
Mukidi dan Bu Sri membawa Laila ke puskesmas. Saat tiba di sana, bidan desa mengatakan bahwa Laila harus dibawa ke kota. Karena pihak puskesmas tidak bisa mengambil tindakan. Bayi sepertinya harus segera di keluarkan.
Kondisi Laila masih tak sadarkan diri. Dengan tangan yang terlilit selang infus, Laila terbaring di dalam ambulan. Ia ditemani Bu Sri. Ibu Mukidi itu masih dengan pakaian yang siap ke ladang. Namun ia tak sempat mengganti bajunya. Ia menemani Laila sampai kerumah sakit ibukota kabupaten.
Sedangkan Mukidi menyusul Rohim. Guru ngaji Sumber Sari itu tak bisa di hubungi lewat telepon. Sinyal di desa mereka kadang turun naik. Kadang ada kadang tidak. Maka tiba di kebun. Mukidi melihat Rohim masih sibuk dengan membersihkan rumput di sekitar tanaman karetnya.
"Kang Rohim!" Teriak Mukidi.
Rohim pun menoleh. Dan ia melihat Mukidi tergopoh-gopoh.
"Ada apa kang?" Tanya Rohim
"Neng Laila kang. Neng Laila..... Hhhh...." Suara Mukidi tersengal-sengal karena berlari.
"Ada apa dengan Lailai?" tanya Rohim
"Laila kang. Eh neng Laila di bawa ke kota. Harus di kaisar kata Bu bidan."
"Kaisar? Caesar maksudnya?" Tanya Rohim.
"Lah Ga tahu. Pokoknya ada Sar Sar nya kang. Sekarang sudah berangkat sama Mak e. Ayo kita nyusul kang." Ajak Mukidi.
Rohim pun mengikuti Mukidi. Ia naik motor Mukidi. Mereka pulang terlebih dahulu. Rohim harus mengambil beberapa yang dan Juga membawa buku tabungan mereka. Khawatir jika dirinya membutuhkan uang ketika di kota. Dan Ia bingung. Ia pun gelisah kesana kemari. Ia melihat jam. itu saat anak-anak sekolah. Saat Mukidi tiba dan sudah mengenakan pakaian lebih rapi.
"Kang. Furqon dimana?" Tanya Rohim cepat.
"Oh. tadi dititipkan sama Bu Toha kang."
"Kita mampir kesana dulu kang."
"Siap " Jawab Mukidi cepat.
__ADS_1
Mereka mampir ke rumah pak Toha. Saat Rohim menitipkan Furqon pada istri pak Toha. Istri Pak Toha itu menyelipkan amplop pada saku baju Rohim.
"Apa Bu... "
"Sudah bawa. mudah-mudahan Laila dan bayinya selamat. Kamu urus saja Laila. Furqon biar saya yang jaga. Yang sabar. Kalau butuh apa-apa kabarkan saja lewat hp bapak." Jelas Bu Toha.
Ia begitu sedih melihat kondisi Laila di puskesmas tadi. Saat mendengar kata Opera Caesar. Ibu tiga anak itu langsung prihatin. Sehingga ia sudah menyiapkan uang untuk ia berikan pada Rohim atau Mukidi yang akan menyusul ke kota. Di zaman seperti itu biaya operasi Caesar masih begitu besar. Dan Belum ada yang namanya BPJS.
Hampir satu setengah jam. Mereka tiba di rumah sakit yang menjadi rujukan. Rohim melihat Bu Sri duduk di depan sebuah ruangan.
"Ibu Ndak tahu tadi Him. Pokoknya ibu tanda tangan semua berkas yang di depan. Karena katanya Bayi nya harus segera diselamatkan." Ucap Bu Sri.
Rohim pun mencoba tenang. Ia memasrahkan semuanya pada Gusti Allah tentang apa yang akan terjadi. Ia yakin, segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini adalah atas kehendak Allah. Ia hanya bisa berdoa karena dokter sedang berikhtiar menyelamatkan istri dan bayi mereka.
Hampir satu jam menunggu. Terdengar suara bayi dari dalam ruangan. Semua yang berada di luar ruangan melafazkan hamdalah. Tak lama seorang perawat keluar dan menyerahkan bayi mungil dan terbungkus kain. Rohim mengazani anak kedua mereka. Setelah itu ia pun mendengar kabar jika Laila belum sadar. Laila di pindahkan ke dalam ruangan ICU. hampir satu malam Rohim terjaga. Hatinya begitu rapuh, ia sangat tak tega melihat istrinya yang selama ini menemani dirinya nyaris tak pernah mengeluh. Selalu melayani dirinya dengan baik,Penuh kasih sayang.
Hari itu. Istrinya terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit dengan beberapa selang yang menempel pada tubuh sang istri. Keesokan harinya, Laila terlihat sadar dari komanya. Rohim merasa senang. Hari itu Laila dipindahkan ke ruangan rawat inap.
Namun Laila dibuat panik karena ia tak bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhnya.
Rohim pun mendekati istrinya.
"Mas Panggil dokter atau perawat dulu Dik." Ucap Rohim cemas.
Lelaki itu pergi keluar ruangan. Ia pergi ke ruangan perawat. Tak berapa lama. Laila di kunjungi dokter. Sang dokter pun meminta Laila jangan panik. Ia diharapkan tetap tenang. Dokter akan memantau perkembangan Laila Selma beberapa hari kedepan.
Saat dokter pergi, istri Rohim itu seakan tak memikirkan kondisi dirinya atau anak laki-lakinya. Setelah Rohim mengatakan jika anak kedua mereka adalah perempuan. Laila mengucapkan hamdalah. Istri Rohim itu bukan mengkhawatirkan putra pertama mereka. Justru 12 anak yang ditinggal di rumah yang menjadi pikiran Laila. Disaat tubuhnya tak bisa bergerak karena ada gangguan saraf pasca melahirkan.
