LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 12 JAWABAN LAILA


__ADS_3

Siang menjelang sore, Rohim datang kerumah Mukidi. Hari itu kebetulan anak-anak yang biasa mengaji di Masjid libur. Ia lupa mengatakan pada Mukidi untuk ikut nanti malam ke rumah Abah Ucup. Karena Bagiamana pun bagi Rohim, Mukidi dan ibunya adalah keluarganya di desa Sumber Sari selain Pak Toha.


Tiba di depan rumah ia melihat Mukidi sedang memasuki tanah yang ada di samping rumahnya. Rohim yang datang dengan sepeda motor khas dengan suaranya, membuat Mukidi cepat meninggalkan pacul dan mencuci tangannya. Ia pun menyambut Rohim.


"Ada apa kang?" Tanya Mukidi pada Rohim sambil mengelap keringat pada sekujur tubuhnya.


"Ibu mu ada?" Jawab Rohim yang masih berdiri di depan rumah Mukidi.


"Ada kang. Perlu sama Mak e toh?"


"Iya sama kamu juga." Jawab Rohim singkat.


Mukidi pun berteriak.


"Mak.... Mak e.... Ada Rohim mak." Suara Mukidi terdengar nyaring memanggil ibunya yang sedang di dapur.


"Hehehe.... Sampeyan Iki kang... Ngono Ki Arep Entok bojo Sholehah. Lah nyelok Mak e kok koyo nyelok cah cilik." Ingat Rohim pada sahabatnya.


[Hehehe.... Kamu ini kang..... Begitu kok ingin dapat istri Sholehah. Lah manggil ibunya kok kayak manggil anak kecil.]


Mukidi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia pun segera mempersilahkan Rohim masuk kedalam rumah yang terbuat dari bambu atau biasa di sebut gedek. Tak lama sosok Bu Sri muncul dari arah dalam.


"Ealaa... Nak Rohim... Pripun kabare?" Tanya Bu Sri pada Rohim.


[Bagiamana kabarnya?]


Rohim menyampaikan tujuannya ke rumah Bu Sri yaitu berharap Bu Sri dan Mukidi bisa ikut nanti malam ke rumah Abah Ucup. Karena kata Pak Toha jika memang Laila menerima, maka langsung saja ke acara seserahan. Atau biaya untuk menikah diserahkan ke pihak perempuan.


Mengingat Rohim ingin ke kampung halamannya dulu. Untuk menjemput kedua orang tuanya.


"Oala... Alhamdulilah kalau begitu. Ibu doakan semoga Jodoh sama Laila. Neng Laila itu anaknya baik. Dulu masih ngalong di desa sebelah kalau pagi sering lewat depan rumah."


"Aamiin"


Bu Sri pun permisi kebelakang ingin membuat kopi namun Rohim menyampaikan jika dia harus segera pulang karena harus menyapu masjid karena sebentar lagi waktu magrib.


Saat waktu yang ditunggu-tunggu Rohim pun tiba. Ba'da isya, Rohim diantar oleh Mukidi dan ibunya serta Pak Toha juga istrinya. Mereka menggunakan tiga motor ke desa Sumber Waras. Tiba di kediaman Abah Ucup, pintu rumah telah terbuka. Abah Ucup memang menanti tamu istimewanya.


Ia dan Bu Salamah menyambut Pak Toha beserta Rohim juga Bu Sri dan Mukidi. Saat telah duduk di ruang depan. Laila pun diminta Bu Salamah mengeluarkan teh untuk tamu Abah Ucup. Rohim hanya menunduk, begitupun Laila. Ia tak berani memandang tamunya. Ia menyodorkan satu persatu secangkir teh pada tamu nya malam itu.

__ADS_1


Mukidi yang geregetan melihat tingkah Laila dan Rohim. Ia menyikut perut Rohim yang duduk di sampingnya.


"Iki loh seng jeneng e Laila. Mbok di delok" Bisik Mukidi.


[Ini loh yang namanya Laila. Coba di lihat]


Laila di minta tetap di sana. Waroh yang juga memberikan jajan atau camilan juga duduk di ruangan itu. Pak Toha masih berbasa-basi dengan Abah Ucup. Saat telah membahas perihal kedatangan mereka. Abah Ucup pun menanyakan pada Laila. Laila pun hanya ingin bertanya pada lelaki yang melamarnya.


"Boleh saya bertanya pada Kang Rohim?"


Rohim dan Laila pun sama-sama Tak ada yang berani mengangkat wajahnya. Rohim hanya melirik sedikit dan hanya terlihat jilbab putih dan terlihat perempuan bernama Laila itu mengenakan sarung. Rohim menjawab singkat.


"Boleh. Silahkan."


"Seandainya kang Rohim memiliki istri. Siapa yang kang Rohim Pilih. Ibu atau istri kang Rohim?" Tanya Laila sangat Pelan. Mukidi, Pak Toha bahkan nyaris tak mendengar kalimat Terakhir Laila.


Rohim pun memejamkan kedua matanya sebelum menjawab pertanyaan Laila.


"Masyaallah, kamu perempuan yang cerdas tenyata." Batin Rohim dalam hatinya.


Rohim pun menjawab pertanyaan Laila tanpa berani memandangi Putri bungsu Abah Ucup itu.


Laila kembali melontarkan pertanyaan pada lelaki yang selalu di bicarakan Abah Ucup selama di bis perjalanan pulang kemarin.


