Legenda Nusantara Sakti

Legenda Nusantara Sakti
Perguruan Garuda Emas


__ADS_3

Langkah kereta kudanya terhenti tatkalah penjaga gerbang gapura menanyakan prihal kedatangan mereka, setelah Paklek Bagio menjelaskan kepada pria penjaga gerbang tersebut, akhirnya kereta kuda mereka di persilahkan masuk dan diantar menuju ke tempat dimana Raden prakoso berada.


Darma thirta di buat takjub dengan pemandangan yang dilihatnya, karna memang pengalaman kali ini baru pertama kalinya dia menginjakkan kakinya ke padepokan perguruan silat, di lihat keselilingnya ada banyak murid-murid berlatih ilmu kanuragan dan tenaga dalam.


Ada yang berlatih menghancurkan batu dengan tangan kosong, ada yang berlatih melemparkan pisau. Ada yang berlatih memanah dan memainkan pedang, ada yang latih tanding antar murid, masih banyak lagi.


Pikirannya benar-benar di penuhi rasa kagum dan rasa keinginan untuk berlatih disana.Begitu pula dengan orang-orang yang sedang berlatih di perguruan garuda emas tersebut, ratusan pasang mata memandangi kereta kuda yang dibawa oleh Darma thirta.

__ADS_1


Terutama tujuan mata mereka memandangi Darma thirta yang memang terlihat berbeda dari remaja-remaja lain pada umumnya yang pernah mereka lihat.


Langkah kereta kuda yang mereka tumpangi terhenti di sebuah ruangan padepokan perguruan garuda emas. Sebuah ruangan bangunan yang cukup besar dan ketiganya pun turun dari kereta kuda tersebut.


"Kisanak tunggu di sini sebentar, akan ku panggilkan dulu tuan guru Raden prakoso" kata penjaga gerbang kepada mereka bertiga.


Darma thirta walaupun tidak sekalipun pernah mempelajari ilmu kanuragan, tetapi entah mengapa dirinya bisa merasakan aura tenaga dalam yang kuat dan besar tetapi tidak mengintimidasi, dari tubuh lelaki tegap tersebut serta sedikit merasakan ada aura dendam di mata lelaki tersebut, dialah Raden prakoso.

__ADS_1


Di belakang Raden prakoso berjalan pelan seorang laki-laki lagi, berpakaian putih tetapi tidak memakai jubah, hanya baju putih biasa khasnya para pendekar, dengan celana emas dan tongkat emas besar tergantung di balik punggungnya, dialah adik Raden prakoso, ketua Biantoro.


Lalu diikuti seorang wanita muda dengan umur sekitar 25 tahunan memakai pakaian selendang hijau di kombinasikan dengan pakaian serba putih khas perguruan garuda emas.


Wanita tersebut bersenjatakan panah emas yang menggantung di punggungnya dialah Putri Meranti, kekasih Biantoro, anak bungsu dari Raja Kerajaan Gading cempaka. Yang menjadi wakil ketua perguruan Garuda emas.


Ketiga petinggi perguruan Garuda emas tersebut memberi salam dan mempersilahkan Darma thirta, Paklek Bagio dan Lestari untuk masuk, dan membicarakan kepentingan mereka datang, di dalam ruangan tetua Perguruan Garuda emas.

__ADS_1


__ADS_2