
Pagi Itu Di kediaman Mukidi alias Ahmad Anwar pun terlihat ramai. Sebuah tenda di depan rumah Sahabat Rohim itu terpasang cukup besar di halaman rumah Mukidi. Para tetangga dan keluarga juga sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Bahkan mobil-mobil telah berbaris di sekitar kediaman Mukidi.
Pagi itu adalah acara ijab Qabul Mukidi dan Ajeng. Para tetangga dan keluarga akan mengantarkan Mukidi dan menyaksikan ijab qobul anak satu-satunya Bu Sri. Hampir sekitar 19 mobil yang akan mengantarkan Mukidi ke kota. Belum lagi motor-motor yang tak lain adalah para remaja masjid dan pemuda karang taruna yang akan ikut mengantarkan Mukidi.
Pukul menunjukkan tepat di angka 6 pagi. Beberapa orang menanti kedatangan Rohim. Namun sepasang suami istri itu belum juga datang. Hingga tak lama muncul seorang santriwati yang tak lain adalah Ayu. Ia diutus Rohim untuk mengatakan pada Bu Sri bahwa ia akan menyusul dengan mengendarai motor sendiri. Karena Anak ketiganya dalam keadaan kurang sehat.
Mendengar berita itu Mukidi pun menemui pak Toha.
"Pak. Saya minta satu mobil tinggal dulu. Tunggu kang Rohim. Lah kasihan kalau harus mengendarai motor. Terserah mobil siapa." Pinta sang pengantin lelaki yang telah mengenakan jas hitam dan dasi yang senada dengan warna jas milik perias pengantin yang disewa calon mertuanya.
Pak Toha akhirnya memutuskan bahwa dirinyalah yang akan menunggu Kang Rohim. Jadi 18 mobil lainnya berangkat bersama Mukidi. Hampir pukul 7 lewat, Mobil pak Toha pun baru berangkat bersama Rohim. Rohim mau tidak mau tetap harus berangkat. Ia ingin memberikan semangat dan doa untuk sahabat nya di hari bahagianya. Belum lagi, Mukidi yang sudah meminta izinnya agar kelak Rohimlah yang menjadi saksi ketika ijab qobul nya.
Namun saat baru saja setengah jam perjalanan, Suara ponsel Rohim berbunyi. Suami Laila itu mengangkat panggilan dari Mukidi.
"Kang Kidi... Ada apa ya? " Ucap Rohim pelan sambil membenarkan posisi duduknya. Karena ia memangku Laila.
"Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam Kang. Kang, sampeyan masih di belakang kan?" Ucap Mukidi terdengar khawatir.
__ADS_1
"Ya, piye kang?"
"[Ya, bagaiamana Kang?".
"Anu Kang... Sepurone (Maaf) loh kang. Ini saya sudah hampir sampai kota. Lah ini kok kalung mas kawinnya ketinggalan Kang. Tadi saya simpan di kotak dan saya letakkan di atas meja kamar." Ucap Mukidi pelan.
"Astaghfirullahalazhim... Nggeh Kang. Saya minta Pak Toha putar balik." Ucap Rohim dan Pak Toha mendengar bahwa ia diminta putar balik.
Lelaki yang merupakan PNS kecamatan itu melambatkan laju kendaraan miliknya.
"Pak Toha, kita putar balik. Mas kawinnya ketinggalan di rumah." Ucap Rohim dari kursi belakang.
Laila yang duduk di sisi sang suami bertanya.
"Ya ga tahu. Tapi kan minimal pengantin nya sudah tiba di lokasi Mi. Bismillah saja." Ucap Rohim.
"Oala... Jan. Jan... Kang Kidi, kang Kidi... Kok Yo di acara se sakral ini kok bikin nggawe repot wong wae (buat repot orang saja)" Gerutu Pak Toha.
Ia merasa kesal karena sudah separuh perjalanan keluar dari kabupaten mereka. Sebentar lagi tiba di kota. Meminta orang lain kesana tak mungkin karena rumah di kunci. Kebetulan kunci rumah itu yang terakhir memegang pak Toha.
