LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
69 Umi Laila dan Santri ndalemnya


__ADS_3

Tiga hari lagi sudah akan hari raya idul Fitri. Laila sedang membuat keripik pisang untuk isi toples menyambut beberapa tamu juga akan ia berikan ke Abah Ucup dan Waroh.


Ayu dan Lulu kembali tidak ingin pulang. Saat ayah mereka menjemput, mereka memohon untuk tinggal di pondok. Mereka begitu mencintai Umi Laila. Tak sanggup jika harus berlebaran di rumah mereka sedangkan Umi Laila di pondok hanya berempat dengan anak-anaknya. Abi Rohim masih di Jawa, mengambil sanad dari seorang kyai besar yang mengadakan sanadan kitab yang bisa mempermudahkan para santri membaca kita kuning, menafsir Qur'an bahkan perkata.


Tiba-tiba ponsel berdering. Tangan yang mesin mengupas pisang kepok muda, membuat Lulu bergegas mengambil ponsel di kamar Umi Laila. Jika ada yang dianggap membuat setiap mata kagum akan hasil didikan Umi Laila adalah bagaimana ada santri pertama mereka. Lulu menyerahkan ponsel tersebut sambil berjalan menggunakan lututnya. Tak berani mengangkat wajahnya. Ia tak berani memandang gurunya. Bukan karena takut, itulah yang ia lakukan sesuai dengan apa yang pelajari dari salah satu kitab yang pernah diajarkan Umi Laila.


"Di pencet tombol hijau nya Nduk." pinta Laila.


Setelah Lulu memencet tombol hijau tanda menerima panggilan yang ternyata dari Abi Rohim. Tangan kanan Lulu menempelkan ke telinga Umi Laila.


"Walaikumsalam." ucap Laila menyambut salam dari suaminya yang sedang belajar selama 40 hari.


"Apa kabar Mi?" Ucap Abi Rohim.


"Alhamdulilah sehat. Anak wedok mu ga ada yang mau pulang ini Bi. Kemarin padahal sudah dijemput sama Bapaknya." Goda Umi Laila menatap Ayu yang juga sedang mengupas pisang dan duduk di sisinya.


"Alhamdulilah semoga Allah juga menyayangi mereka karena cinta mereka pada Gurunya. Semoga ilmu yang umi berikan bisa menjadi bekal mereka di masa depan." Doa Rohim untuk dua santri ndalem yang selalu membantu sang istri dalam menyelesaikan semua perkara dapur bahkan kadang membantu sang istri mengasuh anak-anaknya saat banyak tamu yang datang namun Alya atau Mida terlihat rewel.

__ADS_1


Sepasang suami istri itu pun terlibat obrolan yang seperti biasa. Abi Rohim berbagi cerita di sela-sela waktu istirahatnya. Abi Rohim begitu kagum dengan gurunya. Kyai Dori, dimana sang kyai sering membahasa banyak hal untuk Santri-santrinya yang datang dari berbagai penjuru Tanah Air.


"Mi, Ini Abah Yai minta agar kita sekarang untuk berusaha punya karya tulis. Tujuannya agar menguatkan sebuah keilmuan dan memberikan kemanfaatan keilmuan Mi. Kita diminta bergegas. Karena Abah Yai dawuh, Kita sedang dikepung oleh aliran-aliran yang tidak bertanggungjawab. Pemahaman-pemahaman yang melenceng dari hukum-hukum syariat. Kita dikepung oleh mereka yang mengatasnamakan Sunnah namun akhirnya mengkafirkan saudara seiman bahkan menghalalkan d@rah saudara sendiri. Naudzubillah..." Ucap Rohim terhenti karena bisa Laila Pastikan suaminya akan mengatur napas atau sekedar menikmati rokoknya.


"Maksudnya kita punya karya tulis dan kita masukan ke blog, web atau link BI?" Tanya Laila.


"Iya Mi. Insyaallah barokah dan manfaat Mi. Sudah dulu, ini sudah hampir masuk lagi. Semoga Umi dan anak-anak dalam keadaan baik dan tercukupi setiap kebutuhannya." Ucap Rohim.


Laila pun menjawab salam dari suaminya. Ia bukan perempuan yang dididik untuk merasa insecure ketika suami tak pulang-pulang. Hidupnya sudah ia niatkan untuk menjadi pelayan para pencari ilmu. Untuk Santri-santrinya. Pergi nya Sang suami untuk menuntut ilmu agar para santri mudah belajar. Membuat ia tetap menjadi istri, anak, ibu dan Guru yang menunjukkan bahwa ia punya tanggungjawab.