Istri Rohim itu malah mengkhawatirkan kondisi 12 anak didik yang ditinggal dirumah.
"Anak-anak dirumah sama siapa mas?" Tanya Laila khawatir.
__ADS_1
"Aku titipkan pada Bu Sri dan Bu Toha." Ucap Rohim sambil membawa sepiring nasi yang diantar perawat untuk Laila. Di kamar itu terdapat 3 pasien lainnya. Ruangan itu hanya di beri tirai sebagai penyekat antara pasien.
Saat Rohim menyuapi istrinya dengan Sabar dan telaten. Di Sumber Sari, tepatnya kediaman Rohim. Bu Toha yang baru saja masak pagi tadi, ditemani Lulu dan Ayu. Siang itu menangis menatap dandang yang dipakai untuk mengukus nasi. Juga menangis melihat piring lauk dan sayur yang habis tak bersisa. Ia pikir jika masakan sebanyak pagi tadi bisa sampai sore.
Namun ia salah. 6 anak laki-laki yang sudah hampir 6 bulan tinggal di rumah Rohim itu sedang kuat-kuatnya makan. Walau hanya dengan sayur Nangka muda. Mereka makan dengan lahap. Bahkan semua dihabiskan tanpa sisa. Ayu dan Lulu yang sedang mencuci piring tak mengerti apa yang membuat Bu Toha menangis tersedu-sedu di atas bangku kayu yang biasa dijadikan tempat meletakkan barang-barang yang baru saja di cuci.
Bu Sri yang datang dan sambil menggendong Furqon pun memegang pundak Bu Toha.
"Ada apa Bu? Kenapa menangis?" Tanya Bu Sri.
"Hiks... Hiks.... Ya Allah Bu Sri.... Hari ini aku merasakan ditampar sama Gusti Allah.... " Ucap Bu Toha sambil menahan Isak tangisnya.
Ayu dan Lulu masih mencuci piring di depan Bu Sri dan Bu Toha. Tetapi telinga mereka mendengar jelas setiap kalimat yang diucapkan dua orang perempuan paruh baya itu.
"Lah memang nya ada apa?" Ucap Bu Sri.
Ia pun duduk di sisi Bu Toha.
"Lah, saya punya anak 3 saja. Rasanya kepala mau pecah setiap hari ngurusnya. Sampai saya itu ngomel saja tiap hari. Lah ini saya bayangkan jadi Laila. Pagi Tadi saya kan nginep disini. Itu pagi-pagi membangunkan anak-anak laki-laki sudah jengkel nya pol. Kesal, capek. Lah ini belum hilang capek nya. Nasi dan Lauk sudah habis di makan bocah-bocah. Lah kok selama ini isu yang beredar di masyarakat, anak-anak yang tinggal bersama Laila ini kurang makan. Nasi dan sayur sampai berhari-hari di hangatkan. Tidak pernah ganti sayurnya. Lah ini loh. cuma sayur nangka ga sampai sore." Bu Toha menangis tersedu-sedu. Kembali ia mengungkapkan isi hatinya.
"Selama ini, ibu-ibu itu selalu mengatakan Laila ini tidak becus mendidik anak-anak ini. Lah saya loh baru satu hari gantiin Laila. Rasanya Ndak sanggup. Ampuuuunnn. saya Ndak sanggup. Dibayar juga saya ndak mau."
Tiba-tiba satu anak perempuan bernama Mawar yang baru berapa bulan tinggal di sana pun muncul dari balik kamar mandi.
"Dan kami juga mau klo ibu gantiin Mbak Laila. Mbak Laila itu hampir tidak pernah marah seperti itu. Kalau pun sampai marah itu berarti kami sudah sangat kelewatan Bu." Gerutu Mawar.
Satu anak yang setiap pagi harus merasakan sakitnya cubitan dari Laila jika Ayu atau Lulu tak berhasil membangunkan anak itu. Dan itu dilakukan karena waktu shalat Shubuh sudah masuk. Bahkan Pujian-pujian hampir selesai.
Maka terpaksa Laila melakukan itu. Namun anehnya Mawar selalu menanti untuk di cubit oleh Laila. Sehingga ia pun tak pernah merasa dongkol jika di cubit.
Begitulah Laila mendidik anak-anak yang dititipkan padanya. Ia akan lembut jika memang dibutuhkan kelembutan saat mendidik dan mengakar anak-anak itu. Namun apabila sudah menyangkut tentang kewajiban. Waktu shalat, hapalan atau setoran, adab atau ada yang ketahuan mencuri. Maka Laila sangat tegas. Dan Hal itu pernah menjadi masalah dari orang tua dari Mawar yang tak terima di awal-awal anaknya tinggal disana.
__ADS_1
Mawar yang selalu malas bangun pagi. Merasa tak senang akhirnya melaporkan pada orang tuanya. Padahal Laila hanya mencubit bagian perutnya. Itu ia lakukan juga karena sudah berkali-kali dibangunkan. Dan tanpa Mawar sadari, saat Laila tak ada di rumah. Ia justru bangun cepat saat mendengar adzan berkumandang. Lulu dan Ayu bahkan heran, bagaiamana bisa anak yang paling malas bangun pagi diantara mereka bisa bangun pagi sekali. Itulah jika sudah ada cinta antara guru dan murid. Walau prosesnya berat. Walau masih susah berubah. Lama kelamaan ia akan berubah menjadi lebih baik.
Bersambung...