
Kabar tentang Joko lengo salah satu murid yang dikenal pintar dan pendekar yang mempunyai potensi diperguruan Garuda emas segera menjalar menjadi buah bibir dikalangan orang-orang padepokan.
Terutama Joko lengo sendiri dikalahkan oleh anak baru ditingkatan kelas yang paling rendah, bahkan pemuda itu belum sebulan berlatih dipadepokan Garuda emas.
Hal ini membuat orang-orang perguruan garuda emas sangat penasaran dengan sosok Darma thirta, baik dikalangan murid, ataupun dikalangan tetua kelas.
Tentu saja beberapa orang murid senior dan para guru pembimbing kelas banyak yang menganggap berita ini hanya bualan yang berlebihan.
"Haha wajar saja kalo menurutku, bocah lengo itu memang orang yang bermulut besar, sama seperti orang tuanya hahaa.
tapi apa aku tidak salah dengar tentang pemuda bermata biru itu, unsur alam, air? bisa menguasi pengendalian unsur alam diusia semuda itu, pasti dia bukan bocah sembarangan." Salah satu tetua kelas, guru pembimbing kelas 2 ruang 9 guru Saptohadi mengernyitkan dahinya sambil melihat kearah tetua lainnya.
"Sialan kau Sapto, disaat seperti ini apa kau mau bertarung dengan ku hahh?" tetua kelas lainnya merasa diejek dan menjawab balik.
Tetua kelas 2 ruang 10 ini tidak lain adalah ayah dari Joko lengo, guru Apdi lolo.
"Sudah-sudah,hentikan kalian berdua"
__ADS_1
salah satu ketua menengahi keributan diantara mereka berdua yaitu tetua kelas 1 ruang 1 guru Karmadi.
"haha maaf-maaf kalau perkataanku membuatmu tersinggung.
Dari yang kudengar kini anak itu berada langsung dibawah bimbingan ketua Raden, itu cerita yang kudengar dari anak-anak yang melihat kejadian. ujar guru Saptohadi.
"Sialan anak itu, nanti aku akan menanyakan langsung pada Lengo, apakah berita itu benar, masa anak ku bisa kalah, tidak mungkin pasti ada yang membantu anak itu" terlihat guru Apdi lolo yang masih merasa geram, karna berita anaknya yang kalah bertarung dari Darma thirta.
"Alah sudah-sudah, mari kita lanjutkan minumnya, biar emosi mu itu turun Apdi haha, nyai tambah lagi minumannya, kita minum sampai pagi."
Ditempat lain..
Darma thirta sedang berlatih memusatkan energi tenaga dalamnya dengan bertapa dialiran sungai jenggalu, pemuda itu berendam di pinggiran aliran sungai, memusatkan setiap pikirannya. merasakan setiap dinginnya deru arus sungai menerpa pori-pori kulitnya.
Masih teringat jelas dipikirannya Raden prakoso menyuruh dirinya bertapa yang bertujuan untuk mengatur dan mengendalikan tenaga dalam yang ia miliki dengan baik, tetapi dirinya tidak sepenuhnya paham dengan hal itu.
"Rasakan aliran air, rasakan disetiap terpaan arus air yang menyentuh kulitmu, kau harus konsentrasi, bertapa bukanlah hal yang mudah, apalagi diarus sungai seperti ini. semakin lama kau memusatkan pikiranmu ke satu titik dialam bawah sadar mu, maka akan semakin baik.
__ADS_1
semakin kau bisa mengendalikan dirimu, maka hasilnya akan semakin baik, Aku akan pergi untuk sementara waktu dan jangan berhenti melakukan ini sebelum kau dapat mengendalikan nya dengan benar."
"ketua maksudnya, mengendalikanya dengan benar?"
"Duduk dan Berendam saja disana, konsentrasi lakukan yang ku perintahkan nanti kau akan tahu sendiri maksudnya."
"Aku ada urusan diperguruan, dalam waktu dekat akan direncanakan pertemuan aliran-aliran putih untuk membahas tentang masa depan bumi nusantara ini, bila saatnya tiba, aku ingin kau bisa menjadi lebih kuat dan bisa membantu membebaskan negri ini dari kegelapan."
"Baik ketua"
sudah 2 hari sejak Darma thirta melakukan tapa brata bertapa dengan cara berendam dialiran arus sungai jenggalu, kulitnya yang putih semakin pucat dan mengkerut akibat dinginnya air yang merendam sebagian tubuhnya yang hanya menyisakan bagian bahu serta kepala, sisanya terendam di sungai.
sampai saat ini dirinya belum menemukan apa yang dimaksud oleh ketua perguruan garuda emas itu.
Perut yang lapar dan dinginnya air sungai membuat dirinya susah untuk berkonsentrasi.
Diperguruan Garuda emas sendiri para tetua sedang sibuk mengirim undangan kepada perguruan aliran putih lainnya untuk mengatur jadwal pertemuan para ketua mereka, tapi Belum ketemu titik temu diantara para ketua aliran putih mengenai waktu yang pas untuk diadakan pertemuan selanjutnya, karna perguruan aliran-aliran putih dibelahan bumi Nusantara lainnya masih disibukan dengan kemunculan perampok dan para penjahat dari golongan aliran hitam yang kian merajalela.
__ADS_1