
Melihat kejadian di depannya ketua perampok mundur beberapa langkah ke belakang sambil gemetaran.
Dia heran dan bingung dengan apa yang barusan dia rasakan, dan melihat kedua orang anak buahnya jatuh ke tanah, sambil memberanikan diri ketua perampok tersebut menyerang Darma thirta, dengan bersamaan, diikuti oleh anak buahnya menyerang pemuda bermata biru tersebut.
Seketika Darma thirta mengeluarkan air dari tangan kirinya menghujam para perampok yang menyerang bersamaan, air dari tangannya mengalir deras menghujam tubuh ke semua perampok, membuat semua perampok terpental mundur beberapa langkah ke belakang sebagian perampok yang terpental ada yang mati tertusuk dahan kayu patah disekitar hutan bungo bangkai.
Sebagian lagi ada yang pingsan karna air yang keluar dari tangan Darma thirta masuk ke mulut mereka. Kini hanya tersisa 3 perampok yang berdiri sambil kakinya terus gemetaran melihat pemuda yang berdiri di depannya.
Sejurus kemudian Darma thirta kembali melepaskan air dari tangan beningnya, kali ini air yang di keluarkan lebih deras, dan tepat mengenai kepala ketiga perampok yang masih berdiri tersebut.
Membuat ketiganya terpental cukup jauh ke belakang hingga membuat ketiganya pingsan tak sadarkan diri.
Kedua orang yang menyaksikan pemandangan yang terjadi di depannya di buat kagum terhadap apa yang dilihatnya seakan tidak percaya.
__ADS_1
Keduanya mengucapkan terima kasih kepada pemuda tersebut. " terima kasih anak muda karna telah menolong kami, oh ya perkenalkan nama ku Paklek Bagio dan ini anak ku Lestari, kalo bukan karna bantuan mu, mungkin aku sudah mati sekarang, dan tidak tahu apa yang akan terjadi dengan nasib putriku."
Lestari hanya diam sambil sesekali mencuri-curi pandang sambil tersenyum malu, melihat pemuda bermata biru tersebut.
"Sama-sama paman memang tugas manusia agar saling membantu, itu yang diajarkan oleh ayah dan ibuku. Darma thirta menjawab sambil kembali membungkus tangan beningnya dengan kain berwarna biru muda.
Paklek Bagio hanya melihat dan memperhatikan tangan bening tersebut, tapi tidak mau bertanya lebih jauh.
"Owh iya anak muda, bolehkah paman bertanya, paman mau ke desa Mekarsari. Karna kedua pengawal paman sudah kabur entah kemana dan paman pun tidak tahu arahnya, bisakah nakmas mengantar paman."
Darma thirta menggaruk kepalanya sambil mengingat-ingat arah desa Mekar sari.
"Tenang nakmas paman akan membayar biayanya, asalkan nakmas mau mengantar paman ke desa Mekarsari," Paklek bagio kembali berkata.
__ADS_1
"Hmmm, desa Mekarsari ya, baik lah paman, aku tahu arahnya, baik akan aku antar kesana paman" darma thirta menjawab dan bersedia mengantar kedua orang tersebut pergi ke tempat tujuannya.
Selama perjalanan Lestari tidak henti-hentinya memandangi Darma thirta yang telah menyelamatkan hidupnya dan hidup ayahnya.
Diperhatikannya darma thirta dari ujung kaki sampai kepalanya. Sambil berkata dalam hati, "apakah pemuda ini seorang manusia, aku tidak pernah melihat manusia setampan dia. Benar benar luar biasa, khayalan demi hayalan menari-nari di pikiran Lestari gadis muda yang usianya sekitar 20 tahunan tersebut. Sambil sesekali iya tersenyum sendiri.
" Tiba-tiba Paklek Bagio memukul pundaknya, membuyarkan lamunan dan hayalan lestari.
"ada apa anakku senyum sendiri Hehe." sepertinya Paklek Bagio tau, apa yang dirasakan oleh anak gadis satu-satunya itu.
Selama satu jam lebih perjalanan mereka melintasi hutan bungo bangkai, hingga akhirnya mereka sampai di suatu gapura berlambang mawar mekar tanda bahwa perjalanan mereka hampir sampai ketempat tujuan.
Kereta kuda tersebut melintasi perkampungan penduduk desa Mekarsari hingga akhirnya sampailah mereka ketempat tujuan yang ingin dituju Paklek Bagio dan putrinya lestari.
__ADS_1
Terlihat sebuah gapura lagi berlambang Burung Garuda berwarna emas. Ya, perguruan Garuda emas adalah tujuan Paklek Bagio dan putrinya. Mereka adalah utusan yang datang dari Kadipaten selawut, salah satu kadipaten di Bawah kekuasan kerajaan Gading cempaka.
Dengan maksud dan tujuan, ingin menemui ketua perguruan garuda emas, yaitu Raden prakoso.