
Tak terasa Laila telah menjadi warga Sumber Sari hampir satu bulan. Ia pun mulai terbiasa dengan hidup di lingkungan masyarakat. Bukan sabar namanya jika tidak ada yang menguji. Bukan Ujian jika tidak di hadapi.
Pagi itu saat akan akan membeli sayur di salah satu tukang sayur yang biasa berkeliling menggunakan gerobak. Tampak beberapa ibu-ibu yang sedang memilih sayur. Laila pun membeli sayur di gerobak itu.
Wajah Laila terlihat pucat. Namun ia tetap memasang wajah ramah dengan senyumnya pada ibu-ibu. Namun rasa mual berpaa hari yang ia alami, membuat ia menahan rasa ingin muntah saat berada di dekat gerobak sayur itu.
Bukan hal yang aneh jika ada perkumpulan ibu-ibu dan akan ada kesimpulan- kesimpulan sendiri. Saat Laila selesai membeli sayur. Ia pun kembali ke rumahnya. Ia belum selesai mencuci pakaian dan juga seprainya. Namun beberapa ibu tadi masih berada di tempat yang sama saat tukang sayur telah pergi meninggalkan tempat itu.
"Berarti bener ya gosipnya kalau Anak Abah Ucup itu hamil diluar nikah. Makanya mendadak nikah sama Rohim."
"Kabarnya nih. Dia itu di hamilin pacarnya di Jawa. Nah karena itu lelaki tidak mau tanggungjawab, Abah Ucup manfaatin Rohim yang lagi cari istri. Padahal Rohim itu lagi mau lamar Waroh, anak Abah Ucup paling tua." Kata Buk Kadus sambil duduk di batu yang ada di pinggir jalan.
Ibu-ibu yang lain pun masih penasaran. Bahkan ada satu diantara mereka yang sedang menyuapi sang anak, ikut duduk di sana. Karena asyiknya obrolan membuat para ibu-ibu itu membersikan sayuran yang mereka beli di bawah pohon rambutan yang berada tepat di pinggi jalan yang belum di aspal.
"Lah kalau begitu kasihan Lo Waroh ya. Pantas tidak diadakan pesta. Cuma ijab, yang diundang tetangga kanan kiri." Tambah perempuan yang berambut keriting.
Ibu yang sedang menyuapi anaknya pun ikut menimpali gosip tentang Laila.
"Lah cocok kalau begitu. Kemarin sepupu ku Lina menangis tersedu-sedu. Rohim itu ustadz tapi kok suka tebar pesona. Lah wong selama ini selalu perhatian sama Lina. Kok Tiba-tiba nikah sama Laila. Terus pakai acara di ajak makan di warung sotonya.Kan Ga punya hati itu si Rohim. "
"Guru ngaji kok begitu ya?"
"Iya... Ga nyangka. Kayaknya diem, alim. Ga tahunya... Amit-amit..."
Seperti itulah obrolan atau rasan-rasan yang akan sangat menarik, sangat asyik bagi kaum hawa yang tidak memiliki ilmu bahwa ghibah itu adalah hal yang paling merugikan. Karena di hari akhir nanti akan ada orang bangkrut karena amal-amalnnya menjadi berkurang karena suka membicarakan orang lain, ghibah atau gosip.
Siang hari menjelang waktu shalat ashar. Terdapat satu ibu yang mengantar anaknya untuk mengaji. Ia melihat Laila sedang menyapu masjid, membersihkan kamar mandi dan tempat wudhu. Lalu ia pun membuang sampah yang telah penuh. Saat akan membuang sampah dan ingin membakarnya. Ia diajak ngobrol sama Ibu Minah.
Ibu Minah adalah tetangga yang berada tepat disebelah rumah Bu Kadus. Ibu Minah terkenal lugu. Ia perempuan yang akan terombang-ambing, karena tak memiliki pendirian. Jika ia berkumpul dengan orang yang suka bergosip, ia akan ikut menikmati gosip itu atau bahkan ikut menyebarkan gosip itu.
Seperti saat ini, lugunya nya Ibu Minah. Ia seharusnya tak menyampaikan pada Laila apa yang dibicarakan ibu-ibu pagi tadi pada Laila. Karena ketika kita mendengarkan seseorang menyampaikan berita yang belum pasti akan menjadi fitnah ketika kita menyampaikan pada mereka yang menjadi bahan pembicaraan.
