
Siang hari yang cukup terik matahari terlihat beberapa pedagang sibuk menata dagangan nya di pinggir jalan Kali Bening yang baru saja di cor rambat beton. Dimana satu program yang betul di manfaatkan oleh pemerintah desa bersama warga untuk membangun desa mereka. Terutama pembangunan di bidang jalan. Karena demi kelancaran ekonomi salah satu penghambat lambatnya pertumbuhan ekonomi desa itu adalah jalan yang jelek.
Sehingga akses mereka untuk membawa hasil panen ke kota memakan waktu yang lama. Maka terjadilah penurunan kualitas barang hasil panen mereka. Dan tentu saja membuat harga barang mereka dijual murah.
Kali Bening betul-betul menjadi sebuah desa yang begitu pada kegiatan agamanya. Semua kegiatan keagamaan ada di desa itu. Dimulai dari hari Selasa, Rabu, Jumat yang ada acara pengajian ibu-ibu desa Kali Bening. Itu tentu saja peran Laila yang selalu mengabadikan dirinya untuk masyarakat. Untuk jama'ah, dimulai dari pembelajaran kitab yang mempelajari haid, nifas, dan Istihadho. hari Senin diisi dengan Hadroh atau biasa ibu-ibu desa Kali Bening sebut shalawatan. Sedangkan hari Jumat akan diisi dengan pembacaan Yasin dan tahlil.
Tiga kegiatan itu sengaja Laila bagi. Karena ia sadar. Setiap ibu-ibu memiliki hobi atau kesukaan masing-masing. Bagi Laila akan mudah untuk ibu-ibu itu dirangkul di kegiatan yang lebih positif dibandingkan duduk-duduk dan rasan-rasan yang akan berakhir ke akhirnya ghibah dengan minat mereka.
Sedangkan malam Kamis akan ada jamaah Maulid di masjid Nurul Iman. Sedangkan Malam Jumat akan ada jama'ah maulid Barzanji. Sedang-sedang malam-malam lainnya akan diisi dengan jama'ah yang ingin mempelajari cara membaca Al Qur'an dengan cara yang benar. Kegiatan itu tentu juga berdasarkan apa yang di lakukan Rohim.
Sungguh kolaborasi yang indah dari sepasang suami istri itu. dikala sang istri sibuk dengan jama'ah nya. Maka suaminya akan menjaga dan mengajar di pondok. Belum lagi jika Rohim sibuk dengan jama'ah maka Laila lah yang akan mengisi materi di pondok untuk Santri-santri nya. Laila yang hampir memiliki anak 3 itu harus mendidik dan mengajar kurang lebih 35 santri yang 24 jam tinggal bersama dirinya atau di pondok pesantren yang belum terdaftar di pemerintahan itu.
Namun jika di total dengan beberapa anak yang akan ikut belajar malam hari dan pulang kerumahnya masing-masing saat pagi hari. Maka jumlah anak didik Laila hampir 70 orang. Rohim membuat kebijkan untuk anak-anak yang baru ingin mondok agar ikut Mondo 12 jam dulu . Walau menurut Laila hal itu kurang efektif karena ketika ia mendidik anak itu dengan cara seharusnya. Maka ketika di rumah, orang tua tak ikut mendukung. Namun Laila tetap menjalani dengan sabar setiap tingkah anak-anak yang cukup susah diatur dan banyak macamnya.
Bahkan siang itu Saat acara pengajian rutinan atau biasa di sebut pengajian Akbar Kali Bening. Laila melihat salah satu santrinya yang mondok 12 jam sedang berada di sudut tempat wudhu bersama satu anak lelaki yang bukan santrinya. Namun Laila paham jika santrinya yang memang sering ia amati sedikit genit dengan laki-laki karena sedang masa-masa puber.
__ADS_1
"Tidak bisa dibiarkan.... " Gumam Laila pelan.
Guru ngaji itu pun kembali sibuk mempersiapkan acara siang itu. Karena akan ada seorang Kyai yang cukup terkenal di kota. Seorang kyai yang memiliki banyak santri dan pondok pesantren yang begitu besar.
Saat acara akan mulai. Maka jangan berharap jama'ah akan melihat Rohim duduk di depan memimpin jamaahnya. Ia lebih sibuk di belakang. Memastikan setiap tamu pengajian itu mendapatkan jamuanya dan tempat duduk yang nyaman. Bahkan Mukidi yang sedari tadi melihat Sahabat yang ia anggap guru itu sibuk Membolak-balikkan sandal para Kyai dan tokoh agama yang telah hadi dan menjadi tamu. Ia menyusun sandal-sandal itu.
