
Disebuah hutan belantara yang jarang dijamah oleh manusia, tepatnya di hutan yang terletak didaerah tanah Suwarna bhumi, terlihat empat orang pendekar sedang bertarung sengit dengan empat ekor harimau jejadian.
Tetapi dari pertarungan itu hanya dua orang pendekar yang maju dalam pertarungan.
Harimau jejadian itu menyerang dua orang yang sedang bertarung, dan dua orang lainnya hanya menonton saja sambil sesekali menguapkan mulutnya menyaksikan pertarungan kedua rekannya.
"Hoam, ngantuk sekali pangeran, cepatlah selesaikan, janganlah lama-lama pangeran tampan." Kata seorang pendekar yang berdiam diri dengan gaya gemulai layaknya seorang banci.
Kedua pangeran tersebut hanya tersenyum sinis sambil berkata.
"Tenang saja paman Suryo, sebentar lagi mereka akan kalah, haha" jawab seorang pendekar yang bertarung, yang tidak lain adalah pangeran Karsang Bumi.
"Apa perlu paman bantu pangeran, hahaa" seorang pendekar bertelinga satu yang bernama Mahendra menyahut.
"Tidak perlu paman, kami akan menyelesaikan ini dengan cepat" satu pangeran lagi yang terkenal pendiam menyahut dialah pangeran Restu Bumi
"Grrr, siaalan, berani-beraninya kalian meremehkan kami, Ajian tapak suci harimau, matilah kalian." Keempat ekor harimau jejadian itu menyerang kedua pangeran Nusantara secara bersamaan, dengan diiringi deruan pisau angin yang menyerang kedua pangeran itu.
"haha sudah lama aku tidak melihatnya, ajian tapak harimau" mahendra berujar.
Kedua pangeran nusantara terlihat tenang mereka dengan mudahnya menghindari setiap serangan yang datang kearah mereka sambil tersenyum meremehkan dan menatap tajam keempat ekor harimau muda yang terlihat kelelahan mengatur nafas mereka.
__ADS_1
Salah satu harimau berkata dengan suara sedikit terputus-putus.
"Siapa kalian berani-beraninya menyerang padepokan silat harimau, seingat kami, kami tidak pernah berbuat kesalahan terhadap kalian."
"Haha dengan ku kalian tidak ada masalah, tetapi dengan kerajaanku keberadaan kalian bermasalah, karna keegoisan situa Guru lading itu yang tidak mau tunduk kepada kerajaan Nusantara. Maka, hari ini perguruan kalian akan kami buat tinggal nama."
Jawab salah seorang pangeran, yaitu pangeran Karsang Bumi.
"Cuihh, bergabung dengan kalian kami tidak sudih pangeran sialan, kaum kami adalah kaum yang bebas dan tidak akan tunduk kepada siapapun, bila ingin menghabisi perguruan kami, Kalian kurang ajar langkahi dulu mayat kami berempat. yaaattt.."
Keempat Harimau muda itu kembali menyerang, pertarungan terjadi dengan begitu sengitnya antara keempat ekor harimau jejadian melawan kedua orang pangeran Nusantara.
Tidak terasa pertarungan terjadi sudah sekitar satu jam, ending pertarungan sudah mulai terlihat. Dua dari empat ekor harimau telah mati terbunuh, tinggallah kedua ekor harimau yang sudah kehilangan satu kakinya dan satu lagi sudah cedera berat bersiap untuk menyusul kedua rekannya.
"Sekali lagi kutanya, bila kau ingin kubiarkan hidup, dimana kaum kalian yang lainnya dan dimana lading tua itu ?" Karsang bumi membentak kedua harimau jejadian yang sudah tidak berdaya tersebut.
"hahah kau bunuh saja kami, kami tidak akan menjual teman kami." kedua harimau jejadian itu berujar
"Baiklah kalau begitu, kalian akan merasakan sisksaan sebelum nyawa kalian copot dari badan buruk kalian, Pusaka pedang kabut malam, akan kupersembahkan darah segar ini kepada mu."
Karsang bumi bersiap mengeksekusi kedua harimau jejadian tersebut dengan menggunakan sebuah pedang putihnya Pusaka Kabut malam, pedang putih itu mengeluarkan kabut tebal yang membuat pandangan sekitar mulai memburam, sepersekian detik kemudian, terdengar bunyi sayatan-sayatan daging yang cukup keras, dengan diiringi pekikan pilu kematian dua ekor harimau jejadian yang tersisa.
__ADS_1
Keduanya meregang nyawa dengan kondisi tubuh yang sangat memperihatinkan, yaitu dengan jasad yang sudah terpotong-potong kecil.
Mahendra dan suryo dewo yang menyaksikan pertarungan kedua pangeran itu, hanya menelan ludahnya sambil merasakan mual-mual pada perutnya karna melihat pemandangan yang menjijikan tersaji didepan mata mereka.
Ayo kakang, paman kita pergi, kita lanjut mencari anak bermata biru itu. Ujar Pangeran Karsang bumi sambil diikuti oleh restu bumi dan kedua pendekar lainnya.
****
Ditempat lain, kini keempat murid perguruan garuda emas telah kembali ke padepokan Garuda emas dengan selamat,
Guru pembimbing jaya prana hanya menunduk dengan telinga merah karna diomeli habis-habisan oleh Ki panca langit karna memberikan misi yang membuat keempat muridnya hampir terbunuh.
"Sial pak tua ini, telinga ku sakit sekali." Jaya prana menggerutu.
"Apa kau bilang, aku bisa mendengar mu bocah, aku hanya tua tetapi tidak budek."
Ki Panca langit menoleh kearah jaya prana yang sudah tidak terlihat karna sudah ngacir entah kemana.
"Baiklah, ayo Thirta kita pergi latihan, mulai sekarang aku akan melatih mu, kemasi barang-barang mu, mulai dari sini, ini akan menjadi perjalanan berat." Ki panca langit berujar, membuat seisi padepokan yang melihat dan mendengarnya melongo karna Ki panca langit mengangkat orang lain sebagai muridnya secara langsung.
"Baik eyang Guru" Darma thirta menjawab sambil pergi berkemas, menyiapkan keperluannya selama dalam perjalanan latihannya.
__ADS_1