
Hari berganti hari, bulan berganti tahun. Umi Laila telah dianugerahi seorang putri dengan rambut ikal. Kini bayi mungil itu telah berusia 18 bulan atau satu tahun setengah. Umi Laila memberikan putrinya ASI ekslusif seperti ketiga anak lainnya. Rahmi telah terlelap di balik selimut nya.
Malam itu saat ia baru saja menyelimuti putrinya. Umi Laila kembali mengingat kejadian sore tadi dimana ia melihat sebuah kejadian dimana adik iparnya ternyata selama ini memendam rasa yang begitu berat. Rasa cemburu Munir pada iparnya begitu besar hingga tak mampu melihat jika istrinya adalah orang yang begitu setia. Tetapi kecantikan sang istri justru memicu lelaki lain terobsesi pada Nuaima.
"Masih mikir Nuaima?" Tanya Abi Rohim seraya melirik istrinya yang masih belum terpejam.
Seulas senyuman Umi Laila berikan pada suaminya. Ia masih memikirkan iparnya. Nuaima, ia tak menyangka jika istri Munir itu justru memiliki masalah dalam rumah tangganya. Perempuan yang cantik, karir sedang menanjak. Nuaima justru merasa tersakiti oleh semua kelebihannya. Sawang sinawang, pribahasa tersebut mungkin pantas disematkan untuk Umi Laila dan Nuaima. Abi Rohim pun teringat akan pesan yang masuk ke ponselnya beberapa waktu lalu.
"Mi, ini maksudnya Nuaima apa? Buat Umi ini pesannya. Memangnya Nuaima mau pergi kemana?" Tanya Abi Rohim bingung.
Umi Laila yang baru saja merapatkan selimut anak-anaknya, ia cepat melihat ke arah ponsel Abi Rohim. Satu tangannya ia letakkan di dada. Ada rasa was was seketika.
"Ya Allah, Umi dari tadi perasaannya tak enak Bi. Semoga Dik Munir dan Nuaima tidak ada masalah lagi. kasihan Ayra, Umi sedih lihat anak-anak kalau orang tua ada masalah. Seperti kemarin, Nuaima itu terlihat sekali tak ada semangat hidup." Ucap Umi Laila penuh rasa khawatir.
"Semoga Allah melindungi kita dari prasangka-prasangka kita." Tenang Abi Rohim pada istrinya.
"Aamiin."Jawab Umi Laila penuh harap.
Umi Laila yang terlihat sedikit meluruskan kakinya dan mengusap-usap betisnya membuat sang suami tersenyum hingga cepat Abi Rohim menarik kaki istrinya itu.
"Sini Abi pijat."
"Jangan Bi. Tidak usah. Cuma sedikit pegal mungkin karena terlalu lama berdiri tadi."
Abi Rohim yang tak menghiraukan permintaan istrinya tetap menarik betis Umi Laila hingga ia letakkan diatas pahanya.
"Bi.... Abi sudah seharian di sawah, mengajar ngaji. Abi istirahat saja. Umi juga mengantuk."
"Tidurlah. Abi belum mengantuk. Abi minta maaf ya Mi jika satu hari ini Abi ada salah."
"Umi yang banyak salah Bi. Khawatir kalau-kalau satu hari ini ada tindakan Umi atau sikap Umi yang malah akan memberatkan Abi nanti."
Begitulah kadang keromantisan antara Umi Laila dan Abi Rohim. Abi Rohim yang jarang dirumah karena pagi-pagi sekali sudah harus ke sawah dan ke ladang. Siang harinya beliau pergi ke beberapa pengajian untuk mengisi materi lalu di sore hari beliau mengajar di langgar.
__ADS_1
Namun kesibukan beliau tak membuat beliau akan berleha-leha ketika dirumah atau berkeluh kesah jika ia lelah satu hari mencari nafkah dan berdakwah. Ia malah akan membantu istrinya mungkin mencuci piring, atau menemani anak-anaknya bermain. Bahkan ia tak segan-segan memijat istrinya ketika ia melihat ada kelelahan di wajah istrinya.
Obrolan mereka berlangsung cukup lama. Setelah Umi Laila meminta Abi Rohim berhenti, akhirnya ia berhenti dan ketika akan istirahat, beliau memberikan satu amplop pada istrinya.
"Ini ada sedikit rezeki tadi dikasih orang Mi. Dia bilang buat pembangunan gedung buat santri baru yang akan datang. Hati-hati mi jangan sampai buat makan kita. Akad mereka buat pembangunan gedung santri baru."
"Tadi juga ada pak Lakoni mau titip anaknya Bi. Umi bilang tunggu Abi pulang. Lah wong kita ini cuma numpang disini. Trus tadi ninggalin uang katanya buat kita sekeluarga dan jajan Furqon dan adik-adiknya. Boleh buat Umi beli beras Bi?"
Abi Rohim melihat uang yang diambil Umi Laila dari laci terdapat 5 lembaran merah. Sedangkan uang amplop yang untuk pembangunan pondok tadi ada 10 lembar umi Laila masukan kedalam kaleng seng.
"Beli lah juga jajan untuk Furqon dan adik-adiknya. Dan ini buat Umi beli daster. Abi lihat daster mu sudah banyak yang pudar warnanya."
Abi Rohim memberikan uang dua ratus ribu yang ia ambil dari dalam dompet hitamnya.
"Loh Bi... uang darimana?"
"Abi Lupa tadi Abi jual kayu yang kemarin di tebang ada yang beli buat kayu bakar. Ya itu uangnya. Lupa mau kasih Umi tadi sore."
"Maafkan Umi Bi.... jika Abi merasa tak sedap memandang Um-" Belum selesai Umi Laila berbicara, Abi Rohim cepat menjawab rasa tidak percaya diri istrinya itu.
