
"Anak bermata biru, apakah ini anak yang di maksud oleh eyang guru. "Pikir Raden prakoso.
"Sekarang kemana tujuan mu anak muda" kembali Raden prakoso bertanya kepada pemuda bermata biru tersebut, Darma thirta yang daritadi hanya terlihat diam, sambil melihat keadaan sekitar ruangan di padepokan.
Sesekali pemuda itu melihat ke arah luar, melihat anak-anak yang sedang berlatih beladiri. "Entahlah tuan, rencananya aku mau kembali kerumah, aku takut ayah dan ibuku mengkhawatirkan diriku, karena dari kemaren belum pulang." jawab Darma thirta.
"Sekali lagi terimakasih banyak anak muda, kau telah menolong tamu ku di perjalanannya, apabila kau ingin berlatih dan memperdalam tenaga dalam, agar kau bisa mengendalikan tenaga dalam mu itu, kemarilah anak muda." seraya Raden prakoso memberikan sebuah lencana, berbentuk burung garuda kepada Darma thirta.
kemudian di sambut anggukan dan senyum kecil dari wajah pemuda itu, dengan senang menerima dan menyimpan, lencana pemberian dari ketua perguruan Garuda emas tersebut.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Darma thirta pamit, untuk kembali pulang ke desa nya. "mungkin saat ini ayah dan ibu sedang menghawatirkan ku." pikirnya.
Dengan cepat Darma thirta pulang menuju ke desa Jenggalu, dengan menunggangi seekor kuda yang diberikan oleh Raden prakoso sebagai ucapan terima kasih karna telah menolong kedua tamunya.
Tentunya juga, agar mempermudah perjalanan Darma thirta kembali ke kampung halamannya yang memang cukup jauh dari padepokan Garuda emas, yang berjarak 2 jam perjalanan bila menaiki kuda dan 5 jam lebih perjalanan bila berjalan kaki.
Ditempat lain, para perampok yang pingsan karena pertarungan mereka dengan Darma thirta.
Ketua perampok yang bernama Mat codet tersadar, kembali mengingat peristiwa yang membuat dirinya pingsan, seraya teringat dengan pengumuman yang di beritakan oleh orang-orang kerajaan Nusantara, yang mencari seorang anak bermata biru, dengan imbalan 10.000 keping koin emas bagi yang bisa memberitahukan keberadaannya kepada kerajaan Nusantara dan 100.000 keping koin emas bagi yang bisa membunuh dan menyerahkan mayatnya.
__ADS_1
"Bila aku langsung menyerang seorang diri tidak mungkin aku bisa menang, baiklah, aku akan mencari sekutu lainnya, untuk saat ini aku ikuti saja anak itu, dan mencari tahu dimana tempat tinggalnya, aku akan tunggu disini, pasti anak itu lewat sini, karena memang ini lah jalan satu-satunya penghubung desa Jenggalu dan desa Mekarsari". Pikir mat codet, Sambil tersenyum picik, membayangkan hadiah 10.000 atau 100.000 koin emas yang akan akan dipakainya untuk bersenang-senang bila rencana nya ini berhasil.
Mat codet membangunkan anak buahnya yang masih hidup, kemudian berbisik kepada mereka untuk mengintai tempat tinggal Darma thirta, dengan maksud dan tujuan untuk menginfokan berita anak bermata biru tersebut kepada kerajaan Nusantara.
Selang 30 menit kemudian, benar saja lewatlah Darma thirta dengan menunggangi kuda putihnya. Mat codet dan anak buah yang dari tadi mengintai diatas pohon menunggu Darma thirta lewat, sesegera mungkin mengikuti anak muda itu dari kejauhan, menuju sampai kerumahnya.
Dengan jurus meringankan tubuh, mereka terbang pelan di antara rerimbunan pohon hutan Bungo bangkai. 1 setengah jam mengikuti Darma thirta, akhirnya para perampok tersebut mengetahui tempat tinggal anak muda itu.
Di sebuah gubung kecil di belakang aliran sungai besar Jenggalu, Mat codet mengatakan kepada salah satu anak buahnya "cepat kau pergi beritahukan berita ini kepada orang-orang kerajaan Nusantara, Beritahukan kepada mereka, Orang yang di cari oleh raja Kusumo negoro sejak lama, sudah berhasil kutemukan, jangan lupa dengan 10.000 keping koin emas yang mereka telah janjikan. "Ayo cepat cemprit, waktu adalah uang" cemprit mengangguk seraya pergi menuruti perintah bosnya tersebut.
__ADS_1