Legenda Nusantara Sakti

Legenda Nusantara Sakti
Darma Thirta Vs Gumai Larang 2


__ADS_3

Dengan sisa-sisa tenaga dalamnya Darma thirta mengepalkan tinjunya berlari kearah Gumai larang bersiap menghantamkan pukulannya ke arah harimau itu, hal yang sama juga diperlihatkan oleh Gumai larang, harimau jejadian itu menggeram keras bersiap menyambut serangan dari Darma thirta.


Sejurus kemudian serangan keduanya saling bertemu dan..


"Bletakk"


Tinju Darma thirta mendarat telak kearah kepala Gumai larang, tanpa bisa ditangkis oleh harimau itu.


tetapi Gumai larang juga sempat mendaratkan sapuan cakarannya kearah kepala Darma thirta membuat keduanya sama2 terpental.


Wujud harimau Gumai larang terdiam dalam posisi terkapar, sekujur tubuh harimau jejadian itu telah penuh luka dengan kedua matanya lebam, Darah segar mengalir dari kedua lubang hidungnya, tampak harimau itu sudah mencapai batas akibat kelelahan dari pertarungan yang dijalaninya.


Gumai larang mencoba berdiri, tetapi gagal.


Dari sisi lain, Darma thirta mencoba berdiri dengan kaki bergetar, menahan nyilu disetiap sendi-sendinya.


Perlahan pemuda itu berjalan mendekati tubuh Gumai larang yang terlihat lunglai dan sudah tidak mampu berdiri.

__ADS_1


Pemuda bermata biru itu mencoba mengeluarkan unsur air dari sisa tenaga dalamnya, dan hanya mampu menciptakan pisau kecil yang akan digunakan untuk mengeksekusi gumai larang, tetapi senjata itu sudah lebih dari cukup untuk mengakhiri pertarungannya kali ini.


Gumai larang hanya menatap dalam Darma thirta yang berjalan mendekatinya, tubuhnya sudah tidak mampu berdiri tetapi Gumai larang berusaha membuat agar dirinya tetap tersadar.


"Grgrrr, yang menang berhak melakukan apapun dari yang kalah, silahkan kau lakukan, aku akan senang mati ditangan orang yang mengalahkanku." Harimau itu berkata sambil perlahan tubuhnya telah kembali berubah ke wujud manusianya.


Sekarang terlihat sosok manusia Gumai larang, seorang pemuda dengan usia kurang lebih 20 tahun. Berambut hitam ikal, memiliki kulit sawo matang dengan tubuh lansing yang tidak terlalu tinggi mengenakan pakaian bermotif belang ala orang pedalaman, sedang terkapar tidak berdaya, hanya tersenyum kecut kearah Darma thirta tanpa ada rasa takut sedikitpun dihatinya akan datangnya kematian.


Gumai larang hanya memejamkan matanya, ketika pemuda bermata biru itu mengayunkan pisau kecil kearah dirinya yang sedang terkapar.


"Ahhkk" Gumai larang berteriak tetapi merasa aneh karna rasa sakit yang timbul tidak membuat dirinya mati, pisau kecil itu tidak menusuk jantung atau lehernya melainkan menancap di kedua telapak tangannya, seketika itu juga dirasakannya kedua tangannya mengeras bagaikan terkena lilitan rantai batu.


Dengan bersusah payah,


Darma thirta membawa tubuh Gumai larang, Dari kejauhan dilihatnya sekelompok orang berjalan menuju kearahnya. pemuda itu bisa menebak bahwa mereka adalah rombongan penduduk yang dibawa oleh Lestari.


****

__ADS_1


Ditempat lain, seorang gadis muda sedang menggerutu sendiri karna suatu sebab,


"Sial kenapa Gumai larang lama sekali, apakah terjadi sesuatu padanya, kenapa perasaanku tidak enak begini, apa jangan-jangan..


ahh lebih baik aku kembali menyusulnya."


****


Cahya lestari dan Diah arum ditemani beberapa penduduk desa yang dipimpin ki Yatno memandangi tubuh pemuda yang berlumuran darah dengan penuh luka yang terlihat membawa seseorang bersamanya dengan heran..


"Siapa yang kau bawa Thirta?" tanya Diah arum penasaran.


"Apa kah ini harimau jejadian itu?" cahya lestari bertanya seraya Darma thirta mengangguk mengiyakan.


"Yah, ini lah sosok harimau itu." sambil meletakan tubuh tidak berdaya Gumai larang dihadapan para warga desa yang kini terlihat mengerumuninya.


Para warga desa yang geram, merasa diresakan dan diliputi kewaspadaan akhir-akhir ini terlihat ingin menumpahkan kekesalannya terhadap sosok Gumai larang yang sudah tidak berdaya.

__ADS_1


Tetapi Darma thirta dan ki Yatno langsung menengahi agar tidak terjadi main hakim sendiri yang di lakukan oleh para penduduk yang ikut menyaksikan tersebut.


"Sudah, dia sudah tidak berdaya, aku dan para pendekar muda ini akan membawanya ke rumahku, kita akan menanyainy disana, kenapa mereka bisa ada disini" ujar ki Yatno lantang, membuat para warga tidak berani melanjutkan aksinya.


__ADS_2