LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 6 SURAT ABAH UCUP


__ADS_3

Abah Ucup sudah mau menuju pintu kamar Waroh. Namun Bu Salamah sudah menghadang di pintu ruang tamu.


"Sudah Pak. Buruan ke kantor pos. Jangan terlalu ditanggapi. Waroh itu belum sehat betul."


"sekalian di rukyah saja anak mu itu. Mungkin setan di tubuhnya sudah banyak sekali. Sama orang tua kok kurang ajar sekali!" Ujar Abah Ucup dengan emosi. Ia pun kembali ke arah motornya. Ia mengengkol motornya beberapa kali. Saat sudah tak terdengar suara motor Abah Ucup.


Waroh keluar dari kamar. Putri sulung Bu Salamah itu duduk di kursi yang berada di dapur. Ia memakan pisang goreng yang masih terasa hangat.


"Makan nasi Roh. Itu ibu sudah masak bening tahu sama goreng ikan. Obatnya masih harus diminum."


Waroh masih mengunyah pisangnya. Ia mengungkapkan isi hatinya pada sang ibu. Semalaman ia tak bisa tidur. Ia masih memikirkan cara agar Rohim tak jadi menikah dengan Laila. Sehingga ia pun memiliki rencana.


"Pokoknya kalau Abah masih tetap mau menikahkan Laila dengan Rohim, aku Ndak mau mereka tinggal disini. Terus semua kebun, tanah, sawah itu semua untuk aku. Laila Ndak boleh dapat sepeserpun."


Bu Salamah yang sedang mengelap meja melongo mendengar penuturan Waroh.


Ia duduk dihadapan Waroh.


"Ya Allah Roh. Kamu itu mikir. Bapak mu itu masih hidup. lah kok sudah mikir warisan."


"Ya biar adil. Aku Ndak boleh ke kota. Aku Ndak kuliah. Sedangkan Laila dari SMA sudah di kota terus kuliah."


"Biar kalau dia masih menikah dengan Rohim. Biar susah dia menikah dengan Rohim. Bisa apa Rohim yang cuma guru ngaji. Ndak bakal bahagia kamu Laila. Pokoknya klo kamu menikah dengan Rohim, semua ini harus jadi milik aku. Biar Abah Ndak bisa bantu kamu kalau Rohim itu Ndak bisa menghidupi kamu." Batin Waroh dalam hatinya.

__ADS_1


Bu Salamah menatap Waroh lekat.


"Ngidam apa aku dulu, kok punya anak keras nya minta ampun. Apa aku memang salah didik. Lah kalau Laila, sekali saja Ndak pernah mbantah." Bu Salamah pun mengeluh dalam hatinya. Ia sebetulnya sering lelah mendidik Waroh. Namun apalah daya, rasa sayang Bu Salamah saat mendidik Waroh yang masih sendiri. Ia akan selalu menuruti kemauan anaknya. Saat Waroh menangis meminta sesuatu, ia akan langsung menuruti kemauan sang anak.


Ia langsung memberikan yang diinginkan Waroh. Tanpa disadari oleh Bu Salamah bahwa hal itu membuat ia mendidik anaknya menjadi bos untuk orang tuanya. Anak jadi tak memiliki rasa sabar. Karena naf sunya selalu terpenuhi. Dimana seharusnya ketika seorang anak menginginkan sesuatu. Orang tua harusnya menunggu hingga naf su sang anak hilang baru memberikan yang diinginkan. Karena hal itu melatih kesabaran anak. Satu karakter yang akan tertanam hingga mereka dewasa.


Hari demi hari surat yang di kirim oleh Abah Ucup pun telah sampai di pondok pesantren Hikam. Bu nyai dari pondok pesantren itu memanggil Laila yang sedang membantu beberapa santri yang mengabdi di Pondok itu, memasak untuk makan siang para santri. Di pondok itu satu hari bisa masak 50kg beras. Maka santri putri hanya bertugas memasak sayur dan lauk pauk. Sedangkan nasi akan dimasak oleh santri yang mengabdi di pondok tersebut.


Laila yang masuk ke ruangan biasa Bu nyai nya menerima setoran hapalan santri, ia berjalan dengan lututnya dan menundukkan kepalanya. Tiba di depan Umi Nafi, Laila men cium punggung tangan sang guru.


"Nduk, ada surat dari bapak mu."


Laila mengambil surat itu dengan sopan. Kepalanya masih tertunduk.


