelah shalat isya. Rohim pun meminta para anak-anaknya untuk ke bagian teras rumah. Maka Laila lah yang mengajar anak-anak itu. Rohim dan Laila begitu Istikomah. Mereka tak akan mengganti atau meliburkan waktu anak-anaknya mengaji. Maka jika Rohim ada kesibukan diundang atau apapun itu. Maka Laila lah yang akan mengisi kelas.


Saat duduk di antara jamaah. Pak Toha menyampaikan apa yang para jamaah ingin tahu.

__ADS_1


"Him. Ini jama'ah bertanya semua. Kenapa kamu tidak pindah ke bangunan yang sudah dibangun untuk kamu dan anak-anak didik mu? Kasihan mereka disini umpel-unpelan (berdesak-desakan)." Tanya Pak Toha hati-hati.


Rohim pun masih dengan ciri khasnya wajah teduh dan senyum yang selalu ia lempar pada orang yang mengajaknya berbicara.


"Lah wong saya dan istri ini statusnya menumpang disini. Yang membangun kan juga bukan saya. Saya tidak berani pak jika tidak diminta. Karena ini tanahnya masjid. Dan Jama'ah nya bukan Pak Toha sendiri. Maka kalau kemarin Pak Toha minta saya pindah. Saya tidak berani. Istri saya bilang jama'ah yang lain bagaimana. Jangan sampai ada jama'ah yang tidak ridho." Jelas Rohim pada para jama'ah masjid.


Seketika para jama'ah itu menundukkan kepalanya. Kembali hati mereka begitu mudah memvonis Rohim dari sudut pandang mereka. Padahal sang guru ngaji begitu hati-hati. Ia selalu merasa rendah bukan berarti rendah diri. Akan tetapi kehati-hatian dalam bersikap, bermasyarakat.


"Masyaallah.... " Ucap Pak Toha terharu.


"Kalau ada yang keberatan berhadapan dengan kami Kang. Lah sampeyan ini orang berilmu di desa kita ini. Pokoknya njenengan silahkan gunakan tanah masjid ini untuk kepentingan njenengan" Ucap salah satu jama'ah yang memang mengikuti dari awal pembangunan gedung calon pondok pesantren Rohim.


Salah satu dari mereka usul.


"Sekalian Kang. Besok saya mau ke kota. Kita buatkan papan nama di depan nya. Biar bisa orang tahu kalau ada pondok pesantren di desa kita ini."


Semua jama'ah menjawab kompak dan setuju. Rohim pun malam itu berdiam diri di masjid Nurul Iman. Dan saat hampi Shubuh ia berbicara pada istrinya tentang apa yang menjadi keinginan Jama'ah masjid. Laila pun setuju dengan nama yang di pilih Rohim untuk nama pondok pesantren mereka.


"Kali Bening.... Bagus mas." Ucap Laila sambil memeluk Alya karena sang buah hati tak bisa tertidur saat minum susu botol tanpa di peluk sang ibu.


Rohim sengaja memberikan nama itu karena di Sumber Sari terdapat sebuah kali yang airnya sangat bening. Atas saran Pak Toha, ia harus mengikutinya. Karena 15 santri lainnya yang bulan kemarin ingin mondok di pesantren Rohim pun akan datang di sumber Sari. Bahkan wali santri yang lelaki ikut gotong royong membangun gedung untuk anak mereka nanti tidur dan menuntut ilmu.

__ADS_1


Dan tanpa disengaja pada tahun yang sama. Ketika Kecamatan mereka mengalami pemekaran. Maka desa Sumber Sari pun di ubah menjadi Desa Kali Bening oleh pemerintah karena melihat adanya pondok pesantren Kali Bening yang begitu banyak kegiatan agamanya. Dan nama Rohim di kecamatan itu juga sudah dikenal banyak orang. Maka sejak saat itu Sumber Sari berubah menjadi Kali Bening.


__ADS_2