Legenda Nusantara Sakti

Legenda Nusantara Sakti
Tumbuh Dewasa


__ADS_3

Raden prakoso dan Biantoro sekarang masing-masing telah berumur 35 tahun dan 30 tahun, Mereka berdua telah berhasil menjadi tetua perguruan Garuda emas yang berpusat di tanah Suwarna bhumi, di daerah kekuasan kerajaan Gading cempaka, Tepatnya di desa Mekarsari.


Dengan murid-murid mereka mencapai 1000 orang lebih, menjadikan perguruan Garuda emas kembali sebagai salah satu perguruan ilmu aliran putih besar di bumi Nusantara.


Begitu pun dengan Darma thirta yang telah tumbuh menjadi pria bermata biru yang gagah dan tampan rupawan. Dengan tubuh tingginya di sertai tangan kiri yang pucat, dari pangkal bahu sampai ujung jarinya, tetapi lebih terlihat seperti bening, terlihat aliran darahnya mengalir, mengaliri urat-urat nadinya.


Darma thirta selalu menutupi tangan kirinya dengan kain, agar orang-orang tidak tahu, dengan keanehan yang terdapat pada dirinya. Dan supaya orang-orang tidak mengejek dirinya aneh.


Bukan karna merasa malu atau minder diejek aneh, tetapi karna Darma thirta takut marah, jika diejek atau dicibir orang, apabila sudah marah, dirinya sering kalap, karna dia bisa membuat orang yang mengejeknya menderita atau bahkan buruknya nyawa orang tersebut bisa melayang, Dengan tangan kirinya yang bisa mengeluarkan air, dan memenuhi mulut orang tersebut dengan air yang dikeluarkan dari tangan beningnya.


Darma thirta terus bertanya kepada kedua orang tuanya yang semakin menua, kenapa dirinya bisa memiliki keanehan seperti sekarang ini, mendengar pertanyaan anaknya ini, Suseno dan Hartini selalu menjelaskan bahwa itu bukanlah keanehan, tetapi sebuah karunia yang diberikan sang dewa kepadanya.

__ADS_1


Darma thirta sekarang bekerja sebagai pemburu gajah yang handal didesanya, tidak terhitung sudah berapa ratus ekor gajah yang mati ditangannya untuk di ambil gadingnya, karna memang desa jenggalu dikenal dengan gading berkualitas tingginya, yang bisa dijual mahal ke luar tanah suwarna bhumi khususnya didaerah tanah Java dwiva.


Suatu hari, ketika Darma thirta sedang berburu gajah, tanpa sengaja Darma thirta melihat kejahatan terjadi didepan matanya. Karna memang selama 15 tahun desa Jenggalu yang berada jauh di tengah hutan Bungo bangkai, Cukup jauh dari dunia luar dan dari jangkauan orang-orang Ki Projo gendeng atau orang-orang kerajaan Nusantara.


Entah mengapa kali ini kejahatan terjadi tepat di depan matanya, sekelompok perampok Mengepung sebuah kereta kuda saudagar yang melintas di depan pemuda bermata biru tersebut, kelompok perampok yang berjumlah sekitar 15 mengepung kereta kuda, seraya orang tersebut berkata" hentikan keretanya serahkan barang-barang kalian. Atau kalian akan kubinasakan. Bentak ketua perampok sambil memilin kumis tebalnya.


Melihat kejadian itu Darma thirta segera berlari bersembunyi diatas pohon, sambil memantau kejadian perampokan tersebut.


samar-samar sambil bergetar ketakutan" terdengar suara seorang pria paruh baya dari dalam kereta kuda, "ampun tuan pendekar, jangan sakiti kami" kata pria tersebut, diikuti dengan gadis remaja yang berkata demikian juga sambil membuka pintu kereta tetapi tidak berani turun.


"weleh-weleh ternyata ada harta yang lebih berharga, baik pak tua kami berubah pikiran sekarang." kata ketua perampok. "terimakasih tuan pendekar" jawab pria paruh baya itu."

__ADS_1


"ok sama-sama, eittt dah Weduss, malah berterima kasih" jawab ketua perampok itu, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bodoh,, maksud ku, kami berubah pikiran, sekarang serahkan harta kalian dan tinggalkan gadis cantik itu, sudah lama kami tidak bersenang-senang Huahahaha." bentak ketua perampok seraya tertawa jahat diikuti oleh anak buahnya yang ikutan tertawa.


"Ampuun tuan pendekar jangaan, dia anakku satu-satunya, kalau tuan pendekar ingin uang, ini ada, ambil semuanya, tolong lepaskan aku dan anakku tuan pendekar." kata pria tersebut memelas.


"Bodo amat cepat serang mereka, bunuh pria tua itu ambil kereta dan gadisnya, lumayan buat bersenang senang selama seminggu" hahaha perintah ketua perampok kepada anak buahnya.


"Baik ketua" sahut para perampok bersemangat, sambil bergerak menyerang kearah kereta kuda saudagar tersebut.Sebelum para perampok tersebut menuntaskan keinginannya merampok.


Tiba-tiba hujan deras mengguyur mereka semua, membuat para perampok terkejut karna merasa aneh mengapa mendadak hujan ditengah hari yang cerah begini. Belum sempat perampok tersebut keheranan, sekarang mereka dikejutkan dengan kehadiran anak muda bermata biru tepat di depan mereka dengan kalung gading gajah yang di pakainya, serta kain yang menutupi tangan kirinya, kini terbuka sedikit tampak tangan bening dari sikut sampai jari-jarinya.di lihatnya dikereta kuda, terlihat ayah dan anak gadisnya yang saling berpelukan karna ketakutan.

__ADS_1


"ooii orang-orang bejat, pilihlah lawan yang sepadan dengan mu" Darma thirta berkata dengan tatapan dingin , serta aura dingin mematikan yang keluar sendiri tidak terkontrol dari dalam tubuhnya membuat setengah dari perampok ,yang bertenaga dalam pendekar tingkat terendah pingsan, dan ada yang mati karna darah-darahnya beku, menghentikan aliran darah mengalir ke jantung mereka, efek dari aura dingin mematikan Darma thirta, yang keluar tanpa di sadarinya.


"walahh, kenapa dua orang di sana malah tertidur" pikir Darma thirta yang tidak sadar bahwa perampok tersebut pingsan dan mati, bukannya sedang tertidur.


__ADS_2