
Sebulan sudah Darma thirta melakukan tapa brata, musim hujan yang sedang terjadi didaerah tanah suwarna bhumi membuat aliran sungai jenggalu menjadi lebih dalam, kini tidak terlihat lagi sosok pemuda yang melakukan tapa brata di sungai tersebut, karna memang sudah tenggelam, beberapa jengkal dari permukaan sungai hanya terlihat rambutnya saja dari atas permukaan,
dengan keadaan tersebut Darma thirta tetap tak bergeming dari tapanya.
Perutnya yang lapar hanya diatasinya dengan membuka mulutnya mengisi perut dengan meminum air sungai, sudah hampir sehari air sungai meninggi menenggelamkan dirinya, kini Darma thirta tidak menyadari bahwa ia mampu menahan nafas selama itu didalam air, bukannya tidak menyadari tetapi sekarang dirinya benar-benar sudah dalam keadaan tidak sadar.
Dirinya hanya merasa sekarang berada di alam atau tempat yang benar-benar belum pernah ia datangi sebelumnya.
Pemuda itu berjalan menelusuri lorong-lorong sempit dan gelap, jalan yang lembab disertai genangan air sebatas mata kaki. dirinya merasa seakan berada disebuah goa yang panjang tanpa adanya ujung.
"Dimana aku berada, seingatku aku sedang bertapa dialiran sungai jenggalu, tempat apa ini, jangan-jangan aku sudah mati saking laparnya, ahh lebih baik aku telusuri saja jalan ini." Pikir pemuda itu masih dengan perasaan heran tentang tempat yang dilaluinya sekarang.
Dari kejauhan matanya, dilihatnya sepasang titik sinar berwarna biru terang, titik biru itu terlihat begitu tajam diantara warna gelap disekitarnya, Darma thirta bergerak menuju titik terang itu, semakin lama semakin dekat. dilihatnya seorang pria seumuran ketua perguruan Garuda emas, pria misterius itu berambut biru dengan kulit putih seperti mutiara, dikedua lengannya terdapat sisik yang lebih menyerupai tato, serta bermata biru terang keseluruhan, melihatnya dari ujung kaki sampai ke ujung kepalanya menatap pemuda itu dengan tatapan tajam.
setelah jarak mereka cukup dekat, pria itu kemudian berkata..
"Ada keperluan apa kau datang kesini, dan bagaimana kau bisa kesini?" tanya pria misterius itu.
"Sana pulang aku tidak ada waktu bermain dengan orang lemah sepertimu, pergi, pergi." pria itu kembali berkata sambil menggerakan tangannya seraya mengusir Darma thirta pergi dari hadapannya.
"Maaf paman, dimana aku sekarang, apakah ini alam kematian?" jawab pemuda itu datar bercampur heran.
Diperhatikannya lagi sosok Darma thirta seraya tertawa keras..
" Huhahaha, alam kematian, bila kau mati aku juga pasti mati ******."
__ADS_1
Darma thirta hanya heran mendengar jawaban orang tersebut.
"Sebenarnya paman ini siapa? dan apa maksud dari perkataan paman?
Pria misterius itu tidak menjawab hanya menatap tajam, sejurus kemudian diangkatnya tangan kirinya mengeluarkan air yang meluncur seakan memiliki mata air sendiri ditelapak tangannya. sepersekian detik kemudian air itu mengeras menjadi sebuah kristal, semakin lama semakin keras membentuk sebuah tombak trisula kristal, dengan 3 mata tombak yang berwarna bening seperti air, dan dengan tongkat pegangan berwarna biru seperti air laut.
Darma thirta yang melihat hal tersebut hanya dibuat takjub menyaksikan kejadian yang berlangsung didepan matanya.
"Bagaimana bisa pikirnya"
"Sekarang coba kau buat unsur air yang ada didirimu itu menjadi seperti ini, kalau kau bisa melakukannya aku akan menjawab 3 pertanyaan mu itu, hahahaha"
Pria misterius itu berkata sambil tertawa lantang.