Beruntung Laila bukan kebanyakan perempuan, yang apabila mendengar bahwa dirinya menjadi bahan gunjingan lantas marah, atau malah melabrak yang menggunjing dirinya. Ia lebih memilih bersabar dengan setiap berita miring yang sedang mengarah padanya.
Bahkan tanpa disadari Ibu Minah menceritakan aib dari Bu Kadus.
"Sampeyan ngerti ga. Padahal dulu dia juga hamil anak pertamanya itu ya belum nikah sama pak Kadus."
__ADS_1
"Astaghfirullah... Bu Le. Sudah Ndak baik bicarakan aib orang. Nanti aib kita juga dibuka sama Allah bagaimana?" Ingat Laila pada Ibu Minah.
"Memangnya berdosa Neng. Kan kenyataan? bukan kayak Bu Kadus bilang sampeyan hamil di luar nikah. Itu fitnah karena saya tahu kalau sampeyan itu bukan perempuan seperti itu. Lah wong setiap hari saya bisa lihat sampean perempuan seperti apa.
Ibu Minah yang berada di sisi kiri masjid bisa menilai Laila. Jika anak Bungsu Abah Ucup itu adalah perempuan yang baik. Ia selalu menundukkan pandangannya. Bahkan ia selalu mengenakan kerudung kemanapun. Ia juga tidak pernah menerima tamu laki-laki saat Rohim tak dirumah. Karena di desa nya bahkan terbiasa bagi perempuan yang suaminya berkerja di ladang kadang ada lelaki yang datang mengobrol. Hal itu ia lihat tak ada pada diri Laila.
"Ya memang kenyataan. Tetapi itu aib masalalu seseorang, saya yang ga tahu. Sekarang jadi tahu karena Bu Lek cerita sama saya." Jelas Laila pelan.
Akhirnya Bu Minah pulang. Tak lama muncul lah Buk Kadus yang juga mengantar anaknya menggunakan sepeda.
"Jek ngopo Mbak Laila?" Sapa Buk Kadus.
Laila pun tersenyum pada Buk Kadus.
Buk Kadus pun mendekati Laila, ia penasaran akan kondisi apakah Laila hamil. Jika hamil, ia ingin menyelidiki berapa bulan usia kandungannya. Karena tentu akan menjadi bahan gosip terbaru bagi dirinya.
"Lah kok akhir-akhir ini sampeyan kok pucat toh Mbak? apa sudah ngisi?" Tanya buk Kadus sambil duduk di emperan masjid.
"Belum kok Bu." Jawab Laila pelan.
"Lah kok beberapa pagi ini Mbak Laila kok muntah-muntah terus katanya Bu Minah. Itu biasanya hamil klo sudah begitu." Jawab Bu Kadus.
"Baru satu bulan aku menjadi bagian masyarakat, ternyata beberapa tantangan sudah datang menghampiri." Batin Laila.
"Saya tidak tahu, mungkin masuk angin."
"Lah masuk angin kok mukanya pagi saja. Periksa dong sama Bu bidan biar jelas." Saran Bu Kadus pada Laila.
Bu Kadus pun pergi meninggalkan Laila dengan sedikit kesal karena tak berhasil mengorek informasi untuk dijadikan bahan gosip. Laila yang baru akan kembali ke rumah kaget karena Rohim ada di balik tembok masjid. Suaminya itu mendengarkan apa yang dari tadi dibicarakan Ibu Minah dan Bu Kadus bersama istrinya.
Ia duduk di sebelah masjid dan meminta Laila pun duduk. Sambil menunggu para anak-anak yang akan mengaji datang, sepasang suami istri itu pun bercerita.
"Kenapa ga kamu bilang kalau tidak Bu Minah juga membicarakan Buk Kadus?Hehe...." Goda Rohim pada Liala.
"Ya kasihan suami ku ini nanti di hari akhir. Harus menanggung dosa karena istrinya ini mengadu domba tetangganya agar ribut, tidak akur. Biarlah Laila mau dijadikan bahan gosip. Mungkin Bu Minah punya rasa kesal dengan Buk Kadus namun butuh tempat berkeluh kesah. Maka Laila ikhlas menjadi tempat keluh kesah nya tapi mudah-mudahan istri Mas Ini tidak ikut membuat hubungan diantara para ibu-ibu itu. Biar Laila menjadi tong sampah nya."
Rohim membersihkan jilbab Liala yang terdapat serpihan debu bekas Bakaran sampah yang tadi ia bakar.
__ADS_1
"Mudah-mudahan kamu belajar dari kisah Putri Sayidina Abu Bakar. Saat fitnah menimpa beliau."
