
Tiga hari kemudian Darma thirta tersentak, terbangun dari tidurnya dan dia menyadari sekarang dirinya berada disebuah kamar yang tidak asing baginya.
Serta memegangi kepalanya yang masih terasa sakit karena baru tersadar setelah 3 hari tertidur.
"Dimana aku, tempat ini sepertinya,, owh iya, ayah ibu, ayah ibu,, jangan tinggal kan Thirta."
Darma thirta kembali teringat peristiwa berdarah tiga hari yang lalu saat kedua orang tuanya tewas terbunuh didepan kedua matanya, tidak terasa air mata kembali mengalir dari kedua mata pemuda itu, pemuda tersebut menangis sesegukan, setelah menyadari bahwa peristiwa itu bukan lah mimpi, kini dirinya merasa benar-benar sendiri dengan perasaannya hancur tatkala orang yang menemaninya dan merawatnya sejak kecil kini telah tiada.
Sesaat kemudian masuk lah ketua perguruan Garuda emas ke kamar tempat Darma thirta di rawat , Raden prakoso tersenyum lembut penuh wibawa menyapa pemuda itu.
"Ternyata kau telah sadar anak muda, jangan banyak bergerak dulu, lebih baik kau istirahatkan dulu tubuh mu, apabila sudah merasa lebih baik, kau boleh menceritakan kejadian yang kau alami kepadaku, itu pun jika kau berkenan menceritakannya."
Raden prakoso berkata pelan dan disetiap perkataannya terasa aura ketenangan yang membuat perasaan Darma thirta yang tadinya sedih dan marah, kini bisa merasa lebih tenang.
__ADS_1
"Ketua, bolehkah aku memanggilmu ketua,? Aku ingin belajar ilmu kanuragan di sini, aku ingin belajar ilmu beladiri disini ketua, aku tidak ada tempat untuk kembali dan aku ingin menjadi lebih kuat lagi, aku ingin..
" Darma thirta berkata pelan,tidak sanggup melanjutkan kata-katanya sambil mengusap air mata yang membasuhi pipinya.
"Tentu saja anak muda, kenapa tidak, tetapi untuk saat ini yang terpenting kau harus memulihkan tubuhmu, dan menyembuhkan luka-luka mu itu, mungkin butuh waktu kurang lebih seminggu untuk tabib oku menyembuhkan luka mu, setelah itu kau boleh berlatih dan menjadi murid di padepokan ini." jawab Raden prakoso sambil mengusap pelan kepala pemuda itu.
"Baik ketua" sahut Darma thirta sambil tersenyum kecil seraya menganggukan kepalanya.
Ditempat lain, tiga hari yang lalu.
Di kerajaan bandar.
Lasu angin prajurit muda Kerajaan Bandar membawa terbang Patih Renggo menuju istana.
__ADS_1
Sesampainya di istana kerajaan Bandar, Lasu angin segera terbang menuju ruang perawatan Kerajaan, untuk menyembuhkan dan memulihkan tenaga dalam Patih Renggo yang sudah terlihat lemah walaupun masih tersadar sepenuhnya.
sesampainya di ruang perawatan istana kerajaan..
"Hai tabib, cepat sembuhkan aku" bentak Patih Renggo kepada tabib istana Kerajaan Bandar.
"Baik tuan patih, segera tabib istana memberikan pertolongan, dan pengobatan kepada Patih Renggo yang kemudian terlihat berangsur-angsur membaik, "maaf tuan patih, untuk sementara sehari-dua hari ini anda tidak banyak beraktifitas dulu, dan harus beristirahat total, karena lukanya lumayan parah tuan" kata tabib kerajaan istana.
"Ya , aku mengerti, Lasu angin cepat kau melapor ke Raja Basah katakan padanya bahwa aku sudah kembali, dan besok aku segera melapor kepada nya tentang misi ku ini.
Untuk sementara aku mau beristirahat dahulu."
"Baik guru, yang mulia patih, murid undur diri" lasu angin menjawab seraya pergi meninggalkan ruangan perawatan, menuju ruang istana Kerajaan Bandar untuk melaporkan keadaan, serta kembalinya Patih Renggo dari misinya kepada Raja Basah.
__ADS_1