Foto itu pun terjatuh di lantai yang masih tanah. Seorang teman yang berjalan di hadapan Laila tak menyadari jika ia menginjak foto tersebut menggunakan sandalnya. Sehingga foto Rohim pun menempel pada bawah sandal teman Laila yang sedang sibuk mondar mandir menyiapkan bumbu semur untuk memasak ayam.


Laila duduk di dekat Tungku yang biasa digunakan untuk memasak. Ia sedang menunggu air panas mendidik untuk merebus daun Ubi atau daun singkong. Ia membenarkan posisi kayu bakar di tungku itu sebelum ia membaca surat dari Abahnya.


"Surat dari siapa Lai?" Tanya sahabatnya yang sedang mengiris bawang.


"Dari Abah. Mungkin Abah menelpon tapi tak bisa karena hp ku hilang."


"Semoga Ndak ada yang melamar kamu. seperti Lesti. Kalau kamu juga boyong(pulang), aku bisa gila sendirian disini. Yang lain Ndak ada yang bisa diajak beneran berkhidmat buat pondok. Masih bocah-bocah." Ulfa mengungkapkan isi hatinya. Santriwati yang mengabdi di pondok itu satu persatu sudah pulang atau boyong karena ada yang melamar. Dan yang terakhir adalah Lesti teman dekatnya bersama Laila yang biasa mengurus keperluan dapur.

__ADS_1


Laila membenarkan posisi kain sarungnya. Ia membuka lipatan kerta itu. Terlihat tulisan tangan Abah Ucup.


..."Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....


...Nduk, Abah berkali-kali menelpon tapi no mu tidak aktif. Jadi bapak mengirimkan surat ini. Abah berharap kamu dan Pak Yai dan Bu nyai mu sehat semua. Dan semoga kamu semakin menjadi anak Sholehah....


Abah dan Ibu di kampung sehat, Abah hanya ingin memberikan kamu kabar. Ada pemuda yang bernama Ahmad Rohim. Dia guru ngaji di desa Sumber Sari. Di datang melamar kamu. Dan Abah menerimanya.


Abah harap akhir bulan ini kamu bisa pulang. Abah menerima lamaran Rohim karena dia itu mengerti ilmu agama. Abah rasa dia cocok untuk kamu yang juga paham ilmu agama. Kamu lihat fotonya. Ndak usah lihat wajahnya. Insyaallah bapak jamin, ini anaknya akhlaknya baik Nduk. Dulu kamu bilang kalau kamu menikah nanti mau sama lelaki yang akhlaknya baik dan mendapatkan ridho Abah dan guru mu. Ini Abah ridho kalau kamu menikah dengan Rohim.


Itu saja surat dari Abah. Kabari Abah mu kapan kamu bisa boyong. Nanti Abah akan menjemput mu. Sampaikan salam pada Pak Kyai dan Buk Nyai mu.


Wassalamu'alaikum."


Laila menatap Surat itu sesaat. ia memang tak asing dengan nama Rohim. Karena setiap pulang idul Fitri para gadis Sumber Waras akan menceritakan tentang kharisma Rohim. Namun ia belum pernah bertemu dengan lelaki yang bernama Rohim itu. Karena setiap idul Fitri, Rohim akan pulang ke kampung halamannya.


Laila membuka amplop mencari foto yang dimaksud Abahnya namun tak ia temukan foto Rohim. Ia mengibaskan sarungnya, kalau-kalau jatuh di atas sarung. Namun tak ia temukan. Lalu ia berdiri. Ia mencari di sekelilingnya. Namun kedua netranya tertuju pada sebuah pas foto berukuran 3x4 yang berada di dekat sandal Ulfa.Ia bergegas mengambil foto itu. Saat foto itu telah berada di tangan Laila, gambar di foto itu tak lagi terlihat jelas. Karena Rohim yang mencetak foto itu menggunakan kertas karton dan tinta printer biasa, sehingga akan luntur ketika terkena air.


Namun di belakang kertas itu tertulis sebuah nama yang bertuliskan Arab.


..."احمد رحيم"...


Seketika suara Ulfa berteriak dibelakang Laila..

__ADS_1


"Eleuh.... Eleuh... Ahmad Rohim... Asyeeekkk. Bilangnya dari Abah. Abah Rohim nih... Abah Apa calon Abi?" Goda Ulfa.


__ADS_2