"Aduh... Kang... Biar yang lain saja atau saya. Sampeyan di depan saja sama para kyai-kyai. Lah kok ngurusi sandal. Ini urusan kami." ucap Mukidi sambil menahan lengan sahabatnya yang hampir 10 tahun mereka berteman.
Rohim pun tersenyum. Ia beranjak dari tempat itu. Ia masih terlihat menunggu pengisi acara siang itu yang tak lain adalah Kyai Ahmad. Sedangkan Laila sibuk di dapur menyiapkan jamuan untuk makan para Tamu dan Kyai. Ia bahkan membuka semua amplop yang suaminya dapatkan beberapa bulan terakhir dari orang-orang saat meminta Rohim membaca Al Qur'an ketika ada hajat atau memimpin sebuah majelis di desa lain.
Ayu dan Lulu yang kemarin menemani Laila membuka amplop itu bahkan sedikit protes namun hanya mereka berdua. Mereka tak berani mengatakan pada sang guru.
"Lah kalau semua nya diberi ke kyai-kyai itu dan tamu-tamu itu. Terus Kang Rohim dapatnya apa ya Lu? Aku sempat berpikir kemarin kenapa toples amplop itu kok ga berkurang. Ternyata Mbak Laila ingin menggunakan untuk acara ini. Hhhh... Kakak kok tiap hari malu kalau tidak bisa belajar sungguh-sungguh dari Mbak Laila." Ucap Ayu sambil menyusun lembaran uang yang ia buka dari amplop itu.
Sedangkan Lulu. Ia hanya mampu menitikkan air mata. Namun ia harus memberikan pengetahuan pada sang kakak bahwa mereka adalah orang yang beruntung.
__ADS_1
"Kakak ingat ketika kita belajar kitab Ayyuhal Walad. Dimana kriteria orang alim yang bisa dijadikan guru adalah diantaranya selalu berbuat baik pada makhluk Allah, selalu riyadho dan juga yang berpaling dari cinta dunia dan cinta kedudukan. Coba lihat apa pernah Kang Rohim dan Mbak Laila itu sibuk mengurusi omongan orang yang selalu saja memfitnah mereka. Atau mereka minta di puji. Maka kita termasuk orang beruntung kak karena bertemu dan menjadi murid mereka." Ucap Lulu yang juga sudah sesegukan menangis.
Ayu pun juga meneruskan kalimat adiknya.
"Iya Lu ya. Beliau bahkan kadang singkuh karena di panggil Ustad atau Ustadzah. Namun melihat keilmuan Kang Rohim mbak Laila maka sudah seharunya mereka itu mendapatkan panggilan seperti itu. Tapi selalu saja menolak.." Ucap Ayu yang sudah melipat uang-uang itu yang hampir satu juta lebih dari amplop-amplop dari toples tadi.
Disaat Laila dan beberapa ibu-ibu jamaah ditemani santriwati menyiapkan persiapan di dapur. Di depan justru Mukidi kaget bukan kepalang. Ia yang sedang menemani Rohim menunggu Kyai dari kota. Ia di rangkul oleh orang yang begitu membuat ia jengkel selama satu bulan lebih karena kelakuan nya yang menjengkelkan.
Ia bahkan sering sekali menerima laporan dari para santri putra jika kehadirannya membuat jatah masak Umi Laila dan Rohim sampai bertambah. Laila terkadang harus masak Kembali ketika semua sayur dihabiskan Imam. Lelaki itu dengan santainya memeluk Mukidi. Ia yang baru turun dari mobil sengaja menyapa Mukidi. Salah satu jama'ah juga warga yang sering menatapnya sinis dan suka menyindir dirinyia.
"Bagaimana kabar nya Kang Kidi?" Tanya Imam dengan penampilan yang membuat kedua mata Mukidi melotot tak percaya.
"Mas Im.... Imam." Ucap Mukidi sedikit terbata-bata.
Beberapa jamaah juga sedikit terperanjat karena kehadiran Imam bersama Kyai besar dari kota itu. Rohim pun hanya termenung menatap sosok yang ia kenal. Senyum manis Imam berikan untuk sosok yang ia anggap guru dan sengaja ia buat susah dengan tingkahnya selama tinggal di sana.
__ADS_1