Pria misterius itu pun hanya diam dan memperhatikan, sesekali pria itu mengernyitkan dahinya sambil tertawa, karna melihat ketidakmampuan Darma thirta menjawab tantangan darinya.
Setelah 30 menit mencoba akhirnya Darma thirta mampu mengeluarkan unsur air,
yah, tetapi hanya air yang lemah, jauh dari yang dirinya harapkan.
kini pemuda itu hanya terduduk lemas, tenaga dalamnya serasa habis karna berusaha membuat tombak trisula seperti yang dilakukan pria misterius itu.
" Apa, kau menyerahh?? ya ampun bagaimana mungkin dewa yang agung sepertiku terjebak didalam diri pemuda lemah seperti mu,,? pria misterius itu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil mengernyitkan dahinya, lebih baik aku mati sajalah kepalangan. " Pria itu kembali berkata sambil mengeraskan pegangan terhadap tombak trisulanya, kemudian menatap tajam ke arah Darma thirta.
Darma thirta masih mencoba memahami keadaan yang terjadi sekarang, sambil terus mencoba mengeluarkan unsur air serta mencoba mengeraskannya, tetapi perasaan pemuda itu semakin tidak enak, melihat gelagat serta ucapan pria misterius yang ada didepannya, seakan pria misterius itu berniat tidak bersahabat terhadap dirinya.
__ADS_1
"Apa yang akan kau lakukan paman ? jangan bilang kau akan menyerangku." Darma thirta berkata seraya mundur beberapa langkah kebelakang.
" Huahaha, aku mau melihatnya, kemampuan mu itu, sudah kukatakan lebih baik aku mati, dan itu akan ku lakukan dengan cara membunuh mu." Pria misterius itu terbang melesat kearah Darma thirta yang sudah terlihat mundur dengan muka cemas dan pucat, sambil mencari-cari arah jalan keluar dari tempat aneh tersebut.
"Tu,tu, tunggu paman, apa salahku, perasaan kenapa hidup ku ini selalu salah sih, hadehh, Darma thirta semakin cemas ketika melihat ujung trisula pria misterius itu semakin mendekati kepalanya.
Tetapi sebelum itu terjadi,
Darma thirta sempat menghindarinya dengan gerakan beladiri dasar yang dipelajarinya selama seminggu penuh di Perguruan Garuda emas.
Terdengar dentuman keras seperti ledakan yang cukup dasyat, akibat dari mata tombak trisula pria misterius itu menghantam dan tertancap di dinding goa aneh tempat mereka berdua berada.
Darma thirta segera bergerak ke samping kiri mencoba berlari menjauh,
"hahaha mau kemana kau bocah" pria misterius itu sekejap mencabut trisulanya yang tertancap, kemudian melesat terbang lagi memburu Darma thirta yang sudah berlari kabur.
"Owh sial, batu saja bisa meledak seperti itu bagaimana bila kena kepalaku"
" wushhh" sesaat kemudian sebuah kilatan berwarna biru melesat tajam kearah tengkuk pemuda itu, Darma thirta menunduk tersungkur ke lantai goa, kilatan berwarna biru itu hampir saja mengenai belakang kepalanya,
sesaat kemudian terdengar bunyi ledakan keras akibat efek dari kilatan tersebut menghantam dinding goa yang berada didepannya.
"Apa itu tadi, senjata orang itu bisa mengeluarkan sesuatu seperti itu, jangkauannya bisa lebih jauh lagi ternyata, untung saja tadi kaki ku tersandung kerikil ini, bila tidak aku bisa mati, ternyata masih ada keberuntungan memihakku kali ini,
"Bagaimana bisa anak itu menghindari kilat petir trisula pusaka laut ku ini ?, padahal kuserang dia dari arah belakang dengan cepat, dan tidak terlihat, reflek kepekaan anak itu terhadap bahaya bagus juga ternyata, kurasa anak ini tidak terlalu buruk" sosok itu masih heran sambil kembali bersiap melakukan serangan selanjutnya.
__ADS_1