
Ditempat lain, dua pangeran serta Patih Rangga geni dan Adipatih Dilan sepuh, yang lari meninggalkan Raja Susilo karna titah sang raja, Akhirnya terkepung dari kejaran ratusan anggota perguruan siluman katak merah dan perguruan banteng iblis yang mengejarnya.
"Bagaimana ini kakang, paman" Pangeran Biantoro bertanya, "kita serang serentak" kata Rangga geni disertai anggukan Dilan sepuh. "Baiklah kita serang serantak" timpal Pangeran Raden prakoso.
Kemudian ke empat pendekar itu mengalirkan tenaga dalam yang dipusatkan ke telapak tangan masing-masing, terlihat kerlitan cahaya tenaga dalam melesat dari tangan keempat orang tersebut, memporak porandakan barisan anggota perguruan siluman Katak merah dan Banteng iblis yang menghadang didepan mereka.
Puluhan tubuh pendekar aliran hitam tingkat rendah berserakan hancur lebur karna jurus dari ke empat orang tersebut, asap berkelebatan mengepul karena efek bekas dari ledakan tenaga dalam mereka berempat, memberikan celah ruang untuk melarikan diri.
"Ayo cepat pangeran" kata Rangga geni, "Kalian larilah aku akan menahan mereka disini" kata Dilan sepuh. "ayo paman kita lari sama-sama jangan cari mati." kata kedua pangeran tersebut serentak.
__ADS_1
"Tidak pangeran tugas ku memastikan agar kalian tetap hidup. Tapi tampaknya sekarang tugas itu akan menjadi tanggung jawab Rangga geni seorang, Ayo sekarang cepat lah kalian pergi..!!! Pangeran Raden prakoso, pangeran Biantoro." Dilan sepuh berkata tegas dan siap menghadang bahaya yang akan datang di depannya."baik lah kalo begitu, terima kasih paman" kedua pangeran tersebut melesat pergi.
Beberapa menit kemudian terlihat Nyai Mesutri dengan cepat melancarkan serangan ke arah Dilan sepuh, "Ajian Tanduk Banteng Penjaga Neraka". Dua pukulan melesat ke dada kurus Dilan sepuh, Membuat pria setengah baya tersebut terpundur beberapa langkah.
Kini berdiri lah dihadapannya Nyai Mesutri ketua perguruan hitam perguruan banteng iblis. " minggir kau dilan sepuh, aku kasih kau pilihan mau jadi pengikut ku atau mati karna melindungi dua bocah tidak berguna itu" kata nyai mesutri dengan senyuman sinisnya.
"lebih baik aku mati wanita laknat, daripada harus mengabdi kepada kelompok iblis seperti kalian." Dilan sepuh menjawab tanpa keraguan sedikit pun. "Baiklah dengan senang hati akan kukabulkan permintaanmu tua bangka Hihiihi" Nyai Mesutri tertawa sambil memberikan perintah kepada ketiga sekutu misteriusnya untuk mengejar Rangga geni dan dua orang pangeran yang sudah sedikit menjauh.
"Baik ibu kanjeng" timpal ketiga sekutu misterius tersebut.
__ADS_1
******
Di tempat lain di aula istana kerajaan Nusantara, terlihat pertarungan antara Ki Projo gendeng dan Raja Susilo masih berlangsung, dan akan segera menampakan babak akhirnya.
"Ternyata payung emas itu benar-benar membuat ku kewalahan, Walaupun sudah dalam wujud siluman" pikir Ki Projo gendeng. Baiklah kalau begitu "pedang darah iblis" "ngungg", bunyi pedang merah keluar dari dalam kamar mahapatih penghianat tersebut, melesat tajam dari arah belakang Raja Susilo, bergerak cepat dengan tujuan menghujam punggung sang raja.
Tetapi Raja Susilo segera memutar tubuhnya kebelakang dan menangkis serangan mendadak dari pedang merah terbang tersebut dengan pusaka payung emas.
"tarian bayangan seribu kaki katak " tendangan Ki Projo dengan cepat bertubi- tubi menghujam punggung Raja Susilo, Membuat Raja Susilo yang tidak siap, seketika tersungkur menerima tendangan dari Ki Projo.
__ADS_1
Ki Projo terbang ke arah depan Raja Susilo sambil memegang pedang merah, pedang darah iblisnya. "Hahaha sekarang kau tenang disana biarkan aku memenggal kepala mu pak tua" Ki Projo bergumam melihat kearah Raja Susilo yang terduduk sambil bergeser mundur ke belakang beberapa langkah.
"Tidak ada cara lain aku harus mengeluarkan jurus itu" pikir Raja Susilo. Jurus terakhir yang akan menghancurkan dirinya dan berencana membawa serta kiprojo ke malaikat kematian.