
“Tebasan Bulan Sabit!” Salah satu perampok yang berada dipaling depan kini terbelah menjadi dua bagian. Mereka bahkan tidak menyadari bahwa Xiao Lan sudah mencabut pedangnya dari sarung.
“Jurus ini dari dunia manusia? Lumayan juga.” Xie Mei bergumam pelan sambil menonton pertarungan Xiao Lan.
Para pengawalnya Xie Mei yang melihat aksi Xiao Lan kini mulai menelan ludah mereka sendiri karena mengingat kembali dengan apa yang hampit di lakukan mereka kepada Xiao Lan.
“Bocah, kau hebat juga. Kalau begitu terima ini!” Sesaat Xiao Lan masih bertarung dengan beberapa perampok, tiba-tiba ada seorang berbadan kekar yang muncul di belakang mereka. Dan menyerang Xiao Lan dengan sebuah panah.
“Kau adalah pemimpinnya mereka?” Tanya Xiao Lan setelah menghindari panah itu dan malah panah itu terkena kesalah satu dari mereka.
“Benar. Hmph! Majulah, aku akan melayanim-”
“Dengan senang hati.” Belum selesai pria berbadan kekar itu selesai berbicara, Xiao Lan sudah muncul didepannya.
“Tebasan Bulan Sabit!”
“Landak Baja!” Tebasan Xiao Lan terhenti setelah menebas sebuah pelindung berduri yang tiba-tiba muncul di sekeliling tubuhnya.
“Spiritmu cukup lumayan hebat dengan pertahanan, tapi... Tidak untuk menyerang. Dan spiritku sangatlah cocok untuk menyerang. Jadi... Coba tahanlah ini.”
“Kucing Kecil Keluarlah!”
Seketika itu kucing kecil keluar dengan wujud pertamanya.
“Hmm kucing itu bukan kucing sembarangan.” Ucap Xie Mei.
“Hei, Hei! apa kau sedang bercanda denganku?!” Pria berbadan kekar itu berdecak kesal dengan Xiao Lan yang dia rasa dia sedang dipermainkan oleh Xiao Lan.
“Wujud kedua!”
Kucing kecil yang awalnya hanyalah kucing lembut dan imut, kini mulai berubah menjadi Macan besar yang berwarna Hitam Putih.
Semua orang selain Xie Mei yang melihatnya terkejut setengah mati karena Xiao Lan.
“Macan Es - Penghancur Gunung!”
Xiao Lan langsung menyerang pria berbada kekar itu. Pria berbadan kekar itu juga langsung bersiap-siap untuk menahan serangan Xiao Lan.
“Pelindung Bumi - Landak Batu!”
Macan Xiao Lan terpental cukup jauh setelah mengenai perisai Landak yang dibuat pria berbadan kekar itu.
__ADS_1
“Lumayan...” Xiao Lan tiba-tiba menarik kembali Xiao Lan. Semua orang terkejut setelah melihat Xiao Lan menarik kembali macan besar itu.
“Bocah! Apa kau sudah mengaku kalah? Kalau begitu, cepat berikan semua barang yang kalian miliki!” Ucap Pria berbadan kekar itu.
“Apa bocah bodoh itu sudah menyerah?” Tanya Xie Mei kepada dirinya sendiri.
“Hmph! Masih terlalu awal untuk menyerah. Dan lagi pula... Kata-kata itu, seharusnya adalah ucapanku.” Xiao Lan tertawa kecil sebelum berseru dengan lantang.
“Akan aku hancurkan kau sekarang!”
“Tapak Es - Penghancur Gunung!”
Seketika itu muncullah sebuah tapak es yang besar. Xie Mei tersedak nafasnya sendiri setelah melihat Xiao Lan berhasil menguasai jurusnya Xiao Futu.
“Ap-apa-apaan ini?!” Pria berbadan kekar itu dan para prajuritnya sudah tidak dapat bergerak dari sana karena ketakutan melihat sebuah tapak yang besar di hadapannya.
“BOOM!”
Tapaknya Xiao Lan berhasil mengenai pria berbadan kekar itu sekaligus dengan para bawahannya.
“Huh... Akhirnya selesai. Merepotkan sekali.” Ucap Xiao Lan sambil menggerak-gerakkan tangannya dan melihat pria berbadan kekar itu dan para anak buahnya telah menghilang jadi debu.
“Hanya dengan mereka saja sudah membuatmu sampai kerepotan seperti ini?” Tanya Xie Mei setelah Xiao Lan masuk kedalam kereta kuda.
