
Siang hari saat beberapa pemuda datang ke masjid. Rohim telah siap dengan cat yang telah ia beli menggunakan uang kas masjid. Ia pun sedang mengecat bagian luar masjid. Saat beberapa pemuda datang untuk membantu dirinya mengecat masjid.
Mereka pun mengambil rol untuk mengecat bagian dinding bagian luar. Mukidi pun tiba dengan sepeda jengki warna hitam miliknya. Laila yang melihat para remaja dan pemuda itu datang. Ia membawa kopi dan pisang goreng ke arah depan masjid. Rohim masih tetap membantu.
Pemuda-pemuda itu tampak semangat. Karena mereka merasa dengan melakukan pekerjaan itu bersama-sama mereka akan bisa mengikuti final di ibukota kabupaten. Mereka tak perlu meminta uang pada orang tua atau mencari dana untuk berangkat ke ke kota.
Mukidi yang paling semangat diantara para pemain sepak bola di desa itu. Saat tiba di hari ketiga. Mereka akan pindah ke bagian dalam masjid. Saat mulai di bagian dalam. Rohim senagaja meminta agar proses mengecat di lakukan pagi hari. Dan satu hari full. Sehingga tak mengganggu aktifitas jamaah yang akan shalat berjamaah.
Mereka pun setuju. Pagi itu Laila sengaja memasak dengan porsi banyak. Ia bahkan membeli ikan agar ada lauk untuk para remaja dan pemuda yang sedang semangat untuk melakukan hal positif. Saat siang hari para pemuda itu pun makan di kediaman Rohim. kurang lebih hampir 20 orang yang ikut dalam kegiatan itu. Ada yang membuat meja untuk mengaji ada yang mengecat bagian dalam dan pagar masjid.
Saat selesai makan, mereka bingung bagaimana berapa hari ini mereka bisa makan, merokok dengan bebas. Dan saat akan melanjutkan kegiatan mereka. Rohim mengingatkan sebentar lagi waktu Dzuhur. Mereka yang baru saja akan merebahkan tubuh di teras dan tepi masjid, harus mengurungkan niatnya.
Rohim memanggil mereka. Ia yang baru satu Minggu lalu memesan sarung untuk dijual kembali, hari itu ia bagikan pada pemuda itu sarung- sarung itu.
"Ini ada hadiah buat kalian yang semangat sekali berapi hari ini. Coba cuci dulu kaki dan tangannya. Yang mau mandi, mandi dulu. Ini saya kasih gratis." Rohim membagikan satu persatu sarung itu.
Mukidi pun melotot tak percaya. Ia tahu betul bahwa Rohim mengambil tabungannya di bank untuk mengambil paket sarung itu di bis. Maka ia tahu berapa nominal nya ketika membawa sarung itu dari pulau Jawa ke tempat dirinya.
Mukidi tidak berani bertanya. Saat beberapa pemuda tadi diajak cara mengenakan sarung itu. Mereka ada yang tertawa karena tak bisa menggunakan sarung itu. Mukidi yang lebih dulu dan lama bisa mengenakan sarung mengajari beberapa remaja itu trik mengenakan sarung. Saat selesai, mereka pun tak mampu menolak ketika Rohim mengajak mereka shalat Dzuhur dulu baru melanjutkan pekerjaan mereka. Mereka pun dengan malu-malu mengikuti Rohim ke arah tempat wudhu. Rohim dan Mukidi mengajari mereka untuk mengambil wudhu. Maka siang itu Jamaah shalat Dzuhur di masjid Nurul Iman lebih banyak dari biasanya.
Bahkan salah satu orang tua anak lelaki yang ikut kegiatan itu terpaku menatap anak lelakinya mengenakan sarung dan siap untuk ikut Shalat Dzuhur. Sehingga tanpa para remaja dan pemuda itu sadari, rasa nyaman yang Rohim lakukan. Membuat mereka merasa nyaman berada di masjid. Masjid bukanlah tempat yang membosankan bagi mereka karena sosok Rohim yang mudah bergaul, Rohim yang kadang akan ikut duduk di pinggiran masjid sekedar mendengar keluh kesah mereka. Baik tentang di sekolah, di rumah.
