
Keesokan harinya..
Dengan perban yang masih membalut perut serta tubuhnya yang masih terluka, Patih Renggo menghadap kepada Raja Basah untuk melaporkan prihal misinya yang gagal membunuh Darma thirta pemuda yang dicari-cari selama ini oleh Raja Kusumo negoro.
"Maaf yang mulia raja, hamba gagal dan semua prajurit yang hamba bawa, semuanya mati yang mulia" Patih Renggo membuka pembicaraan seraya membungkuk di hadapan Raja Basah.
Raja Basah hanya mengangguk, mengelus janggut tipis yang menghiasi dagunya. "Bagaimana, anak itu patih, kesaktian seperti apa yang dia miliki sehingga ke20 prajurit terbaik kerajaan kita yang kau bawa bisa tewas, dan membuat dirimu bisa seperti ini." jawab Raja Basah masih di liputi rasa heran.
"Anak itu, seorang pemburu gading yang mulia, dia tampaknya belum mempunyai dasar ilmu beladiri seorang pendekar, dan belum mempelajari dan mengerti tentang ilmu tenaga dalam, tetapi anak itu mempunyai sesuatu karunia di dalam tubuhnya, sesuatu yang mengerikan bersemayam di dalam tubuh anak tersebut, sesuatu yang bisa dan hampir saja membunuhku, jikalau aku tidak melarikan diri untuk sementara waktu, aku pasti sudah terbunuh olehnya yang mulia" kata Patih Renggo meyakinkan.
"Apa itu patih katakan pada ku, aku harus cepat melaporkan ini kepada Raja Kusumo negoro." Raja Basah semakin penasaran.
__ADS_1
"kekuatan air yang dasyat yang mulia, roh iblis laut Asura" jawab patih Renggo, di sertai anggukan Raja Basah.
Asura adalah makhluk sejenis siluman yang mempunyai kesaktian tiada tara, yang sudah pada tingkatan hampir mencapai titik abadi atau dewa, tetapi berhasil dikalahkan oleh dewa langit , akan tetapi Asura lebih dikenal sebagai iblis laut oleh para leluhur Nusantara, zaman dahulu Asura yang mempunyai sifat sombong akan kekuatannya lebih senang memperkenalkan dirinya sebagai Dewa.
"Sekarang kemana kemungkinan anak itu, patih?" kembali Raja Basah bertanya. Disertai gelengan kepala Patih Renggo yang tidak mengetahui dengan pasti keberadaan pemuda bermata biru tersebut.
"Maaf yang mulia hamba kurang tahu, terakhir yang hamba lihat anak tersebut membantai para perampok yang memberi tahukan informasi kepada kita beberapa waktu lalu, di sekitaran hutan bungo bangkai, kemungkinan yang paling dekat, mungkin, anak itu sekarang berada di padepokan perguruan Garuda emas yang mulia" jawab Patih Renggo sedikit menerka, sambil memegangi dagunya.
Dan setelah itu..
Sesaat kemudian Senopati Panduarta, senopati dari kerajaan Bandar, senopati yang berada di bawah perintah patih Renggo dan wakil senopati, sekaligus murid dari Patih Renggo, pendekar muda Lasu angin yang mendapat perintah dari Patih mereka, menjalankan titah dari sang Raja, segera terbang melesat menuju kerajaan Nusantara, untuk melaporkan langsung berita tentang anak bermata biru kepada junjungan mereka Raja Nusantara, Raja Kusumo negoro, atau Ki Projo gendeng.
__ADS_1
Mereka berdua terbang meninggakan wilayah Kerajaan Bandar menuju kerajaan Nusantara dengan ditemani 50 orang prajurit terbaik kerajaan Bandar melewati laut barat dan gunung krakatau kembar yang menjadi akses jalan menuju dataran tanah java dwiva. Perjalanan mereka memakan waktu 3 hari 3 malam untuk sampai tanah java dwiva, ditambah sehari semalam untuk sampai ke gerbang besar kerajaan Nusantara.
****
Di tempat lain, tempat di mana semuanya berwarna merah hitam, dengan tanduk-tandung binatang, serta lukisan-lukisan katak menghiasi dinding ruangan.
Ruangan yang besar dan luas, di dalam ruangan yang terdapat meja dan kursi yang berjejer yang semua di duduki oleh pendekar -pendekar aliran hitam, para pendekar yang tidak bisa dianggap sembarangan, pendekar berlevel tertinggi dari semua perguruan aliran hitam yang kini telah bekerja di bawah kepemimpinan kerajaan Nusantara yang baru, yahh,, ruangan tersebut adalah aula istana kerajaan Nusantara.
Terlihat Raja Kusumo negoro duduk diatas singgasanya paling depan. Dengan muka yang selalu menunjukan sisi bengis dan kejam, membuat keseluruh pendekar tersebut menundukan wajah mereka.
"Sialan, dimana kau anak sial, sudah 15 tahun ini, aku sama sekali tidak menemukan petunjuk tentang anak itu," Ki Projo gendeng berteriak sendiri seperti orang gila.
__ADS_1