Maka hampir satu bulan ia berjualan baju, mukenah dan minggu-minggu ini ia membuat aneka makanan untuk isi toples lebaran. Ia berkeliling menjajakan dagangannya. Keuntungannya ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari dengan 3 anaknya dan dua santri ndalem yang begitu mencintai dirinya.


Lulu tampak menunggu Alya dan Furqon bermain di tempat tak jauh dari Umi Laila mengupas pisang. Umi Laila selalu memanfaatkan waktu-waktu seperti ini yang membuat dua orang gadis itu merasa hanya disaat pondok kosong seperti ini. Ilmu-ilmu gurunya mengalir bak air dari air terjun.


"Kalian tahu Ndak kenapa Madzhab Imam Syafi'i bisa menyebar di seluruh belahannya dunia." Tanya Umi Laila masih menatap pisang ditangannya dan bergantian ke arah Lulu dan Ayu.


Dua muridnya masih menunduk. Mereka tak tahu dan tetap takhdim tak berani menatap Guru mereka. Hanya di pesantren yang mempelajari kitab kuning yang biasanya memiliki adab-adab seperti ini. Jika di pesantren modern mungkin sudah langka menemukan murid seperti Lulu dan Ayu.

__ADS_1


"Itu karena Imam Syafii bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu dan menyampaikan ilmu kepada santri nya. Beliau bahkan, salah satu Imam yang paling banyak karya tulisnya dan santrinya." Ucap Umi Laila.


Metode seperti ini sebenarnya yang tanpa Umi Laila sadari menjadikan Ayu dan Lulu merasa rugi jika pulang. Dirumah mereka yang ada akhirnya berleha-leha karena tak ada yang mengawasi sama seperti Umi Laila, amalan-amalan yang diberikan justru akan dikerjakan asal-asalan jika pulang kerumah. Belum lagi mereka akan kehilangan moment Umi Laila bercerita banyak hal yang mengandung ilmu.


"Santrinya imam Syafi'i rata-rata punya karya tulis. Madzhab syafiiah berhasil menyebar keseluruh penjuru dunia. Dan ini barusan, Abi bilang untuk kita para santri untuk bangkit, kurangi tidur.Abi saja diminta membuat karya tulis disela-sela waktu beliau mengajar. Sekarang santri dituntut jangan hanya menjadi pendengar setia. Jangan tidur melulu. Nah Umi minta kalian juga minimal buatlah catatan-catatan kecil. Ilmu-ilmu yang kalian anggap penting. Siapa tahu nanti bisa dibutuhkan kala kalian sudah tidak disini lagi. Paham Nggih?" Ucap Umi Laila.


"Inggih Mi..." Ucap dua kakak beradik itu bersamaan.


Maka tak heran jika Lulu, Ayu, bahkan sampai nanti anak dari Munir dan Nuaima memiliki catatan kecil dari setiap ilmu yang mereka dapat dari Umi Laila dan Abi Rohim.


Laila pun meminta Furqon untuk mengambil alat pemotong pisang agar berbentuk tipis-tipis. Sang anak pun dengan patuh bergegas mengambil alat yang terbuat dari kayu dan terdapat pisau tajam di tengah-tengahnya.


Pendidikan Strata satu Umi Laila sebenarnya sudah tahu jika mereka Santri harus berusaha memiliki karya tulis. Namun karena sibuk dengan kegiatan di pondok juga mengurus anak-anak serta menjalani perjuangan untuk mendidik santri dan pondok pesantren Kali Bening, membuat waktu Umi Laila belum ia miliki untuk menulis. Ia sangat hormat pada suaminya, walau ia lebih pintar dari sang suami. Tak pernah ia sok pintar apalagi mematahkan omongan sang suami.


Dan hal itu yang sebenarnya membuat Rohim begitu tenang Menjalani rumah tangga yang mungkin tidak pada umumnya. Mereka semenjak memiliki pondok, bahkan nyaris tak ada waktu untuk berduaan. Hanya malam hari atau tengah hari yang akan menjadi waktu mereka berdua ada waktu untuk sama-sama saling berbagi cerita.


Sungguh beruntung menjadi Umi Laila dan Abi Rohim karena Rasulullah pernah bersabda akan ada 3 perkara yang tak akan terputus. Pertama, sedekah jariyah. Kedua, ilmu yang dimanfaatkan untuk orang banyak. Ketiga, punya anak yg Sholeh yang mau mendoakan orang tuanya. Dan mereka memiliki juga melakukan ketiga perkara itu.

__ADS_1


Saat baru akan meletakkan pisang yang telah dikupas dan direndam dengan air soda, tiba-tiba terdengar salam dari arah luar.


"Assalamu'alaikum....."


__ADS_2