"Kenapa begitu?" Tanya Laila penasaran.


Rohim pun kembali menjawab.


"Istri Sholehah pasti paham cerita Al Qomah. Maka tentu setiap istri yang sholehah itu tak ingin suaminya melakukan kesalahan sama seperti Al Qomah. Dan suami yang Sholeh pun paham bahwa istri, adalah perempuan yang ia ambil tanggungjawab nya dari sang wali atau ayahnya. Maka ia bertanggung jawab pula akan kebahagiaan sang istri. Termasuk membangun hubungan antara istri dan Ibunya agar terjalin penuh kasih dan cinta. Sehingga suami yang baik juga harus melibatkan istrinya ketika akan membahagiakan atau berbakti kepada orang tuanya."


"Masyaallah... sungguh ia lelaki yang bijaksana."


Hati Laila berbunga-bunga mendengar jawaban Rohim. Sungguh cinta karena niat beribadah mampu membuat insan manusia itu merasakan debaran cinta tanpa harus mendengarkan rayuan sang penakluk hati.


Laila hanya khawatir ketika menikah kadang seorang istri sering di hadapkan dengan posisi dimana suami bingung memilih berbakti pada ibu atau menuruti keinginan istri yang kadang membuat seorang lelaki bingung bersikap. Maka jawaban Rohim barusan membuat Laila sadar jika Rohim tentu anak yang baik. Dan Laila pun merasakan bahwa ada kecocokan dalam menyikapi satu polemik yang sering di hadapkan di masyarakat tentang ibu dan istri sering di jadikan pilihan atau Maslaah bagi anak lelaki yang telah berumahtangga.


Padahal dua orang perempuan itu tak bisa dibandingkan. Ibu perempuan yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkan suami dari perempuan yang biasa disebut istri. Istri adalah seorang perempuan yang menyerahkan hidupnya untuk lelaki yang akan menjadi ladang pahala baginya. Bahkan jika seorang perempuan belum menikah ridho Allah itu ada pada orang tua. Bagi perempuan yang telah menikah maka ridho itu pun tergantung pada ridho sang suami.


Saat Laila masih terdiam Rohim pun memiliki rasa penasaran akan satu hal yang menurutnya itu akan memudahkan urusan berumahtangga ketika sang istri paham akan hal itu.

__ADS_1


"Saya boleh tanya satu hal?" Tanya Rohim pada Laila.


Laila terlihat mengangguk dan menjawab "Silahkan."


"Siapa yang paling banyak masuk neraka kelak di hari akhir dan apa alasannya?"


Laila kembali di buat kagum hanya dengan lewat pertanyaan dan suara Rohim tanpa ia memandangi wajah calon suaminya.


"Salah satunya yaitu kaum wanita. Salah satu alasannya yaitu karena perempuan yang telah bersuami tidak ikhlas membantu suami, juga yang tidak taat pada suami," jawab Laila pasti.


Seolah kagum Rohim mengangkat wajahnya dan memandang Laila yang masih menunduk. Abah Ucup pun melihat anaknya tak mengangkat wajahnya meminta Laila untuk mengangkat wajahnya.


"Nduk. Rohim belum pernah melihat kamu. Lah kasihan kalau disuruh beli kucing dalam karung. Coba diangkat wajahnya."


Rohim terkesima ketika menatap wajah Laila. Beberapa detik tatapan mata mereka bertemu. Laila cepat kembali menunduk begitu pun Rohim. Dua hati itu bersamaan bertasbih.


"Masyaallah...." Rohim melihat wajah yang teduh, bersih dan terlihat sekali wajah yang bersih. Laila yang terbiasa bangun malam, menjaga wudhunya. Maka tanpa alat kosmetik terlihat cantik bagi seorang lelaki yang mencari istri bukan berpatokan pada kecantikan wajah saja.


"Astaghfirullah.... Kok jantung ku berdebar begini." batin Laila yang terlihat gugup..


Waroh terlihat tak betah. Ia bosan mendengar dan melihat interaksi Laila dan Rohim. Entah kenapa saat Rohim melamar Laila, rasa di hatinya hanya ada kebencian pada Rohim dan Laila.


"Halah... suwi ne. Tinggal bilang ya atau tidak. Wes koyo cerdas cermat wae.!" Gerutu Waroh dalam hatinya.


[Halah..... Lamanya. Tinggal bilang Ya atau tidak. Sudah kayak cerdas cermat saja]


Abah Ucup pun bertanya pada Laila.


"Jadi bagaimana Nduk?"


Laila menjawab pertanyaan Abah Ucup sambil ia me re mas kain sarung di bagian lututnya.


"Bismillahirrahmanirrahim..... Laila menerima lamaran kang Rohim Bi."


"Alhamdulilah...."


Semua yang diruangan itu pun mengucapkan kalimat hamdalah. Namun Mukidi yang senang tanpa disadari mengucapkan kalimat hamdalah itu dengan memeluk erat tubuh Rohim sampai guru ngaji itu sedikit bergoyang tubuhnya.


"Alhamdulilah.... Selamat kang... Selamat."

__ADS_1


Pak Toha pun menarik lengan Mukidi karena semua yang ada diruang itu melongo tak percaya. Ekspresi Mukidi pada Rohim yang terlalu bereuforia. Seperti dirinya saja yang akan menikah.


__ADS_2