Beberapa orang tua bingung, kenapa para remaja itu bisa mendadak sering kemasjid. Dan isu tak sedap pun menghampiri kiprah Rohim. Ia di duga tak bijaksana dalam menggunakan anggaran kas Masjid Nurul Iman. Ia dikira membuang uang masjid untuk membiayai anak-anak itu makan, dan merokok bagi mereka yang telah tak sekolah.
Puncaknya isu itu berhembus kala para pemain sepak bola itu pergi bertanding ke ibukota kabupaten. Setelah shalat Isya, Rohim diminta untuk jangan pulang dulu oleh beberapa pengurus masjid dan jamaah. Rohim yang tak berpikiran negatif merasa mungkin ada yang ingin di bahas.
__ADS_1
Namun tanpa Isa sadari, beberapa jamaah yang tak suka pada Rohim. Niat hati ia yang akan memborong untuk mengecat masjid itu, namun Rohim malah mengatakan sudah ada yang akan mengecat. Jama'ah itu langsung mencerca Rohim dengan tuduhan tanpa bertanya terlebih dahulu.
"Sampeyan ini Kang. Sampeyan itu hanya pemegang kas masjid. Tapi bukan berarti bisa seenak hati menggunakan anggaran yang ada. Apalagi sampai buat mendanai anak-anak main bola!" Ujar Pak Riko, ia adalah seorang terpandang di desa itu karena ayahnya adalah seorang sesepuh di desa itu.
Rohim hanya seperti biasa. Ia akan menunduk sambil menunggu dirinya diminta untuk berbicara.
"Iya nak Rohim, biasanya kamu selalu musyarawah dulu untuk apa-apa. Ini kok langsung sesuka hatinya.," Ujar salah satu Orang tua diantara jamaah itu.
Rohim baru mengangkat kepalanya. Ia memberikan senyum pada mereka yang hadir di sana.
"Begini bapak-bapak, bukankah pada musyawarah bulan lalu, Bapak-bapak sepakat untuk memberikan pada saya untuk mengecat masjid. Karena bapak-bapak beralasan jika gotong royong banyak diantara kita sibuk di ladang. Pulang sudah lelah, maka maksud bapak-bapak agar saya yang mengerjakan dan bisa upahnya diambil buat tambahan saya. Betul?"
Jelas Rohim dengan santun. Beberapa jamaah menganggukan kepala mereka.
"Dan untuk para pemuda yang membantu saya beberapa hari untuk mengecat masjid ini. Ialah itu atas inisiatif saya sendiri, karena mereka bingung mencari dana untuk biaya operasional ke kota." Jelas Rohim.
"Halah! itu alasan mu saja. Sekarang coba saya mau lihat detik ini uang kas masjid yang kemarin terakhir sejumlah 3 juta." Pinta lelaki itu yang menaruh curiga pada Rohim.
Ia tak suka dengan Rohim. karena saat itu harusnya ia ingin sekali menjadi bendahara namun banyaknya jama'ah memilih Rohim menjadi bendahara. Padahal secara umur Rohim masih muda dan bukan asli warga Sumber Sari.
Rohim permisi pulang. Ia ke rumahnya. Tak lama Rohim kembali dengan dua buah buku dan satu buku tabungan.
Satu buku berisikan pemasukan masjid. Kedua buku pengeluaran masjid dan satu buku tabungan yang ia buat atas nama masjid namun dirinya sebagai pengurus. Dan di dalam buku tabungan itu tertera jumlah uang di buku tabungan itu jumlahnya sama dengan saat terakhir di umumkan pada jama'ah masjid Nurul Iman.
Lelaki yang menuduh Rohim tadi tertunduk malu. Ia semakin kesal karena tak mampu membuat nama Rohim jelek di mata jamah sehingga meminta Rohim di ganti.
__ADS_1
Saat tuduhan itu di sematkan pada Rohim. Para pemain sepak bola desa Sumber Sari ternyata di teras masjid. Mereka yang merasa Rohim begitu baik, selama dua minggu itu mereka di berikan makan, minum bahkan sebuah sarung yang mereka gunakan ketika shalat di masjid selama mereka mengerjakan tugas mengecat.
Seorang lelaki yang anaknya juga ikut kegiatan mengecat itu pun bertanya pada Rohim. Ia penasaran, karena anaknya semenjak sering kemasjid tak pernah makan dirumah saat pulang dari masjid. Bahkan hampir satu Minggu itu sang anak selalu menceritakannya pribadi Rohim dan Laila.
