
Satu bulan berlalu dari kedatangan Umi Laila ke rumah ibu Mimi. Namun pandainya anak bersilat lidah dan bersandiwara. Maka orang tua lebih percaya pada anaknya. Kesal pada Umi Laila maka fitnah untuk Umi Laila pun kembali di gencarkan. Bukan perjuangan memang jika tanpa kesulitan atau halangan. Begitupun Umi Laila, perjuangannya untuk mendidik santri-santri nya kembali di berikan ujian.
Sejak kedatangan Umi Laila ke kediaman Ibu Mimi. Satu persatu anak yang mondok 24 jam yang memang asli warga Kali Bening di bawa pulang alias boyong. Umi Laila siang itu kembali harus menunjukkan bahwa dawuh Mbah Yai Gus Dur, ia terapkan dalam kehidupannya. 'Sabar itu tidak ada batasnya, kalau masih ada batasnya ya bukan sabar'. Akan kedatangan tamu dari kota, seorang Kyai atau teman Gurunya Abi Rohim. Umi Laila sudah mempersiapkan semua hidangan untuk menyambut tamunya. Tetapi dua jam menjelang tamu itu tiba, Umi Laila memanggil salah satu santri yang sering menemaninya di dapur.
"Astaghfirullah.... Mintuuullll.... " Teriak Umi Laila.
Teriakan Umi Laila terdengar hingga ke kamar para santriwati yang terpisah tembok dengan dapur. Lulu yang memiliki panggilan sayang 'mintul' pun bergegas ke arah dapur. Ia juga khawatir, karena sudah hapal dengan nada dan suara Umi Laila yang memanggilnya dengan panggilan khas, tentu ia melakukan kesalahan atau keteledoran.
"Inggih Mi.... " Ucap Lulu yang duduk dan menunduk di hadapan Umi Laila.
"Ya Allah Nduk.... ini tadi kan Umi minta kamu pindahin ke tempat lain. Lah kok sudah tinggal segini?" Tanya Umi Laila penasaran.
Lulu melirik wadah nasi yang terbuat dari stainless tersebut. Kedua tangannya menarik-narik ujung roknya. Ia baru ingat jika tadi ada tiga santri putra yang akan pergi kerja kelompok. Mereka ingin makan lebih dulu. Lulu yang merasa lelah hanya mengatakan kepada tiga santri lelaki yang masih SD tersebut untuk mengambil sendiri nasi dan lauknya. Namun karena ceroboh, beras yang ia masak khusus untuk Mbah Yai yang akan jadi tamu, justru di makan oleh tiga santri tadi.
"Nuwun sewu Umi, mangke kulo masak malih..."
[Maaf Umi, Nanti saya masak lagi....]
Ucap Lulu merasa bersalah. Ia sering sekali teledor. Dan itu kadang sering diingatkan Umi Laila pada santrinya.
"Lu... lu.... Ya sudah. Panggil Mbak Ayu." Ucap Umi Laila.
Umi Laila membeli sendiri beras khusus yang berbau harum tersebut karena jika meminta santrinya maka tidak akan dijual oleh Toko yang biasa menjual sembako tersebut.
Sedangkan Lulu cepat menyiapkan bumbu dan santan untuk memasak nasi yang biasa disajikan Umi Laila untuk tamu yang ia anggap guru atau ulama.
Ayu pun sudah berada di motor dan menunggu Umi Laila keluar. Tak lama ibu Furqon tersebut sudah keluar. Tiba di sebuah toko yang dimaksud. Suasana toko cukup ramai. Dan Ayu mengikuti kemana Umi Laila bergerak. Bukan hati Umi Laila yang sakit saat diperlakukan sangat tidak sopan. Tapi hati santriwati yang ke mana-mana mengantarkan Umi Laila dengan sepeda motor.
__ADS_1
"C u i h! "
Bu Mimi yang juga sedang berbelanja di toko itu sengaja membuang air liur ke arah di mana Umi Laila akan lewat. Bukan karena ia istri Ustadz Rohim atau biasa dipanggil Abi Rohim Tetapi karena Umi Laila tahu, disaat ada orang yang tidak menyukai diri kita maka itu adalah wujud cinta Allah untuk kita. Mampukah seorang Umi Laila naik kelas menghadapi orang-orang yang seperti Ibu Mimi.
