
Seminggu sudah Darma thirta berlatih dipadepokan perguruan Garuda emas, dirinya sudah mulai terbiasa dengan suasana baru yang dia rasakan sekarang.
Tentu saja latihan yang dia jalani masih sama seperti pertama kali dia datang berlatih.
Yah, membersihkan seluruh area padepokan perguruan Garuda emas setiap harinya, walaupun sesekali pemuda itu juga berlatih cara mengumpulkan tenaga dalam, dan berlatih beladiri dasar tangan kosong di ruang 1 kelas 3 dibawah bimbingan Guru Aji, dengan cepat bisa dihapal olehnya.
Tetapi latihan membersihkan seluruh area padepokan perguruan Garuda emas masih dia lakukan mengingat latihan ini diberikan langsung oleh ketua perguruan Raden prakoso kepada dirinya, dan belum ada tanda-tanda Raden prakoso menyuruhnya berhenti.
Dengan latihan seperti ini, tentunya Darma thirta sadari bahwa latihan ini sebagai bentuk latihan dasar untuk memperkuat kekuatan fisiknya.
Memang terlihat seperti babu, tetapi tidak masalah bagi pemuda tersebut, tekat untuk menjadi lebih kuat dan untuk membalaskan dendam orang tuanya sudah bulat dihatinya. apapun itu pasti dia lakukan, tetapi dengan latihan seperti ini, tidak sedikit murid-murid lain menganggap pemuda tersebut sebelah mata.
Apalagi para murid laki-laki yang iri terhadap sosok Darma thirta yang mulai sedikit demi sedikit populer dikalangan murid perempuan dikarenakan fisiknya yang tampan, yang berbeda dari murid laki-laki lainnya.
terutama murid senior di padepokan Garuda emas di beberapa kelas 2, ketika sedang membersihkan ruangan ada saja murid senior yang merasa iri padanya. mencoba mengganggu dengan menyiramkan air, mengotori tempat yang sudah dibersihkan.
Tetapi pemuda itu tidak menghiraukannya, karna baginya mencari masalah disini bisa saja membuat dirinya tidak bisa berlatih disini lagi, pemuda itu hanya menganggap itu tidak penting dan bagian dari pelajaran menahan kesabaran.
sampai suatu hari kesabaran Darma thirta benar-benar diuji dan seakan sudah mencapai titik didihnya.
seorang murid senior dari kelas 2 ruang 10 yang sebentar lagi akan mencapai tahap ke kelas berikutnya menggodanya dan seakan mencoba menguji kemampuan pemuda itu.
"Hai Babu sial, kerja mu tiap hari hanya membersihkan tempat ini, aku sudah muak melihat mu, apa yang membuat mu populer akhir-akhir ini melebih diriku, apa hanya karna mata aneh mu itu HHAH? kalau kau benar-benar suka membersihkan, ini silahkan bersihkan biar aku tambah hahaha." Sambil menyiramkan air cucian kotor kelantai yang sudah dibersihkan. Pemuda itu mencerca dengan kata-kata kasar.
Darma thirta yang sudah hampir terpancing emosinya, tetap tidak bergeming kembali melakukan pekerjaannya ,lantai yang ditumpahkan air oleh murid sombong itu kembali dibersihkannya.
merasa tidak dihiraukan, dan merasa dianggap remeh, murid tersebut malah tambah bringas mencerca, dengan kata-kata kasar kembali keluar dari mulutnya.
murid-murid padepokan lain yang menyaksikan peristiwa tersebut berkumpul, membuat suasana tersebut semakin bertambah sesak.
Sontak ketika ada kejadian seperti ini, murid-murid lainnya mengeluarkan kebiasaan buruk yang biasanya mereka lakukan, apalagi kalo bukan menghasut dan memanas-manasi suasana, dengan meneriakan suaranya memanasi suasana pada peristiwa yang sedang terjadi.
" Ayo hajar, ayo hajar. kami mendukungmu senior joko lengo, hajar babu itu."