__ADS_1
"Lah mas kawin saja ndadak ribet." Sambung istri pak Toha yang duduk disisinya sambil memeluk anaknya Rendra.
Ya mas kawin yang dibeli Mukidi cukup unik. Ia memesan kalung dengan berat 12,12 gram. alasannya tanggal nikahnya jadi sama dengan mas kawin. Laila hanya menahan tawanya melihat wajah Bu Toha yang terlihat cemberut. Ia sebenarnya keberatan ketika Mukidi terlalu berlebih-lebihan ketika akan serah-serahan. Dari uang, bahan-bahan sembako bahkan kotak hantaran pun begitu banyak sudah seperti orang kaya. Maksudnya baik, ia ingin uang itu lebih baik digunakan nanti untuk modal setelah menikah untuk membangun rumah tangga baru.
Namun Mukidi pun sebenarnya bermaksud baik. Bukan berniat pamer atau sok sok an. Ia yang sekarang sebenarnya sedang diatas angin. Rezekinya mengalir deras lewat CV yang ia bangun dan channel YouTube yang juga menghasilkan uang. Sehingga bagi Mukidi bukan pemborosan namun wujud ucapan terimakasih pada sang calon mertua karena tanpa jasa calon mertuanya maka tak mungkin ia akan mendapatkan istri yang cantik, cerdas dan tak kurang apapun.
Belum lagi ia tinggal menikah saja. Nanti sang istri akan ikut dirinya. Tentu orang tua dari Ajeng akan kesepian. Belum lagi bagi Mukidi apa yang ia berikan tak sebanding dengan kerja keras dan usaha orang tua istrinya dari mengandung dan membesarkan sang istri. Ia sudah berdiskusi dengan Rohim. Rohim dan Laila mengatakan tak masalah, toh besok calon mertuanya akan menjadi orang tua Mukidi. Maka ia ingin selama proses pernikahan nya dengan Ajeng. Calon mertua tak lagi harus repot mengeluarkan biaya untuk pesta pernikahan.
Cukup doa restu dan bimbingan kedepannya. Ia akhirnya memberikan begitu banyak nominal seserahan dan barang pada calon mertuanya. Saat Rohim Tiba di kediaman Ajeng. Ia sudah disambut Bu Sri.
"Oala Bi... Untung kok ya ndilala (kebetulan) kamu terlambat perginya." Ucap Bu Sri menerima kotak mas kawin yang telah di bawa oleh Rohim.
Mukidi telah duduk di dalam. Ia duduk di hadapan penghulu dan calon mertua. Acara ijab belum bisa dimulai karena menunggu mas kawin dan saksi yang semuanya telah tercatat di Kantor Urusan Agama atau KUA. Setibanya Rohim disana ia duduk di sisi kiri Rohim.
"Kang... Saya deg deg kan..." Ucap Mukidi pada Rohim sambil menunggu pak penghulu sibuk mencatat berkas di kertas yang ada di hadapannya.
"Istighfar Kang... Shalawat kang..." Ucap Rohim.
Para tamu undangan pun duduk menanti acara ijab Qabul. Saat pembawa acara mulai melangsungkan acara tersebut. Pengantin perempuan masih duduk di dalam kamar. Bu Sri yang duduk di belakang Mukidi pun mengusap punggung Mukidi. Ia melihat jelas raut wajah grogi dan cemas sang anak.
__ADS_1
Ada rasa bahagia juga sedih hari itu. Janda satu anak itu merasa ketika nanti anaknya ijab qobul. Maka ia sebagai orang tua cukup senang karena telah mengantarkan anaknya sampai ke pelaminan. Sedangkan di dalam kamar Ajeng pun terlihat tegang.
Saat acara ijab akan dilangsungkan. Para saksi memeriksa mas kawin yang di bawa Mukidi. Setelah mereka memeriksa mas kawin itu. Pak penghulu pun mulai dan ijab itu akan langsung di lakukan oleh ayah Ajeng. Dan kembali Mukidi menorehkan kisah unik dan lucu di acara pernikahan nya.