LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
Bab 87 Kegundahan Umi Laila akan Santrinya


__ADS_3

Ponsel milik Abi Rohim berdering. Pemilik ponsel tersebut tampak sedang menerima tamu. Umi Laila yang melihat nomor panggilan tersebut berasal dari Pengasuh Pondok Pesantren tempat Furqon mondok. Umi Laila pun menerima panggilan tersebut. Sebuah kabar dari pulau Jawa, Furqon di bawa ke rumah sakit.


Sulung Umi Laila itu menjalani perawatan karena demam tinggi serta hampir sekujur tubuhnya terdapat koreng atau gudik. Bahkan di bagian bawah kedua ketiaknya terdapat bisul. Umi Laila pun berdiskusi dengan Abi Rohim. Siapa yang akan berangkat ke Jawa. Karena tak mungkin mereka berangkat semuanya.


"Abi saja yang berangkat Bi. Ayra dan Rahmi tak mungkin di tinggal. Diajak pun juga tak memungkinkan." Jawab Umi Laila saat Abi Rohim meminta pendapatnya.


Akhirnya sepasang suami istri itu sepakat, Abi Rohim yang akan berangkat ke Jawa. Namun malam hari saat Umi Laila menyiapkan baju untuk dimasukan ke dalam tas. Ayu datang dan mengetuk pintu ruang paling depan kediaman gurunya. Hanya beberapa santri dan santriwati yang berani keluar masuk kediaman Umi Laila yang sederhana itu. Mereka ialah santri yang dengan suka hati membantu Umi Laila disaat selesai proses mengaji di dapur. Maka mereka biasa di bilang abdi ndalem kalau di pondok pesantren yang sudah besar.


Dengan kepala yang tertunduk dan kedua tangan kanan menggenggam telapak tangan kiri, Ayu mengutarakan maksudnya saat Umi Laila hadir di hadapannya.


"Umi, kulo wonten betah." Ucap Ayu tanpa berani mengangkat kepalanya.


{Umi saya ada perlu.}


"Wonten menapa Nduk?"


{Ada perlu apa nak?}

__ADS_1


Tanya Umi Laila seraya duduk. Ia pun menurunkan Ayra dari gendongannya. Bungsu Umi Laila itu terlihat kurang sehat. Tubuhnya di tumbuhi cacar yang cukup banyak di sekujur tubuhnya. Beruntung tak berair. Namun putri almarhum Nuaima itu lebih manja dari biasanya. Ia tidak ingin jauh-jauh dari Umi Laila.


"Benjing , bapak lan ibu ajeng mriki . Kulo niat badhe kuliah, Mi. kemungkinan kulo ajeng kuliah wonten kitha." Jawab Ayu dengan suara begitu pelan. Jika orang yag duduk dalam jarak 3 meter mungkin tak akan mendengar suaranya.


{Besok , bapak dan Ibu akan kemari. Saya niat ingin kuliah. Kemungkinan saya akan kuliah di kota}


Umi Laila sedikit termenung mendengarnya. Bukan Umi Laila tak senang anak didiknya akan 'boyong' (pulang selama-lamanya kerumah dari pondok pesantren). Tetapi, ia khawatir karena Ayu adalah santri pertamanya. Ia sudah menghapal sampai dengan juz 25. Saat ditanya apakah di kota akan mondok. Ayu pun menjawab 'tidak'.


"Kenging punapa mboten kuliah wonten ibukota kabupaten kita mawon?" Tanya Umi Laila.


{Kenapa tidak kuliah di Ibukota kabupaten kita saja? }


{Saya ikut jalur beasiswa tidak mampu, Mi. Khawatir kalau ikut yang umum, bapak dan ibu saya tidak mampu membiayai.}


Umi Laila tampak manggut-manggut. Ia memang menyadari kondisi ekonomi orag tua Ayu dan Lulu. Mereka hanya buruh tani. Maka Umi Laila pun hanya mampu mengucapkan sesuatu yang membuat Ayu menahan air matanya.


