
Tiga hari yang lalu padepokan Garuda emas di hebohkan dengan tingkah salah satu ketua mereka.
Ketua Raden prakoso yang terlihat panik dan bingung, ketika dirinya menyadari dan mengingat kembali bahwa dia sudah meninggalkan salah satu murid perguruan Garuda emas untuk bertapa di aliran sungai Jenggalu, dia baru sadar bahwa akhir-akhir ini sedang turun hujan yang cukup deras, yang tentunya berakibat juga pada aliran sungai yang meninggi.
Sesegera mungkin dia menuju ke aliran sungai tempat Darma thirta melakukan tapa brata dengan ditemani oleh beberapa guru pembimbing kelas serta murid-murid senior lainnya.
Ketika tiba ditempat yang dituju.
Benar saja, aliran sungai Jenggalu sudah bertambah dalam sekitar satu meter.
Dan tentu saja tidak terlihat lagi sosok pemuda yang sedang bertapa di pinggir sungai itu, Raden prakoso terlihat lebih panik lagi, kemudian dia memerintahkan para guru pembimbing dan murid senior yang menemaninya mencari keberadaan Darma thirta, untuk mencari pemuda itu menelusuri setiap hilir aliran sungai.
Pencarian pun dilakukan, dihari pertama, dihari kedua, hasilnya nihil, tubuh Darma thirta tetap tidak berhasil ditemukan.
Dan pada hari ketiga tubuh pemuda itu berhasil ditemukan, hanyut sekitar 4 kilometer dari tempat dia semula bertapa, tersangkut di beberapa dahan pohon yang merunduk ke tepi sungai.
Sekarang diaula utama perguruan Garuda emas, beberapa orang perguruan Garuda emas sedang berkumpul, terlihat disana ada ketua Raden prakoso, Ketua Biantoro, beberapa guru pembimbing kelas 3 dan 2, dan para murid senior yang berkumpul untuk menyaksikan sosok pemuda hanyut yang sebentar lagi akan dikuburkan.
__ADS_1
Seketika.
Ketika akan diangkat, orang-orang yang berkumpul serentak meloncat karna kaget akibat dari sosok itu bergerak berupaya melepaskan kain yang membungkus tubuhnya.
Sejurus kemudian kain itu terbuka, tampak pemuda itu berdiri memandangi setiap orang-orang yang berkumpul menyaksikan dirinya, seraya berkata.
"Ketua apa yang terjadi denganku?"
Sontak, beberapa pasang mata hanya melongo dibuatnya..
"Ternyata kau masih hidup thirta, syukurlah, bahkan tabib Oku mengatakan bahwa nyawamu sudah tidak ada ketika kami menemukan mu setelah hanyut beberapa kilo meter dari tempat mu bertapa, ternyata sang dewa berkata lain." Sahut ketua Raden prakoso dengan perasaan senang yang teramat sangat yang tidak mampu ditutupinya.
Belum sepenuhnya mengerti dengan keadaan yang dialaminya.
Dari kejauhan dua orang berlari mendekati kerumunan orang-orang, keduanya terlihat sama kagetnya, dua orang itu tidak lain yaitu Kemal dan Kaliandra teman satu kelas Darma thirta.
"Guru kuburannya sudah siap diisi, tapi kok dia masih hidup guru? jadi bagaimana ini." Kata salah seorang murid yang bernama Kemal.
__ADS_1
''Apanya yang bagaimana, kau bisa lihat sendiri temanmu itu masih hidup, kalau kau mau kau bisa mengisi tempat itu hahaha" jawab salah seorang tetua, yaitu guru Aji.
"Sial, padahal aku sudah capek-capek menggali, Thirta apa kau tidak mau coba dulu lubang kuburmu, itu terlihat sangat pas dan nyaman untuk mu." Kemal berkata sambil melirik Darma thirta.
"Tidak mau,kau saja yang tidur disana." pemuda itu menjawab sedikit kesal karna dikira sudah mati dan hampir dikubur.
"Sudah-sudah kalian cepat lanjutkan berlatih, dan kau Thirta aku senang karna kau tidak jadi mati, sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang mau kutanya padamu, tetapi saat ini kondisinya sedang tidak memungkinkan, karna aku sedang sibuk untuk mempersiapkan pertemuan dengan para ketua perguruan aliran putih lainnya dalam beberapa minggu kedepan, untuk sekarang kau bersihkan dulu dirimu, kemudian lanjutlah berlatih dikelas 1 ruang 2 temui guru Jaya prana, aku sudah merekomendasikan dirimu untuk masuk kesana." Raden prakoso berkata sambil memukul-mukul pelan pundak Darma thirta yang hanya mengangguk sambil menelan ludah, mendengar dirinya sekarang sudah naik tingkatan ke kelas 1. Yang berarti secara tidak langsung ketua Raden prakoso mengakui bahwa tingkatan level kekuatan Darma thirta sudah berada ditingkat tinggi.
Walaupun sebenarnya pemuda itu tidak merasakan perbedaan yang terjadi sejak dirinya bergabung menjadi murid padepokan perguruan Garuda emas, yang terlintas dipikirannya bahwa mungkin karna peristiwa tempo hari lalu, ketika dirinya bertarung dengan Joko lengo, yaitu murid kelas 2 ruang 10. Yang telah berhasil dikalahkannya dengan cukup mudah.
"Baik ketua." Darma thirta menjawab singkat, dan hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.
setelah itu kerumunan orang tersebut bubar seraya melanjutkan kegiatannya masing-masing, Raden prakoso sendiri, mengumpulkan para tetua guru pembimbing kelas untuk mempersiapkan rapat perguruan aliran putih. Karna perguruan Garuda emas berperan sebagai tuan rumah ketika pertemuan yang akan diadakan kali ini.
Darma thirta sendiri masih memikirkan kejadian yang terjadi terhadap dirinya, beberapa kali dia memukul pipinya sendiri tetapi merasa sakit, menandakan bahwa dirinya sedang tidak bermimpi.
"Apa mungkin pertemuanku dengan paman aneh berambut biru itu hanya mimpi, seandainya bukan mimpi siapa sosok itu." Pemuda itu masih memikirkan pertemuannya dengan sosok pria misterius dialam bawa sadarnya tempo waktu lalu, dan memikirkan apa benar dirinya telah menelan inti mutiara yang hampir membuat dirinya tewas.
__ADS_1
Tetapi satu hal yang membuat dirinya cukup yakin bahwa itu bukan mimpi, ketika dirinya menyadari perubahan pada tangan kirinya yang bening kini sudah tidak terlihat bening lagi, Tetapi berganti dilengan kiri dan kanannya terdapat sisik-sisik kebiruan seperti ukiran tato sisik ular, persis sisik yang terdapat pada pria bermata biru.
"Hahh ini, seperti punya paman aneh itu" pikir Darma thirta seraya memegang dan memperhatikan lengan kiri dan kanannya.