"Insyaallah Umi Ridho menjalani kehidupan berumahtangga bersama Abi. Dan-" Ucapan Umi Laila terhenti karena suara mobil yang berhenti di depan rumah.
Suara mobil berhenti di depan rumah dan terdapat suara tangisan bocah cukup kuat. Bagi Umi Laila tangisan itu tak asing. Dan tak lama suara pintu rumah diketuk. Umi Laila cepat mengenakan daster batiknya dan menggunakan kerudungnya.
"Biar Abi mi. Ini sudah malam."
Abi Rohim sedikit tergopoh-gopoh karena seketika perasaannya tertuju pada adik satu-satunya Munir karena tangisan anak balita itu sepertinya suara Ayra.
Lelaki itu pun bergegas ke arah depan. Ia membuka pintu depan. Alangkah terkejutnya Abi Rohim kala melihat kedua orang tua Nuaima tampak dengan wajah sedih. Ayra menangis dalam pelukan Ibu Nuaima. Abi Rohim mempersilahkan ketiga orang tersebut, raut wajah Umi Laila telah berubah melihat Ayra yang berada dalam pelukan Bu Evi yang tak lain adalah ibu kandung Nuaima.
“Apa yang terjadi?”Tanya Umi Laila.
Ia mengulurkan tangannya, ia gendong keponakannya yang masih saja menangis. Ia peluk bayi mungil itu. Ia dekap penuh rasa kasih sayang. Entah kenapa hatinya terasa pilu ketika memeluk Ayra dan menatap wajah mungil bayi itu.
__ADS_1
Ibu Evi masih sesenggukan menangis. Sedangkan pak Aji hanya terdiam, namun kedua mata sepasang suami istri itu tampak sembab.
“Nak Laila, tolong berikan ASI dulu Ayra. Daritadi ia menangis saja, mungkin ia lapar. Saya sudah coba buatkan sus u formula tapi Ayra tidak mau. Ia tak mengenal susu formula sepertinya.” Ucap Bu Evi dengan isak tangis.
Tanpa alasan, airmata Umi Laila mengalir begitu saja dari sudut matanya, ia usap wajah bayi mungil yang diberi nama Ayra Khairunnisa itu.
“Kemana Nuaima, Bu?” tanya Umi Laila penasaran namun seraya menatap wajah mungil Ayra.
“Hiks…Hiks….” Hanya ada isak tangis yang keluar dari bibir Bu Evi. Pak Aji akhirnya menceritakan kepada Abi Rohim dan Umi Siti.
“Jenazah sedang di autopsi pihak kepolisian. Saya minta proses itu. Saya khawatir ada apa-apa.” Ucap Pak Aji dengan berlinang airmata.
Abi Rohim hanya mampu bersitighfar. Air mata dari guru ngaji sekaligus pemilik ponpes Kali Bening itu mengalir dengan bibir yang terus mengucapkan istgihfar. Umi Laila pun ikut menguvapkan hal yang sama. Rasanya baru beberapa jam mereka berpisah.
“Siang tadi mereka baru saja dari sini padahal…” Ucap Umi Laila lirih.
“Maut, rezeki… semuanya terjadi atas kehendak Allah Mi…” Ucap Abi Rohim pada istrinya.
Umi Laila pun meminta izin suaminya untuk memberikan ASI pada Ayra. Ia pergi ke kamar. Ia memberikan ASI seraya memandang wajah mungil Ayra.
“Semoga kamu bisa meujudkan cita-cita Mama mu Ayra…. Kamu bisa menjadi perempuan yang sholehah. Jika memang Umi diberikan kesempatan merawat mu. Umi ingin merawat mu, Ayra.” Ucap Umi Laila seraya mengusap kepala Ayra. Bayi mungil itu tampak sesenggukan seraya menikmati ASI nya.
Bayi mungil itu betul-betul kelaparan karena semenjak ia terjaga, ia sudah merasa lapar dan haus. Akan tetapi, ia harus menahan hingga tiga jam lamanya. Maka saat ia mendapatkan rasa kenyang, ia pun tertidur. Dengan mata terpejam, Ayra tampak masih sesenggukan. Abi Rohim tampak masuk kedalam kamar dan mendekati istrinya.
“Sudah tidur?” Tanya Abi Rohim dengan suara setengah berbisik.
“Sudah Bi,” Jawab Umi Laila.
“Siapkan baju ganti Mi, siapa tahu Bu Evi ingin ganti baju. Sekalian untuk Pak Aji. Besok pagi kita insyaallah berangkat ke Surabaya.” Titah Abi Rohim.
Umi Laila hanya patuh tanpa bertanya, ia bisa melihat dari wajah suaminya tentang kesedihan. Hati siapa yang tak bersedih, kehilangan adik satu-satunya. Dan kini melihat wajah mungil keponakan yang telah menjadi yatim piatu. Umi Laila dapat melihat suaminya mengusap air matanya seraya menatap Ayra yang tertidur lelap di sisi Rahmi, putri bungsunya.
“Jadi ini makna pesan yang dikirimkan Nuaima tadi…. Insyaallah, aku akan berusaha menjaga buah hati kalian sama seperti menjaga dan merawat anak ku.” Suara Abi Rohim pelan.
__ADS_1
Umi Laila berkali-kali mengahapus airmatanya. Ia pun bergegas keluar kamar, untuk memberikan baju ganti untuk tamunya. Malam itu menjadi malam sendu untuk Abi Rohim dan Umi Laila. Bahkan sampai hampir waktu shubuh, Abi Rohim masih duduk diatas sajadah yang berada di dalam masjid. Umi Laila pun bangun beberapa kali karena harus bergantian memberikan ASI untuk Ayra dan Rahmi.