"Kisah dimana Sayyidah Aisyah dituduh telah berselingkuh dengan seorang sahabat yang bernama Shafwan bin Mu’aththal. Kabar itu dibuat oleh pemimpin kaum munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul dan kemudian disebarkan oleh beberapa orang."
"Ya, Mas harap kamu jangan sampai sakit seperti Sayyidah Aisyah. Jangan terlalu di dengar apa yang menjadi gunjingan orang tentang Mu Dik." Ucap Rohim menatap Laila.
Pada tahun kelima Hijriyah, Sayyidah Aisyah di fitnah dengan seorang sahabat yang bernama Shafwan bin Mu’aththal. Hal tersebut dengan cepat beredar ke seluruh penjuru di Madinah sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum Muslim
Rohim melanjutkan nasihatnya untuk sang istri.
"Sayyidah Aisyah sangat terpukul usai mengetahui kabar dirinya berselingkuh tersebar di seluruh Kota Madinah, Dik. Bahkan Sayyidah Aisyah sempat tinggal di rumah orang tuanya setelah mendapatkan izin dari Nabi Muhammad. Alhamdulilah, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menerima wahyu tentang pembebasan Aisyah dari tuduhan keji itu, yaitu pada Surat An-Nur ayat 11. Bahkan Rasulullah tidak menghukum orang-orang munafik itu. Sungguh nabi Adalah manusia biasa tapi akhlak beliau begitu luar biasa."
Ucap Rohim sambil membenarkan kopiah hitamnya.
"Tenanglah mas. Insyaallah Laila akan bersabar dengan setiap gosip yang mengarah ke Laila. Mas bantu doa untuk istri mas ini agar bisa terus bersabar. Tetapi sepertinya besok Laila tidak sabar."
Rohim pun menaikan alisnya.
"Tidak sabar kenapa?"
"Untuk periksa ke Bu Bidan. Kata Bu Kadus tadi. Kalau sudah sering mual di pagi hari, itu tandanya hamil. Temani Laila periksa ke bidan besok ya Mas?"
Sudut bibir Rohim tertarik. Hatinya bahagia mendengar penuturan istrinya.
"Sebenarnya mas ini ada rasa khawatir Dik."
Laila pun menyimak Kalimat suaminya
"Waktu itu kamu bilang ketika selesai haid, tapi setelah kita selesai berhubungan kamu keluar darah lagi. Mas jadi kepikiran, kita yang kelasnya santri saja masih bingung membedakan darah itu. Kamu juga belum terlalu paham bab itu. Khawatir, kita malah berhubungan badan saat kamu masih haid. Tapi kamu mengira kalau sudah suci."
Laila termenung mendengar penuturan sang suami. Ia pikir apakah Rohim tak bahagia jika ia hamil. Tapi justru sang suami khawatir jika proses ikhtiar memiliki keturunan justru di lalui saat diri dalam keadaan tak suci atau dalam keadaan kotor.
"Mas sudah mengirim surat pada teman mas di Jawa. Kalau nanti Umi di tempat ku mondok dulu sudah pulang ke Jawa, Nanti kamu atau aku harus berangkat kesana. Kita harus belajar bab itu sampai paham. Agar bisa menjelaskan pada jamaah. Mas jadi gundah, khawatir... kalau-kalau anak-anak sekarang begitu susah di arahkan apakah salah satunya bab jima' ini yang jadi faktornya. Tapi mas hanya manusia biasa yang hanya bisa menduga. Kamu siapkan Dik, jika salah satu dari kita belajar lagi untuk mengambil sanad kitab yang membahas masalah Haid, nifas, istihadho?"
"Insyaallah jika mas mengizinkan dan ridho. Demi untuk menyebarkan ilmu dan manfaat untuk Umatnya Rasulullah, Laila siap mas. Siap untuk tetap terus belajar."
"Wahai Rasulullah... Semoga kami termasuk umat mu yang mencintai engkau di hari akhir nanti. Begitu besar cinta suami ku pada jama'ah nya. Ia sampai bingung memikirkan hal yang aku sendiri tak terlintas untuk memikirkan nya."
__ADS_1
Setelah hampi satu bulan menikah, ia dan Rohim betul-betul menjadi pelayan bagi masyarakat di Sumber Sari. Apalagi Rohim, waktu suami Laila itu hanya ada untuk sang istri di waktu malam menjelang pagi dan siang hari, sebelum mengajar mengaji. Ia disibukkan dengan mencari nafkah dan menyebarkan ilmu yang ia miliki.