
Mukidi terlihat duduk di dekat pintu dapur. Ia menunggu Bu Sri yang sedang menanak nasi dan sayur untuk sarapan. Ini adalah hari ke tujuh di mana ia telah ditinggalkan Maya. Hatinya berangsur membaik walau ia belum berani kemana-mana. Ia tak berani keluar rumah. Ia masih malu pada masyarakat.
"Sreeeenggg." Suara minyak panas yang baru saja dimasukan ikan asin oleh Bu Sri.
Aroma ikan asin itu membuat Mukidi menoleh ke arah Bu Sri. Ia mengamati ibunya yang sudah berusia 60 tahun itu.
"Seng sabar dan sehat ya Mak....." Batin Mukidi.
Mukidi masih terus mengamati Bu Sri. Ada rasa menyesal dalam hatinya. Ia seolah diingatkan ketika akan melamar Maya. Ia tak meminta doa restu sang ibu. Langsung saja melamar, dia memang yang akan menjalani kehidupan berumahtangga dengan Maya. Tapi ia lupa kalau ridho orang tua juga salah satu jalan kesuksesan dalam berumah tangga.
"Besok lagi aku Ndak bakal langsung lamar saja Mak. Mak kudu lihat dulu, ridho dulu. Untung belum menikah. Lah kalau sudah menikah kan repot...." Mukidi masih menatap Bu Sri.
Janda dengan satu anak itu tak pernah mau menikah. Ia pernah dilamar orang saat genap tiga tahun suaminya meninggal. Namun dirinya tak ingin menikah lagi. Ia lebih memilih menjanda dan mengurus Mukidi. Dulu banyak orang yang sibuk menyuruhnya menikah lagi. Dengan alasan jika sakit siapa yang mengurus.
Hari demi hari Mukidi lalui cukup berat untuk melupakan rasa sakit hatinya. Ia bahkan meras tidak percaya diri saat keluar rumah. Namun seiring waktu bibir para tetangga pun lelah juga untuk mengomentari kisah cinta Mukidi yang di tinggal kawin lari.
Siang itu, Mukidi sedang menikmatinya makan siangnya, Tiba-tiba seorang lelaki bernama Paijo datang ke rumah nya sambil terengah-engah.
"Kang, Kang!" Ucap Paijo sambil mengelap keringat dan mengatur napasnya.
"Ada apa Jo?" Tanya Mukidi penasaran.
"Mas Waluyo kecelakaan.... Sekarang lagi masih di simpang kang. Ndak ada yang berani membawanya ke rumah sakit kang.Hhhhhh.... Hhhhh..." Mukidi masih mengatur napasnya yang masih tersengal-sengal.
"Innalilahi....Terus kondisinya?" Tanya Mukidi penasaran.
"Ndak tahu kang. Kasihan... ayo kang cepat!"
Mukidi cepat menyambar bajunya yang ia gantung di belakang pintu dapur. Ia berlari mengikuti Paijo. Lelaki bernama Paijo adalah kiper di tim sepakbola Desa Sumber Sari. Sedangkan lelaki yang bernama Waluyo adalah pelatih sepak bola yang selama ini ia latih.
Saat tiba di simpang tiga. Terlihat beberapa kerumunan orang hanya melihat Waluyo. Tak ada yah berani mengangkat tubuh Waluyo. Tubuhnya berlumuran daaarah kental. Bahkan wajah Waluyo tak terlihat. Mukidi yang lama mengenal sosok lelaki yang telah memiliki dua orang anak itu cepat memeluk tubuh yang tergeletak di pinggir jalan.
__ADS_1
"Maaaaas!" Pekik Mukidi.
Ia mengangkat kepala Waluyo diatas pahanya. Ia berteriak keras sekali.
"Ayo bantu Mas Waluyo... Cepat cari mobil....!!" Teriak Mukidi.
Paijo pun berlari ke arah satu rumah dan tak lama ia pun mengendarai satu mobil l300 yang biasa di pakai untuk membawa rumput. Hanya ada tiga orang lainnya yang berani membantu Mukidi mengangkat tubuh Waluyo ke atas mobil. Namun tak ada satupun yang berani ikut ke rumah sakit.
Saat mobil tiba di Puskesmas, pihak puskesmas menyarankan dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans. Maka mereka pergi ke bagian administrasi karena harus membayar ambulan terlebih dahulu. Dan sebuah surat rujukan. Mukidi yang masih menyimpan kalung dari Maya di dalam ikat pinggangnya.
Ia melepaskan ikat pinggang itu. Ia pun meminta pada Paijo untuk menjual emas lamaran itu. Dan ia akan menunggu Waluyo dirumah sakit. Sedangkan di puskesmas, Paijo membayar menggunakan uangnya. Karena Paijo yang baru saja menjual hasil panen karetnya ke penampung.
Setibanya di Kota, Paijo pun pergi ke pasar untuk menjual emas Mukidi. Sedang Mukidi yang berlumuran daaarah, mau tidak mau harus menunggu Waluyo yang sedang ditangani. Ia pun menandatangani surat menyurat untuk perawatan Waluyo.
