
Pagi itu Imam yang penasaran sengaja pura-pura membenarkan cangkul di belakang kediaman Rohim dan santri putri. Ia bersama beberapa santri putra lainnya. Namun matanya melirik ke arah santir putri yang juga sedang masak dan ditemani Laila. Ia penasaran apakah betul Laila seperti apa yang dikatakan Ayu dan Lulu. Nanti malam akan ada acara Maulid Nabi. Acara diadakan satu kecamatan.
Acara yang diadakan cukup besar karena di depan masjid Nurul iman pun di berikan panggung dan tenda untuk menampung Jama'ah yang akan datang dari banyak desa. Imam pun sesekali melirik ke arah Laila. Saat ada santri yang mengatakan bahwa ada tamu atau orang yang membantu memasangkan tenda. Maka Laila pun bergegas menyiapkan teh atau kopi. Tentu saja ia menggunakan toples-toples yang berada di rak bawah.
Dan tak berapa lama Alya yang merupakan anak kedua Laila merengek meminta di buatkan teh. Laila pun meletakan pisaunya. Ia membuatkan tes untuk putrinya. Dan toples yang di gunakan oleh Laila ada sebuah toples yang berada di rak paling atas.
"Ckckckck.... Sungguh hati-hati sekali ia memastikan setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh anak-anaknya." Batin Imam.
Bahkan tak sampai di sana. Keesokan harinya kembali imam dibuat geleng-geleng kepala. Laila yang akan menyantan daun ketela atau daun singkong. Ia pergi ke kediaman pak Toha yang merupakan ketua panitia acara kemarin. Ia bermaksud ingin mengganti kelapa yang terdapat lima butir. Sisa untuk masak nasi bungkus untuk menyambut jama'ah kemarin.
Dan tentu saja itu di tolak oleh Pak Toha.
"Lah kok ndadak ijin toh Neng. Lah wong itu memang di beli disana. Dipakai saja. Wong sisa juga." Ucap Istri Pak Toha.
"Ya Ndak begitu Bu. Itu kan kemarin uangnya para donatur untuk sukses nya acara maulid kemarin. Akadnya untuk acara kemarin, kalau kemarin sisa makanan saya berani makan sama para santri. Lah kalau ini kan beda barang itu di beli dari uang yang akadnya untuk acara Maulid. Saya Ndak berani pakai." Jelas Laila.
__ADS_1
Sungguh Pak Toha semakin kagum dengan kepribadian sepasang guru ngaji dan juga pemilik pondok Kali Bening itu. Jika buat orang lain mungkin kelapa itu sudah dipakai saja untuk memasak tanpa berpikiran sejauh itu. Laila justru sangat hati-hati. Ia begitu menjaga yang dimakan anak-anaknya dan juga para santrinya.
Karena bagi Laila untuk menjaga kehalalan yang dimakan untuk keluarga adalah tugasnya. Dan untuk sumbernya itu adalah tugas sang suami. Apalagi uang yang sudah menyangkut orang banyak. Akan membuat istri Rohim itu tak berani sedikit pun untuk digunakan untuk keperluan dirinya.
Tak terasa sudah satu bulan lebih Imam tinggal disana. Ia pun berpamitan kepada Rohim. Ia kembali ke kota Karena memang ia ingin mondok di sana hanya waktu sebulan. Namun karena hari hujan deras. Mobil dari desa tak ada yang berangkat ke kota. Akhirnya ia menunda kepergiannya keesokan harinya.
Hujan itu cukup deras. Bahkan saat malam hari pun Kali Bening masih diguyur hujan walau tak sederas hujan semalam. Imam yang merasa hanya memiliki kain sarung, masih merasa kedinginan. Ia pun akhirnya pergi ke dalam masjid. Ia mencari karpet atau ambal yang biasa digunakan untuk pengajuan ibu-ibu.
Dan ia melihat karpet berwarna hijau itu berada di sudut mimbar. Ia pun membungkus tubuhnya kedalam karpet itu dan menyandarkan tubuhnya di mimbar itu. Tanpa Imam sadari seseorang baru saja masuk kedalam masjid. Saat semua penghuni pondok pesantren itu sudah tertidur, bahkan warga Kali Bening pun sudah berada di alam mimpi karena dinginnya malam.
Sudah menjadi kebiasaan dari guru ngaji Masjid Nurul Iman itu selalu menghadiahkan Surah Al Fatihah untuk para ulama yang telah tiada dan guru-guru beliau. Orang tua beliau. Terdengar suara Rohim samar-samar di telinga Imam.
