LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 62 Asal Muasal Panggilan Abi dan Umi


__ADS_3

Imam cepat menghampiri Rohim. Ia mencium tangan Rohim dengan takhdim. Namun sang guru ngaji itu cepat menarik tangannya. Ia tak ingin diperlakukan seperti itu. Apalagi ia melihat umurnya dan Iman tak jauh selisihnya.


"Bagaimana kabarnya Mas Imam?" Tanya Rohim sambil menepuk pundak Imam.


"Baik Bi..." Ucap Imam.


Rohim menaikkan kedua alisnya dengan panggilan yang diberikan oleh Imam untuknya.


"Jika njenengan tidak mau dipanggil Kyai, Ustad maka izinkanlah saya memanggil njenengan dengan Abi. Njenengan adalah orang tua, guru bagi saya. Rasanya bibir ini tak bisa memanggil kalian dengan sebuah sebutan yang lain. Bukan kah sebuah ilmu akan memberikan keberkahan pada mereka yang tholabul ilmu tetapi memuliakan gurunya. Bagi saya sebuah panggilan adalah kehormatan untuk memanggil njenengan.


Rohim hanya tersenyum. Melihat seorang Kyai yang dari tadi ditunggu. Ia pun segera menyambut Kyai tersebut. Ia mengajak Kyai tersebut untuk beristirahat sebentar di kediamannya.


Di kediaman Rohim sudah lengkap berbagai makanan dan minuman kesukaan Kyai tersebut. Laila memang bertanya pada teman yang merupakan santri kyai tersebut. Baginya memberikan jamuan terbaik pada tamu dan tamu itu juga merupakan sesuatu yang harus ia lakukan. Itu adalah wujud rasa cinta pada sang Ulama.


Saat mereka beristirahat dikediaman Rohim. Disana Rohim baru mengetahui jika Imam adalah anak Kyai tersebut. Ia sengaja belum boleh pulang disaat merasa telah menyelesaikan pendidikannya di pondok pesantren lain.


"Waktu itu banyak beberapa Kyai yang mengatakan jika ingin belajar tentang Istikomah, tentang Qonaah, tentang Islam yang rahmatan Lil Alamin. Maka disini tempatnya. Saya pun merasa putra saya belum bisa melihat itu langsung karena ia terbiasa di pondok yang dimana pengasuh dan pemiliknya mengetahui bahwa ia adalah putra ku. Maka disini ia sengaja aku minta untuk belajar dari orang yang tak memperlakukan dia karena nama ayahnya." Ucap Kyai itu.


Setelah cukup lama mereka berbincang. Tiba disaat acara pun dimulai. Saat acara itu di mulai. Hari itu Kali Bening merasa bangga memiliki Rohim dan Laila. Kyai yang telah berdiri di depa panggung memegang Microphone nya.


"Saya rasa.. Saya tidak perlu memberikan mauidzho Hasanah. Karena desa ini telah memiliki Ulama yang mungkin kiprahnya sudha luar biasa buat warga yang ada disini. Maka untuk yang lain-lain biar nanti Pemilik dan pengasuh Pondok Pesantren Kali Bening itu yang memberikannya. Hari ini saya ingin anak saya yang berdiri di sini dan menyampaikan sepatah dua kata untuk bisa dijadikan pelajaran." Ucap Kyai sepuh itu.


Beliau kembali duduk. Sedang Microphone yang ia pegang, ia berikan pada putranya.


Imam menerima Microphone itu. Beberapa warga dan Jama'ah yang mengenal Imam sebagai lelaki yang menjengkelkan selama tinggal di Kali Bening, membuat mereka tertunduk malu. Namun ada juga yang cepat mencemoohnya.


"Ya Allah....berarti yang sering saya rasanin (ghibahin) itu anak Kyai besar... Ya Allah malu aku...." Ucap salah satu jama'ah.

__ADS_1


Namun hati yang keras justru sibuk merasa lebih baik dari lelaki yang sekarang berdiri memegang Microphone.


"Halah. Kelakuan seperti itu kok anak Kyai." Ucapnya dalam hati karena hati yang masih keras karena hati yang masih sulit lembut dan berpikir positif akan setiap makhluk Allah.


Setelah membuka acara itu, Imam pun mulai menyapa para jama'ah.


"Ibu.... " Ucap Imam sambil sedikit tersenyum dan suara yang bergetar.


"Nggeh...." Jawab jama'ah kompak.


"Apa Kabarnya?" Tanya Imam


"Baik Alhamdulilah." Ucap Ibu-ibu bersama.


"Alhamdulilah kalau baik. Bapak Ibu masih ingat dan kenal saya?" Tanya Imam sambil tersenyum simpul.


Laila sering mengingatkan Imam ketika lelaki itu suka meminta makanan anak-anak yang mondok hanya 12 jam. Laila justru meminta Imam untuk memasak Mie instan di dapur jika memang lapar. Khawatir orang tua dan anak yang ia minta atau ambil makanan nya tak ridho.


"Bu.... Pak... " Suara Imam mulai terdengar lirih.


"Hari ini saya ingin bercerita tentang seorang yang sabar ketika di ghibahin. Yang sabar ketika Selalu di salah-salahin sama ibu-ibu, sama para wali santri. Siapa? Dua orang yang katanya tinggalnya disiini cuma numpang." Ucap Imam.


Air matanya sudah berada disudut netra yang sudah memerah.


"Ibu tahu ga. Salah satu yang membuat makmur nya satu daerah? Itu adanya orang yang berdoa dengan tulus. Ibu bapak tahu? Hampir setiap malam setiap bapak dan ibu sedang enak-enak tidur. Ada seorang ulama yang hujan deras pun beliau masih duduk dan berdoa. Bukan minta kaya, bukan minta di mudahan urusan nya. Kayak kita kalau doa sibuk minta kebahagiaan buat kita, biar sehat, biar kaya, biar sukses. Tapi beliau ini justru semua di doakan." Ucap Ima sambil memegang tiang tenda yang merupakan besi.