Hal yang membuat sang ayah termakan isu jika Rohim menghamburkan uang masjid untuk hal-hal yang bukan untuk kepentingan masjid.
"Lantas darimana uang yang kamu gunakan untuk operasional anak-anak menyewa mobil? Ku lihat di pengeluaran ini hanya ada uang keluar untuk membeli cat dan ini nota nya pun sama. Harganya pun ku lihat tidak di besarkan. Sesuai dengan toko. Karena aku baru saja mengecat rumah ku." Tanya Ayah Fadil pada Rohim.
Rohim pun menjelaskan jika ia menggunakan uang pribadinya.
"Saya hanya khawatir, anak-anak kita ini patah semangat. Sehingga mereka tak lagi menyalurkan hobi atau menghabiskan waktunya untuk kegiatan positif. Menurut saya walau sepak bola bukan kegiatan keagamaan, tetapi disana membuat putra-putra kita menyalurkan tenaga, waktunya bukan untuk maksiat, bukan untuk berbuat kejahatan. Maka saya mendukung mereka."
Mukidi yang geram karena sahabatnya dituduh berbuat hal yang tidak dilakukan olehnya, ia setengah berteriak dari arah luar masjid.
"Lah daripada kami mencuri. Meminta pada orang tua katanya tak ada uang. Buat apa main bola. Pemerintah desa juga tidak mau mendukung Cuma mengabiskan waktu dan uang. Giliran ada yang memperhatikan masih juga disalahkan. Apa lebih baik kami mencuri saja?" Ucap Mukidi sambil menahan emosi nya.
Rohim mengangkat satu jari telunjuknya ke arah mulut. Mukidi langsung diam dan berbalik. Ia sangat menghormati sosok Rohim. Lelaki yang bersahaja dan tawadhu menurut Mukidi. Akhirnya kesalahpahaman itu berakhir dengan jama'ah meminta maaf pada Rohim. Beruntung Rohim memiliki istri yang selama ia masih gadis, sering mengikuti kegiatan organisasi. Maka istri Rohim itu memiliki manajemen yang baik, bukan hanya tentang keuangan melainkan juga tentang administrasi.
Laila lah yang membuatkan dua buku itu. Buku pengeluaran dan pemasukan. Dan berinisiatif memasukan uang tersebut di tabungan. Ia sangat khawatir kalau uang itu dirumah, satu khawatir dipakai atau di pinjam orang. Dia hilang karena sekarang Laila dan Rohim begitu padat jadwalnya. Bahkan di tengah masa kehamilannya, Lail justru masih sibuk dengan ibu-ibu pengajian Yasin di hari Jumat, Jama'ah Al Barzanji di hari Kamis. Belum lagi pengajian Ahad Wage yang akan di lakukan satu bulan sekali. Dan setiap malam Jumat rutinan shalawat di masjid Nurul Iman.
Sungguh Rohim dan Laila betul-betul menghidupkan kegiatan di Sumber Sari untuk menambah cinta warga pada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam dan juga keimanan pada Allah dengan majelis-majelis yang mereka bangun dan Istikomah mereka adakan ramai atau sepinya jama'ah. Sumber Sari tak kehabisan kegiatan keagamaan dalam satu Minggu, satu bulan semua ada. Dari anak-anak, remaja, dan orang tua.
Hal itu mereka lakukan bukan hanya dengan ilmu tetapi juga dengan materi. Dimana setiap ada majelis maka Laila akan berusaha jika majelis itu bertempat di Masjid Nurul Iman, maka diakhir majelis itu akan ada makanan atau snack.
Seiring waktu, Sosok Rohim dan Laila dengan karakter nya, dengan ketawadhuan mereka, dengan kemanfaatan mereka di Sumber Sari, bukan hanya untuk Agama tetapi juga masyarakat, lingkungan membuat mereka berdua di cintai oleh masyarakat Sumber Sari. Masyarakat yang cinta pada sosok Rohim dan Laila pun merasa belajar agama menjadi hal menyenangkan, ada semangat menghadiri majelis ilmu yang di buat, dibangun oleh Rohim.
__ADS_1
Rohim bukan menghadiri sebuah majelis ilmu tapi dia mendirikan majelis-majelis ilmu di desanya, di Masjid Nurul Iman. Sehingga banyak perubahan dirasakan sejak majelis itu di di dirikan oleh Rohim.
To be continued....