Joko lengo murid yang terkenal songong ini, semakin menjadi ketika dipanas-panasi, kembali dia mengupat dan mencerca.
__ADS_1
"Kau babu songong, kenapa ? apa kau ingin menangis Haha, aku tak habis pikir, mengapa ketua Raden menerima anak pengecut sepertimu disini, apa orang tuamu tidak memberikan didikan lain, selain hanya menjadi babu, kalo seperti itu, berarti orang tua mu itu bodoh dan menyedihkan hahaha."
Mendengar perkataan murid songong itu, Darma thirta menghentikan pekerjaannya sesaat, dan kemudian..
"Kau boleh menyinggung dan menghinaku, tetapi tidak dengan orang yang kusayangi, aku mau lihat apa setelah ini mulut busuk mu itu masih bisa bicara setelah ini."
"Haha mau menantang ku, babu kelas 3 seperti mu bisa apa, aku Joko lengo sipintar yang akan masuk ketahap pendekar tingkat tinggi apa yang bisa kau perr...."
joko lengo belum sempat melanjutkan kata-katanya, badannya seakan bergetar menerima aura dingin yang keluar dari tubuh Darma thirta, serta matanya terbelalak melihat air kotor yang ditumpahkannya tadi, kini terbang menggenang disekitaran pemuda bermata biru itu, seakan menjadi senjata yang bersiap menyerangnya..
"Kekuatan yang menarik" Joko lengo berujar sambil menarik pedang yang tersandang dipinggangnya.
"Matilah kau" Darma thirta menggerakan tangannya kearah joko lengo yang siap menyerangnya.
Bagaikan seperti menerima sebuah perintah.
Air, air itu melesat terbang bagaikan senjata bertekanan tinggi menyerang joko lengo dengan membabi buta.
Joko lengo berupaya menghindar dan menangkis beberapa air yang dilemparkan Darma thirta yang seakan tidak ada habisnya untuk terus-menerus menyerang murid songong itu.
Joko lengo terus menyerang Darma thirta, tetapi serangan Joko lengo tidak pernah mencapai tubuh pemuda bermata biru itu.
dan akhirnya..
""Blash, bukk, bukk,bukk.""
Air bertekanan tinggi yang melesat tajam dengan tenaga dalam, menghujami
dada dan kepala Joko lengo, membuat pemuda itu terpental beberapa langkah, belum sempat berdiri dengan benar dan masih sedikit sempoyongan, sebuah tendangan terbang menyapu telak mulutnya. kembali joko lengo terpental dibuatnya, terlihat satu gigi depan joko lengo copot menggelinding ke tanah. serta darah segar mengalir dari hidung dan mulut murid sombong tersebut.
joko lengo memegangi mulutnya dan meringis kesakitan, kini dia sadar bahwa dirinya sedang menggali kuburannya sendiri. Murid-murid lain yang ikut menyaksikan, kini hanya terdiam melongo melihat peristiwa tersebut. seakan tidak percaya, sipintar dari kelas dua, pendekar tingkat menengah yang hampir mencapai tahap selanjutnya menjadi bulan-bulanan dimata mereka.
Darma thirta seakan menikmati pemandangan yang terjadi didepan matanya, pemuda yang dari tadi hanya sabar itu seketika menjadi makhluk yg tak kenal ampun, diraihnya pedang joko lengo yang terhempas ketanah, seketika Darma thirta berlari cepat menuju kearah Joko lengo bersiap menuntaskan dan bersiap mengeksekusi pemuda sombong itu..
Sadar nyawanya dalam bahaya, Joko lengo berusaha mundur merangkak kebelakang sambil memegang mulutnya, keringat dingin keluar dari tubuhnya, serta aura dingin Darma thirta terus memburu membatasi langkah pemuda itu untuk bergerak menjauh, membuatnya hanya bisa mengeluarkan air mata yang mengalir kepipi dan air kencing mengalir membasahi celananya.
__ADS_1
"Sekarang katakan lagi yang kau katakan tadi kepada dewa penjaga gerbang kematian" Darma thirta berujar, sambil meloncat menghunus pedang bersiap menghujam jantung joko lengo.