Ia sedikit menyandarkan tubuhnya pada tiang itu.

__ADS_1


"Beliau yang sering kalian panggil Kang Rohim... Lelaki itu... Hhhh... Selalu sibuk dengan bagaiamana ia dan istrinya bisa bermanfaat. Manfaat buat siapa? buat Santri-santrinya, buat warga kali bening, buat jama'ah nya. Beliau punya pondok pesantren tidak sibuk cari santri kesana kemari. Beliau hanya sibuk bagaimana ilmu yang beliau punya bisa diterima oleh santrinya. Beliau hanya sibuk bagaimana menjadikan santrinya berkualitas daripada mencari santri sebanyak-banyaknya. Maka hari ini toloooong... tolong... " Kalimat Imam terhenti.


Ia menghapus air matanya dengan kain yang ia kalung kan di leher dan pundaknya. Hidungnya telah di penuhi cairan. Ia berhenti sejenak untuk mengambil napas.


"Tolong... pada ibu dan bapak semua. Jaga ini Abi Rohim dan Umi Laila... Kalau Sumber Sari tak mampu menjaga perjuangan dakwah mereka, tak mampu mencintai beliau-beliau ini. Saya sanggup buatkan tempat dan pondok pesantren buat Abi Rohim dan Umi Laila." Kembali lelaki itu mengusap air matanya.


Salah satu jama'ah menyodorkan satu bungkus tisu ke arah Gus Imam.


"Saya Mohon... Jangan lagi panggil Beliau dengan Kang. Ya walau pun sopan tapi hari ini saya yang katanya anak Kyai. Rasanya lebih pantas menghormati beliau-beliau ini. Saya melihat bagaimana Umi Laila dalam setiap harinya begitu sabar dan hati-hati. Jadi kalau ada wali santri yang tidak terima anaknya di marah atau di hukum Umi Laila. Bawa pulang. Bawa pulang Anak kalian!" Suara Imam menggelegar di tengah-tengah jamaah.


Imam yang memang beberapa Minggu disana berusaha memancing emosi Rohim dan Laila. Untuk perkara wajib, Laila memang sedikit tegas pada santrinya. Ia bahkan memercikkan air ke wajah Imam saat pria itu tak juga bangun kala suaminya tak mampu membangunkan dirinya.


Maka bagi Imam. Memang dibutuhkan ketegasan untuk sebuah kewajiban bagi santri. Tegas bukan berarti kekerasan. Karena tegas berarti memberi penekanan pada santrinya jika mereka salah. Jika ketegasan itu adalah salah satu proses mendidik agar tercipta pribadi yang disiplin. Pribadi yang bertanggungjawab akan yang menjadi kewajibannya.


"Ibu nitip anak ke pondok. Tapi dapat laporan anak ini dan itu. Ibu langsung saja percaya? Ibu... anak-anak yang sering mengeluh makanan di sini katanya selalu di hangatkan. Atau Abi dan Umi Laila membedakan makanan nya. Itu bohon! Saya saksinya. Bagaimana Umi Laila dan keluarga nya Selakau makan setelah santrinya. Bagiamana ketika sayur dan lauk habis. Beliau cepat berlari ke arah sawah. Beliau Bu... Hapal Qur'an... Guru kita... metik genjer terus dimasak buat makan beliau dan suami.... Jadi tolong..... Jaga dan hormati beliau-beliau ini. Mulai hari ini. Tolong... Tolong... panggil Beliau ini dengan panggilan Umi dan Abi.... jangan lagi kang kang.... Ibu pikir kangkung? Ucap Imam sambil menatap Rohim yang justru duduk di barisan paling belakang pada Kyai.


Rohim memang tak pernah merasa dirinya kyai, ustadz. Ia merasa belum pantas. Ia lebih senang teman-teman sekitarnya dan para Jama'ah biasa memanggilnya 'Kang'. Maka sejak hari itu warga, jama'ah dan para santri Kali Bening memanggil mereka dengan Abi Rohim dan Umi Laila.


Bahkan saat dulu Laila punya anak pun ia tak berani menggunakan kata 'Umi' untuk Furqon memanggilnya. Ia yang biasa tinggal di pesantren. Begitu akrab dengan panggilan Umi untuk Bu Nyai nya. Dan ia merasa sebutan itu Ibu lebih pantas untuk dirinya.


Begitulah dunia. Ketika kita sibuk mengejar untuk di puji, mengejar untuk mendapatkan kedudukan. Kita tak akan mendapatkan nya. Namun ketika tujuan kita hanya Allah, dan bekal untuk akhirat. Maka dunia akan mengejarnya, dunia akan memberikan kedudukan sendiri bagi mereka yang tak silau akan kedudukan dan sanjungan makhluk Allah.


Satu perempuan justru menangis tersedu-sedu di dapur dan disaksikan oleh Ayu dan Lulu.


"Ya Allah.... Maafkan saya... Semoga Kyai Ahmad Ridho, Gus Imam Ridho....Saya sudah bertingkah tidak sopan. Saya sudah tidak menjamu putra Ulama besar dengan baik.... "


Laila menangis karena malu selama Gus Imam berada di kediamannya. Ia tak memberikan jamuan dan tempat yang layak. Putra kyai besar itu justru tidur hanya beralaskan tikar. Makan juga seadanya dengan para santri. Padahal Laila biasanya akan begitu menjamu setiap tamu terlebih lagi itu adalah guru atau anak guru mereka.

__ADS_1


__ADS_2