Disaat Ayu begitu geram karena ini bukan kali pertama Bu Mimi melakukan itu saat bertemu Umi Laila. Umi Laila memberikan pelajaran langsung pada santriwati tentang arti sabar.
"Apa kabar Bu? Bagaimana sekarang kabarnya?" Tanya Umi Laila yang bukan basa-basi tapi memang tulus.
Alih-alih menjawab pertanyaan Umi Laila. Bu Mimi justru melengos dan meninggalkan Umi Laila seraya memprovokasi Umi Laila dengan berbicara pada ibu lainnya.
"Ayo pulang Tin... Jadi orang mending kayak kita ini Tin. Ndak usah jilbab-jilbab atau sok alim. Tapi ga fitnah orang." Ucap Bu Mimi.
Bu Mimi pun membuang air liur ke arah lain namun tepat ketika di sisi Umi Laila. Sungguh hati orang yang mencintai akan sakit ketika orang yang ia cintai di perlakukan seperti itu. Ayu sudah menahan buliran bening yang akan jatuh dari sudut matanya. Ia sakit hati melihat Umi Laila sudah sudah berapa kali ketika berpapasan dengan Bu Mimi selalu mendapatkan sindiran demi sindiran. Namun Umi Laila tetap tersenyum ke arah Bu Mimi.
Ia sudah banyak makan garam menemui wali santri seperti Bu Mimi. Ketika mengantar anak ke pondok pesantren mengatakan untuk pasrah kepada pengasuh tetapi ketika diminta kerjasama dalam mendidik anak ketika anaknya di rumah atau terdapat permasalahan pada anak, orang tua justru tak percaya pada pihak pondok.
Umi Laila pun membeli beras yang menjadi tujuannya ke warung atau toko sembako tersebut. Tiba kembali di pondok pesantren, Ayu menangis tersedu-sedu di kamar. Lulu yang baru akan ke dapur bingung.
Ayu mengusap air mata dengan punggung tangannya.
"Bu Mimi loh Dek, masa' berkali-kali itu loh di depan Umi Buang air liur." Ucap Ayu sedih.
"Astaghfirullah.... pantes keras hati begitu. Lah sama orang soleh bisa bencinya kelewat begitu. Na'udzubillah... " Ucap Lulu.
Gadis itu pun pergi ke arah dapur. Ia membantu menanak nasi yang tadi sempat di makan oleh santri putra. Sedangkan Umi Laila pun bersiap untuk menyambut tamunya. Satu hari berlalu seperti biasa. Walau ada tamu, para santri tetap mengaji. Umi Laila akan menggantikan Abi Rohim mengajar di kelas.
Malam hari adalah waktu dimana yang bisa dimiliki oleh Umi Laila dan Abi Rohim sekedar untuk berbagi cerita tentang anak-anak atau kondisi para santri. Umi Laila juga menceritakan pada Abi Rohim tentang peristiwa siang tadi.
"Terus Umi sakit hati?" Ucap Abi Rohim seraya membuka kopiahnya.
__ADS_1
"Ya tidak, Umi inget pesan Abi. Berharap sama penilaiannya Gusti Allah. Jadi ndak sakit hati sama Bu Mimi. Tapi semenjak kejadian itu, banyak santri yang tidak mondok lagi Bi." Keluh Umi Laila.
"Mau ada santri atau tidak. Kita akan tetap ngabdi untuk Kali Bening. Walaupun hanya tinggal satu santri sekalipun." Ucap Rohim.
Umi Laila pun menyimpan pakaian yang ia lipat kedalam lemari lalu menanyakan apakah persiapan Munir untuk acara pernikahan nya dengan Nuaima sudah siap. Rohim pun mengatakan siap. Tiba-tiba pintu kamar Rohim di ketuk oleh Ayu. Ayu menyampaikan ada tamu dari Sumber Waras. Seorang kerabat Abah Ucup. Umi Laila pun bergegas menemui tamu tersebut bersama Abi Rohim. Tiba di ruangan tersebut ternyata Paman Umi Laila mengatakan jika suami Waroh sedang dalam keadaan tidak sadar dan akan di bawa ke puskesmas.