Saat ia membersihkan tubuhnya di toilet. Ia melihat sebuah dompet yang tertinggal. Ia pun membuka dompet itu. Ada banyak uang di dalamnya. Juga terdapat foto juga KTP seorang lelaki. Ia kembali menutup dompet itu. Tak berapa lama datang seorang perempuan. Perempuan itu berambut panjang, ia seperti sedang mencari sesuatu. Maka tanpa perempuan itu sadari, Mukidi yang sedang membersihkan bagian kukunya yang terkena daaaraaah mengamati perempuan itu.
"Cari apa Mbak?" Tanya Mukidi.
Mukidi pun setengah berteriak saat perempuan itu hampir pergi menjauh.
"Tunggu Mbak...!"
Perempuan yang mengenakan almamater sebuah kampus itu pun menoleh. Mukidi setengah berlari dan mendekat.
"Ini bukan dompetnya?" Ucap Mukidi sambil menyerahkan dompet berwarna hitam.
Perempuan yang berkacamata hitam itu membuka dompet dan melihat isinya. Ia pun melihat Mukidi dari penampilan dari bawah ke atas. Mukidi memang terlihat sangat menyedihkan kondisinya saat itu. Ia memakai celana pendek. Ia yang hanya menggunakan sandal jepit berwarna biru. Dan kaos yang sudah cukup jelek karena kerahnya sudah sedikit sobek, belum lagi masih ada noda daaaraaah di baju dan celananya.
Hal itu membuat perempuan itu kembali membuka dompet itu. Ia memberikan beberapa lembar uang berwarna merah pada Mukidi. Namun Mukidi pun menolak.
"Ndak usah mbak. Saya bukan orang yang mau menerima balasan kalau membantu orang. Biar bisa jadi bekal saya besok kalau sudah Ndak di dunia ini karena suka menolong orang dan memudahkan urusan orang." Tolak Mukidi pada Perempuan itu. Ia mendorong uang yang diberikan kepadanya.
__ADS_1
Perempuan itu membenarkan posisi kacamata hitam yang menutupi hampir separuh wajahnya karena besar dan bundar kacamata hitam itu. Mukidi pun berjalan melewati perempuan itu. Perempuan berambut panjang itu pun setengah berlari mengikuti langkah Mukidi.
"Mas tunggu!" Teriak Perempuan itu setelah berapa langkah berhasil mengikuti Mukidi.
Ia pun telah berada disisi Mukidi.
"Terimakasih. Besok lagi kalau Nemu benda yang kira-kira penting begini. Jangan langsung dikasih. Tanya dulu, ciri-ciri nya apa. Terus apa tanda nya kalau memang orang Tiu pemiliknya." Ucap perempuan berkacamata itu yang terlihat membenarkan posisi tas selempang miliknya.
"Lah memangnya kenapa? nolong orang kok ribet banget." Jawab Mukidi ketus.
Perempuan itu setengah tertawa mendengar jawaban Mukidi.
"Mas nya kelewat jujur. Jadi orang jangan terlalu baik mas."
"Justru jadi orang itu harus baik dimanapun berada. Karena itu lah yang menandakan kita punya hati." Jawab Mukidi masih berjalan menurut ruangan IGD.
Perempuan itu masih mengikuti Mukidi.
"Terserah mas saja. Yang jelas mas nya hebat bisa jujur sekali. Padahal mas pasti udah lihat isi dompet ini kan?" Tanya perempuan itu.
Mukidi Tak menjawab. Ia bergegas menuju ke arah Paijo yang telah pulang dari toko emas. Lalu Mukidi pun menghilang dari pandangan Perempuan itu.
"Manusia Langka dan Unik. Masih ada ya orang kayak gitu." Batin perempuan itu.
Mukidi dan Paijo ternyata bersembunyi dibalik tembok. Mereka menghitung uang hasil penjualan emas itu. Mukidi memberikan beberapa lembar uang pada Paijo. Kiper tim sepakbola Desa Sumber Sari itu harus pulang mengembalikan mobil. Ia juga harus memberikan kabar pada istri Waluyo.
"Ini buat nambal mulutnya Pak Yono. Biar ga ngomong karena mobilnya mbok serobot. Dan ini buat kamu beli bensin. Terus ini nanti tolong kasih ke Istrinya Mas Waluyo. Dia pasti bingung mau ke kota. Nanti kalau tidak ada mobil. Kamu sekalian kesini lagi. Bawa baju ganti ku. Nanti bilang sama Pak Yono. Sewa mobilnya tak tambahin." Ujar Mukidi pada Paijo.
Paijo pun menuruti apa yang menjadi perintah Mukidi. Ia pulang ke Sumber Sari.
"Apa ini hikmahnya aku ga jadi menikah?" Batin Mukidi sambil menyimpan Kembali uang ke dalam ikat pinggangnya. Ia berpikir jika ia menikah maka mungkin saat ini siapa yang akan menolong Waluyo. Karena kondisi orang rantau dan juga orang tak punya. Maka akan sulit sekali untuk sekedar meminjam uang apalagi meminta bantuan.
__ADS_1
Mukidi pun ke arah pintu IGD. Ia mendengarkan penjelasan dokter. Intinya Waluyo harus di rawat di ICU. Karena tak sadarkan diri. Mukidi hanya bisa menangis mengikuti tubuh Waluyo yang di pindahkan ke ruang rawat ICU.