"Sayang sanget menawi mangke wonten ngrika mboten mondok. Umi kuwatos apalan Njenengan, Nduk. wonten sisi menika umi salami menika rumaos Njenengan kathah ngrencangi umi lebet mucal lan mucal adik-adik santri enggal." Ucap Umi Laila lagi.

__ADS_1


{Sayang sekali kalau nanti disana tidak mondok. Umi khawatir hapalan mu Nak. Disamping itu, Umi selama ini merasa kamu banyak membantu Umi dalam mendidik dan mengajar adik-adik santri baru. Namun semua memang ada waktunya. Nanging sedaya estu wonten wekdalipun.}


Umi Laila pun menyampaikan kepada Abi Rohim tentang kabar jika Ayu akan dijemput oleh kedua orang tuanya dalam beberapa hari kedepan. Abi Rohim pun berangkat ke Pulau Jawa untuk membesuk Furqon. Dan kabar kesehatan Furqon kembali membuat Umi Laila dan Abi Rohim selalu mencari kemanfaatan untuk orang lain.


"Mi, Furqon kemungkinan Abi boyong sekalian ya." Ucap Abi Rohim. Laila pun tak dapat bertanya apapun. Ia sudah mengerti suaminya. Ia tak akan menceritakan perihal yang dapat menambah khawatir dirinya. Ia hanya mampu bershalawat dan membaca Al Fatihah yang ia khususkan untuk anaknya Furqon yang sedang di berikan ujian sakit saat baru kurang lebih satu tahun mondok.


Saat Umi Laila baru saja menerima telepon dari Abi Rohim, kedua orang tua Ayu yang baru tiba di Kali Bening sore tadi, menemui Umi Laila. Ternyata kedua orangtuanya Ayu lebih suka Ayu kuliah seraya mondok di Kali Bening. Akan tetapi mereka keberatan untuk membayar beasiswa yang ditawarkan untuk anak berprestasi yang sistemnya di bayar dua kali dan lulus sampai Wisuda.


"Saleresipun kita kala-wingi dipunajengaken kalih pilihan, Umi. Ingkang pertami tawinan kuliah wonten kitha lan ingkang setunggalipun kuliah beasiswa ugi nanging wonten ibukota kabupaten. Nanging kita mboten sagah ongkosipun . Lan sistem beasiswanipun estu kaping kalih bayar." Jelas Orang tua Ayu.


{Sebenarnya kami kemarin dihadapkan dengan dua pilihan Umi. yang pertama tawaran kuliah di kota dan yang satunya kuliah beasiswa juga tapi di ibukota kabupaten. Tapi kami tidak sanggup ongkosnya. Dan sistem beasiswa nya memang dua kali bayar.}


Sebenarnya Ayu juga mendapatkan beasiswa kader dari salah satu organisasi. Namun biaya pertama saat akan masuk kuliah yang lumayan besar. Berbeda dengan yang di Ibukota Jakarta. Bisa di cicil hingga wisuda. Biaya wisuda 12 juta sampai wisuda yang harus dibayar dua kali selama setahun. Membuat orang tua ayu lebih memilih anaknya mengambil yang di Ibukota Jakarta.


Dengan alasan Ayu bisa tinggal dengan sanak saudaranya yang ada di kota itu. Umi Laila pun berasalan tunggu Abi Rohim pulang dulu. Padahal Umi Laila meragukan anak didiknya untuk pergi ke Ibukota Jakarta. Ibarat kata buah, Ayu adalah buah yang dari kecil disemai oleh Umi Laila hingga kini ia hampir matang. Tinggal menunggu matangnya saja, sayang sekali jika jatuh di tempat yang tidak baik. Hapalan santrinya, kemnafaatan ilmu santrinya, karakter santrinya yang ia tahu belum siap jika harus ke kota besar.


Sepulangnya Abi Rohim bersama Furqon. Hati Umi Laila kembali harus dikuatkan melihat kondisi putra Sulungnya.

__ADS_1


"Innalilahi.... Astaghfirullah.... Kok kemarin di telpon bilangnya baik-baik saja toh Nak?" Tanya Umi Laila yang menahan air matanya agar tak jatuh dihadapan putranya.


__ADS_2