“Astaghfirullah.... “ Ucap Umi Laila khawatir. Ia khawatir kondisi Waroh yang biasanya akan panik jika ada masalah dan hanya sibuk meratapi nasib tanpa mencari solusi. Maka malam itu ia meninggalkan ketiga anaknya. Ia menitipkan pada Ayu dan Lulu.
Tiba di Sumber Waras. Waroh bahkan tak menghiraukan kehadiran adiknya. Ia masih menangis saja.
“Kenapa tidak dibawa ke puskes kak?” Tanya Laila.
Waroh hanya diam saja. Beberapa kerabat mengatakan jika dokter umum di desa mereka sudah memeriksa kondisi suami Waroh. Dokter tersebut menyarankan untuk membawa Suami Waroh ke Rumah sakit kota langsung. Mengingat keterbatasan peralatan di puskesmas kecamatan.
Waroh menangis dan hanya menundukkan kepalanya. Saat kakak perempuan Umi Laila mengatakan jika ia tak punya sepeser pun uang tabungan. Umi Laila memeluk tubuh Kakaknya.
“Astaghfirullah.... Apa aku bukan tempat mu untuk berkeluh kesah kak. Kita bawa dulu Mas ke rumah sakit. Masalah biaya nanti kita pikirkan.” Ucap Umi Laila.
Waroh hanya pasrah. Namun yang semakin membuat kakak Umi Laila menangis hebat kembali ketika tiba di rumah sakit kota, suami Waroh harus di operasi karena terjadi penyumbatan darah di bagian otak. Hari itu, sosok yang selama bertahun-tahun tak pernah menerima kebaikan Umi Laila, menangis dalam pelukan Umi Laila. Ia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Umi Laila. Jika kemarin Umi Laila menunda keberangkatan umroh karena kondisi hamil muda dan adik ipar yang butuh biasa menikah. Maka kali ini, Abi Rohim yang menunjukkan bahwa sebuah perlakuan tidak baik tidak harus di balas sama.
Suami waroh pun di operasi. Umi Laila bahkan menemani Waroh di rumah sakit. Pagi hari saat akan pulang ke desa. Umi Laila mengajak Abi Rohim berhenti di toko emas. Ia sudah meminta izin suaminya untuk membantu Waroh. Maka sementara menunggu uang yang diurus Abi Rohin keluar dari pengurus Agen Umroh. Umi Laila akan menggunakan uang cincin yang di jual untuk kebutuhan Waroh juga anak-anaknya yang ditinggalkan di rumah.
“Melihat Kak Waroh nangis sambil meluk kamu kayak tadi itu, ga nyangka. Kalau ingat setiap lebaran rantang mu selalu kembali bersama isinya.” Ucap Abi Rohim di atas motor.
“Kan Abi sendiri yang bilang jangan sakit hati, nanti kasihan kak Waroh.”Ucap Umi Laila seraya membenarkan posisi duduknya dan memperhatikan baju yang di bagian bawah, khawatir terlilit di gir motor.
Setiap musibah ada hikmah. Maka hikmah sakitnya suami Waroh membuat perempuan yang lama memendam sakit hati pada adik sendiri, harus mengakui kebesaran hati adiknya. Bahkan rada gengsinya harus runtuh karena sang adik benar-benar tulus membantunya. Apalagi dulu ia sering mencibir Laila yang begitu loman atau royal pada orang-orang susah. Hari ini Umi Laila membuktikan bahwa orang lain saja ia bantu jika memang bisa, apalagi saudara sendiri.
Bukan tanpa sebab, Umi Laila sering menolong orang. Karena ia tahu bahwa barang siapa yang gemar meringankan beban atau menolong orang lain. Maka di hari akhir nanti akan lapangkan dari satu kesusahan.
__ADS_1