"Ila hadlrotin Nabiiyil Musthofa Rosulillahi Sollallahu ‘Alayhi Wasallam wa ’ala alihi wa ashabihi kulluhum ajma’in, wat tabi’in, wat tabi’it tabi’in, wa man tabi’ahum bi-ihsanin ila yaumiddin, wal ‘ulamail ‘amilin, wal mushonnifinal mukhlashin, wal mujahidina fisabilillahi robbil’alamin, wal malaikatil muqorrobin, khushushon ila sultahoni awliya’ Sayyidina Syaikh ‘Abdil Qodir Al Jilany rodliyallahu ‘anhu..
Wa tsumma khushoshon ila hadlroti........."
__ADS_1
Ia menyebutkan satu persatu nama guru-guru nya bahkan terdapat nama Kyai sepuh yang juga dulu berkiprah untuk desa Sumber Sari yang kini berubah namanya menjadi Kali Bening.
"Wa ila jami'i muassis wa masyayyikh para Ulama kulluhum ajma'in alladzi lam yadzkur ismuhum wa zawjatihim, wa ahli baytihim, wa dzurriyyatihim, wa silsilatihim, wa furu’ihim, wa muridihim, wa muhibbihim syaiul lillahi lana walahum Alfatihah.."
Sejenak tak terdengar suara dari Rohim. Imam betul-betul tertunduk malu. Ia sebenarnya adalah anak salah satu Kyai di sebuah kota. Ia yang sedang mondok ketika merasa sudah cukup lama dan selesai. Berniat untuk pulang. Tetapi belum mendapatkan izin dari gurunya. Ia diminta oleh sang guru untuk ke Desa Kali Bening. Dan malam itu ia kembali mendapatkan jawaban dari apa yang menjadi perintah gurunya. Ia selama ini memang cerdas, memang pintar membaca kitab-kitab yang diajarkan gurunya. Ternyata setelah mengenal Rohim dan Laila.
Ia baru tahu, ia belum memiliki adab, Cinta pada Guru, Cinta yang bukan hanya di bibir. Tetapi juga pada hati. Karena ia mendengar bagaimana Rohim bergetar suaranya ketika mengirimkan hadiah Al Fatihah untuk para guru-gurunya. Rohim yang bersikap lemah lembut. Ia selalu hati-hati sekali dalam bersikap. Laila yang selalu berhati-hati dalam menjaga kehalalan makanan untuk para santrinya.
Sungguh karakter pendidik yang begitu indah. Dimana Rohim dan Laila hanya berusaha untuk memberikan ilmunya. Dan memasrahkan urusan kecerdasan sang murid pada Allah. Laila yang mungkin memberikan ketegasan pada sang santri ketika santrinya lalai dalam kewajiban. Jika Laila sampai memarahi atau menghukum santri nya. Maka itu bisa di pastikan jika santri nya melakukan kesalahan yang akan membuat mereka berdosa. Dan Laila akan sedikit keras pada anak didiknya.
Maka Imam pun merasa bahwa jika selama ini dia selalu di hukum oleh gurunya. Ia sadar, ia yang sering menyepelekan shalat maka itu membuat gurunya marah. Ia yang belum bisa mencari uang sendiri terus merokok begitu kuat. Sehingga timbul tindakan nakal mencuri untuk membeli rokok. Dan tentu itu akan menimbulkan dosa.
Ia menangis dalam diamnya. Ia sadar jika Guru nya Sampai menghukum dirinya maka sudah pasti ia melakukan kesalahan. Namun terkadang ada beberapa orang tua tak terima anaknya disakiti atau di hukum padahal setiap guru punya cara mendidik yang berbeda-beda. Diibaratkan 'Kepala di lepas Buntut Di pegang' itulah kebanyakan orang tua sekarang. Tak mampu mendidik anak lalu di letakkan di pesantren namun saat anak di didik sedikit keras. Merasa tidak terima, protes kesana kemari. Menjelekkan guru sang anak kesana kemari. Tanpa mereka sadari bahwa tindakan mereka sebagai orang tua membuat ilmu itu sendiri tak ingin mendekat pada anak-anak mereka karena sikap dan tindakan orang tua.
Namun air mata lelaki yang berselimut karpet itu mengalir deras. Ketika hampir satu jam lebih Rohim selesai dengan aktifitas yang begitu sering ia lakukan, Ia berdoa dengan suara lirih. Suara itu dapat di dengar jelas oleh Imam.
__ADS_1
"Ya Allah... Hamba mohon ampun atas setiap khilaf hamba. Ya Allah Maha Pemberi, hamba mohon berikanlah kecerdasan pada setiap santri hamba. Sungguh hamba hanya bisa memberikan ilmu yang bersumber dari Rasulullah, namun untuk mencerdaskan para santri ku. Hanya Engkau Maha Pemberi. Ya Allah, lindungilah desa ini dari segala bencana. Berikanlah kemudahan untuk setiap warga Kali Bening menjalani hidup ini. Dan berikan aku dan istriku kesabaran dalam mengajarkan ilmu-ilmu yang akan menjadi bekal para santri ku."