“Hah aku hanya ingin membuat pertarungan tadi menjadi sedikit lebih menyenangkan tapi, mereka tidak memenuhi harapanku.” Ucap Xiao Lan.
‘Sudah aku duga, dia tidak mengeluarkan semua kekuatannya.’ Pikir Xie Mei.
“Ayo lanjutkan perjalanannya.” Ucap Xie Mei kepada para pengawalnya sebelum pergi melanjutkan perjalanan mereka.
Pada saat mereka dijalan, Xie Mei mengatakan kepada Xiao Lan bahwa dia datang ke dinasti darah karena ingin bertemu dengan seseorang.
“Siapa orang itu kakak?” Tanya Xiao Lan.
“Kau akan tau kalau kau sudah pantas di sebut pendekar.”
“Apa?! Apa menurut kakak aku ini bukanlah seorang pendekar?!” Xiao Lan berdecak kesal dengan Xie Mei yang merendahkannya.
“Bukan, bukan seperti itu maksudku. Aku hanya ingin kau mengetahui orang itu saat kau sudah layak. Dengan kemampuanmu yang saat ini kau tidaklah pantas untuk memenuhinya ataupun mengetahui namanya.”
“Hmph! Kakak hanya meremehkan aku. Aku sudah membandingkannya dari tadi. Kalau kakak ini berbeda dengan Ji'er yang sangat pemalu dan ramah saat berbicara padaku.” Ucap Xiao Lan yang seakan sedang merendahkan Xie Mei.
__ADS_1
“Kau ini sangat mahir dengan hal membohongi orang. Yang jelas adikku sangat kasar dan tidak pernah berbaik hati jika bertemu orang sepertimu.”
“Hehe, kakak akan tau jika kakak menanyakan hal ini kepada Ji'er sendiri.” Xiao Lan tertawa kecil sebelum menunjuk ke depan.
“Kakak kota apa itu?”
“Itu kota perbatasan antar Dinasti Darah dan Dinasti Terang. Kota Perak.” Ucap Xie Mei.
“Kalau begitu... Hah, Apa aku terlalu banyak pikiran sehingga aku melihat kalau ada orang yang aku kenal disana.”
Xiao Lan sebenarnya melihat ada seorang yang sangat familiar dengannya tapi orang itu memakai jubah hitam dan sangat cepat berlari kearah kota perak.
“Kau sangatlah bodoh sama seperti kakakmu.”
“Benar, sebentar lagi kakakku akan segera menikah. Jadi...”
“Ap-apa?! Futu akan segera menikah?! Dia akan menikah dengan siapa?!” Ucapan Xiao Lan terhenti dan langsung di potong oleh Xie Mei.
‘Kau sudah dewasa tapi... Sifatmu berubah menjadi anak kecil setelah mengenal percintaan.’ Pikir Xiao Lan sambil tertawa licik.
Xiao Lan berencana untuk mengerjai Xie Mei untuk berpura-pura kalau Xiao Futu akan segera menikah.
“Yaa. Kakak bilang padaku kalau ada seorang yang akan di inikahinya. Aku juga pernah bertemu dengan wanita itu.”
“Dia sangat cantik, baik, dan juga kuat. Dia sama sekali tidak memarahiku saat aku melakukan kesalahan apapun. Dia malah sangat menyayangiku.” Ucap Xiao Lan.
“Cantik? Apa aku kurang cantik?! Baik juga, kuat juga?!”
‘Tunggu, apa mungkin Futu menyukai wanita itu karena wanita itu sangat baik kepada Xiao Lan? Aku tidak akan kalah!’
“Baiklah... Lan'er, sepertinya kita akan segera sampai. Kakak akan sini mendekatlah.” Ucap Xie Mei sambil memeluk Xiao Lan.
‘Aku rasa kalau ini sangat berlebihan. Tapi, nenek sihir ini tidak akan merendahkan aku lagi itu lebih baik.’ Xiao Lan tertawa kecil.
Sebelum mereka sampai di Kota Perak, Xiao Lan dan Xie Mei melihat kalau ada yang aneh di gerbang masuk kota perak.
Sewaktu mereka memasuki kereta kuda mereka kedalam gerbang, tiba-tiba...
---
Maaf atas keterlambatan update ini teman-teman. Aku salah kasih jam updatenya seharusnya aku kasih di jam 00:00 Tapi malah jadi jam 1 lebih. Maaf ya
__ADS_1