Joko lengo hanya bisa memejamkan matanya bersiap menyambut kematian yang akan datang menjemput..
tetapi ,,
tepat disaat sebelum pedang menusuk jantung Joko lengo..
"ting ting" terlihat dua krikil yang dilemparkan
menghantam pedang yang dipegang Darma thirta, membuat pedang itu jatuh dari genggamannya.
Melihat kejadian itu Darma thirta tersentak dan menoleh kearah orang yang melemparkan krikil tersebut, terlihat kini orang itu telah sampai didepan matanya , menengahi apa yang baru saja terjadi.
Darma thirta segera sadar dengan apa yang dilakukannya dan segera mundur menjauh 3 langkah kebelakang seraya membungkuk meminta maaf. dengan apa yang telah ia perbuat, dirinya juga sadar dan siap mendapatkan hukuman.
"Maafkan aku Ketua, aku tidak bisa menahan diri karna terpancing emosi, aku siap menerima sanksi apapun, termasuk hukuman penjara dan meninggalkan perguruan ini"
Raden prakoso orang yang kini berdiri dihadapan Darma thirta hanya diam sejenak, memandangi tubuh joko lengo yang sudah tidak sadarkan diri karna pingsan, meminta beberapa murid untuk membawanya ke tabib oku untuk segera diobati.
"Tidak ini salahku Thirta, karna telah memberikanmu latihan yang tidak wajar seperti ini, dan aku juga lupa untuk menyuruhmu berhenti membersihkan padepokan ini hehe. tapi syukurlah aku datang disaat yang tepat, hadehh hampir saja, tapi untuk ini kau pasti juga akan mendapatkan hukuman." Raden prakoso berkata dengan ekspresi datar.
"Baik, aku siap menerima hukuman apapun ketua" Darma thirta sedikit gemetar melihat ekspresi datar dari Raden prakoso.
"hehe tenang kau tidak akan dikeluarkan kok, potong Raden prakoso membuat Darma thirta sedikit bernafas lega..
"Anak ini, tidak kusangka, memiliki hal seperti ini, dan sanggup melakukan hal sedemikian rupa. kini aku yakin anak inilah yang membunuh kawanan prajurit kerajaan Bandar dan kawan perampok tempo hari lalu. tapi pasti dia melakukannya tanpa sadar, karna dia tidak bisa mengendalikan kekuatannya, tetapi kekuatannya lah yang mengendalikan dirinya, mungkinkah anak ini yang dimaksud eyang guru, kalo seperti itu setidaknya setitik cahaya harapan itu masih ada ." Pikir raden prakoso, sambil terlihat sedikit tersenyum dibibirnya.
"Thirta kau ikut aku, mulai hari ini kau berlatih dengan ku. dan hentikan juga latihan membersihkan padepokan ini, kenapa juga kau terus melakukannya selama seminggu ini hahah."
"Baik ketua" Darma thirta mengangguk tanpa banyak berkata-kata.
"Dan untuk yang lainnya, kalian yang menyaksikan seharusnya kalian melerai teman kalian yang berkelahi, bukannya malah memanas-manasi, jauhi juga sifat sombong. Dewa yang terbuang bisa jatuh dari langit kebumi ini, karna sifat sombong dan sekarang menjadi makhluk tak berguna, sekelas dewa saja bisa seperti itu, apalagi kalian yang cuma manusia.
apa kalian paham?" Raden prakoso menasehati murid-murid lain yang menyaksikan pertarungan itu, murid-murid itu hanya mengangguk malu dan kini mulai sadar bahwa diatas langit masih ada langit, dan kesombongan hanya akan membawa mereka pada kehancuran.
__ADS_1
Raden prakoso dan Darma thirta pun berlalu meninggalkan suasana hening diantara murid-murid itu.
peristiwa hari ini mungkin bakal menjadi pelajaran berharga khususnya bagi joko lengo serta murid-murid padepokan perguruan emas yang menyaksikan pertarungan tersebut.