
Di belahan bumi nusantara lainnya tepatnya di tanah Suwarna Bhumi, di daerah kekuasan Kerajaan Gading Cempaka, malam pun tiba. Hujan turun deras di tanah suwarna bhumi seakan turut berduka cita, mencurahkan kesedihannya, dengan nasib kerajaan Nusantara selanjutnya, sepeninggalnya raja Rusilo, Raja kerajaan Nusantara yang terbunuh oleh Ki Projo gendeng.
samar-samar terdengar suara dua orang suami istri yang sudah memasuki usia renta. Berkeluh kesah sambil berdoa kepada sang dewa.
Bagaimana tidak pasangan suami istri tersebut walaupun sudah menikah selama 30 tahun tetapi belum juga di karuniai seorang anak, dia adalah Suseno dan Hartini sepasang suami istri yang hidup sebagai pandai besi serta pemburu gading dan petani di desa Jenggalu.
Salah satu desa yang terletak dibawah kekuasan Kerajaan Gading Cempaka, mereka memohon, berdoa kepada para dewa di langit , agar kiranya bisa diberikan anak untuk melengkapi indahnya pernikahan mereka.
Suseno yang sudah berumur 55 tahun dan Hartini yang sudah berumur 50 tahun, Menyekah air mata yang menetes di pipi mereka yang sudah menunjukan kerutan-kerutan keriput tanda umur mereka semakin tua, lalu kemudian tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar yang membuat kedua orang tua tersebut kaget.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu terdengar sayup-sayup bunyi suara bayi menangis.
"Pak dengar tidak, ada suara tangis bayi " kata hartini. "iya buk" Suseno mengangguk mengiyakan, "ayo kita cari pak, bila benar itu seorang bayi, kasihan pak. Hujannya deras begini" bujuk Hartini kepada Suseno yang mengangguk sambil mereka berdua keluar dari gubuk mereka mencari letak sumber suara bayi yang menangis tersebut.
Semakin di dekati ternyata benar ada bayi, Yang hanyut di aliran sungai jenggalu. Karna memang gubuk reot Suseno dan Hartini di belakangnya mengalir sungai besar jenggalu, sungai yang di pakai oleh warga di wilayah kekuasan Kerajaan Gading Cempaka sebagai sumber mata airnya. Dan sebagai sumber penghidupan di daerah sana.
Dengan sigap Suseno melompat ke sungai untuk menyelamatkan bayi yang hanyut itu, sekali lagi Suseno dibuat takjub ketika melihat bayi tersebut dari dekat. Ketika tangannya sudah memegang sampan yang membawa bayi tersebut.
Dilihatnya air hujan yang turun seakan berbelok tidak mengenai tubuh sang bayi, tubuh sang bayi tetap hangat dan kering tidak basah sedikit pun. Hartini yang menunggu di pinggir sungai harap-harap cemas menunggu suaminya yang berenang ke sungai untuk menyelamatkan bayi tersebut.
__ADS_1
Setibanya di pinggir sungai, Suseno menggendong sang bayi ,dan benar Hartini juga takjub dengan apa yang dilihatnya, Air hujan yang turun deras berbelok tidak mengenai tubuh si bayi, dengan perasaan heran bercampur senang, bayi laki-laki itu mereka bawa pulang kegubuk reotnya.
Sesampainya dirumah, mereka memperhatikan bayi tersebut, dibukanya kain pembungkus yang membungkus tubuh si bayi. Diperhatikannya dari ujung kaki sampai kepala, dilihatnya bayi itu dengan ari-ari yang masih melekat di pusarnya. "bayi ini baru saja dilahirkan tetapi ukurannya kok lebih besar, seperti anak umur 4 bulanan saja." Pikir suseno, lamunan suseno dikagetkan oleh hartini.
"Lihat pak, matanya biru loh pak, tampan sekali anak ini." Hartini berkata membuyarkan lamunan Suseno, ketika melipat kain pembungkus sang bayi. Hartini melihat sepotong kain yang terjatuh lalu mengambilnya, di lihatnya dari secarik kain tersebut terdapat tulisan.
"Tolong Jaga anakku, rawat seperti kalian merawat anak kalian sendiri."Darma Thirta." melihat pesan tertulis itu membuat kedua pasangan suami istri tersebut saling tatap.
Heran dan tentunya merasa senang karna doa mereka untuk mempunyai anak telah di kabulkan oleh sang dewa. Walaupun bukan anak kandung mereka, tentunya mereka berdua sangat senang ketika di berikan amanat untuk menjaga seorang anak yang bernama Darma Thirta.
__ADS_1