
Ditempat lain,,
5 pendekar perguruan Garuda emas, yang di pimpin langsung oleh Biantoro telah kembali dari Kadipaten selawut, menuntaskan misi nya melenyapkan kawanan perampok Kapak hitam, yang meresahkan warga kadipaten selawut.
Biantoro kembali menuju wilayah padepokan perguruan Garuda emas, dalam perjalanannya menuju padepokan, yang menyusuri hutan Bungo bangkai, dan melewati jalan aliran sungai besar Jenggalu, di lihatnya gelimpangan mayat-mayat para prajurit kerajaan dan kedua orang tua yang telah tewas, serta bekas gubuk rumah yang telah hancur lebur, akibat sisa-sisa pertarungan, menimbulkan Rasa heran di benak ke 5 pendekar itu.
"Pasti kedua orang tua ini dibunuh oleh para prajurit ini, tapi apa yang membuat prajurit Kerajaan Bandar nekat menerobos wilayah kerajaan Gading cempaka, serta membunuh kedua orang tua ini, dan siapa orang yang telah membantai seluruh prajurit ini" pikir Biantoro sedikit heran.
Kemudian tak lama setelah itu, Biantoro meminta para pendekar lainnya untuk segera menguburkan kedua orang tua itu di sekitaran area gubuk yang telah hancur, serta para prajurit yang telah tewas tersebut dikuburkan di dalam 1 lubang, di sekitaran area tidak jauh dari kuburan kedua orang tua itu.
Setelah selesai, lantas Biantoro segera menelusuri jalan hutan Bungo bangkai untuk kembali melanjutkan perjalanan pulang ke padepokan Garuda emas.
__ADS_1
Lagi,,
kali ini di tengah perjalanan, pemandangan yang serupa kembali tersaji di depan matanya dan ke 5 pendekar perguruan Garuda emas, yang sekarang telah berserakan mayat-mayat orang berbaju hitam, khasnya pakaian para perampok.
Yahh,, kawanan mat codet , kawanan perampok yang cukup meresahkan di kawasan tersebut, telah tewas di bantai.
Tidak jauh dari mayat perampok itu, terdapat satu sosok yang cukup di kenalnya, yaitu sosok pemuda bermata biru yang datang ke padepokan Garuda emas bersama utusan Kadipaten Selawut tempo hari lalu.
"Ternyata masih hidup" pikir Biantoro yang segera mengaliri tenaga dalamnya ke tubuh pemuda itu sebagai pertolongan pertama, dan untuk selanjutnya segera membawanya menuju padepokan garuda emas.
Sesampainya di padepokan Garuda emas, Biantoro dan kelima pendekar lainnya bergegas membawa tubuh Darma thirta yang tak sadarkan diri dengan luka-luka anak panah yang cukup parah.
__ADS_1
Melihat hal tersebut. Para murid padepokan Garuda emas berlarian melihat dan bertanya-tanya siapakah gerangan orang yang dibawa oleh ketua Biantoro.
"Lastri cepat panggilkan tabib Oku, anak ini perlu bantuan." Biantoro berkata kepada salah satu muridnya.
"Baik guru"
Segera Lastri menggangguk melaksanakan perintah gurunya menjemput tabib Oku, Selang beberapa menit kemudian, tabib Oku Memeriksa keadaan pemuda itu seraya berkata. "Dia tidak apa-apa ketua, nasib baik luka akibat anak panah ini tidak mengenai bagian vital tubuhnya, dia hanya memerlukan waktu setidaknya 3-5 hari untuk pulih kembali."
Mendengar penuturan sang tabib, Biantoro tersenyum lega, tapi dengan masih di liputi tanda tanya mengapa pemuda itu bisa luka parah dan tergeletak di tengah-tengah mayat para perampok.
"Apakah anak ini yang membunuh mereka, apakah ada orang lain, yang..
__ADS_1
Ah sudah" pikirnya, dan tidak mau berpikir lebih jauh lagi.