
Matanya membidik sasaran dengan tepat, 'klik' suara pelatuk pertanda peluru telah meluncur.
Kecepatan yang tak terlihat, satu peluru menembus papan sasaran tanpa celah.
Papan sasaran yang tadinya kokoh menjadi hancur berkeping.
Tepukan riuh mengiringi keberhasilan Meilan, banyak kekaguman menatap Meilan yang dengan mudah menggunakan senjata aneh dihadapan mereka itu.
Gadis cantik, secantik dewi namun sekuat jenderal perang yang telah bertarung puluhan tahun, kuat dan cantik kesatuan yang membuat siapapun akan gentar berhadapan dengan gadis didepan mereka.
**************
"Wah, nona Mei cepat menguasai ya padahal senjata disini terasa sangat asing bagi kami,"ucap Luna.
"Ah tentu saja, senjata ini dari zaman modern dan semua senjata yang adapun juga bisa ku gunakan," ucap Meilan santai.
"Zaman modern?" tanya Arthur bingung.
"Itu dizamanku dulu, kalian mungkin tak ada yang tau. Aku tidak keberatan kok untuk menjelaskan semua jenis dan cara menggunakan senjata itu," terang Meilan.
"Lalu kami tidak sungkan ya, nona Mei senjata saya ini jenis apa?" Tu Leng Yi.
"Senjata anda itu merupakan jenis katana namun bisa dialiri energi chi untuk memperkuat kegunaannya, memakainya sama seperti anda memakai pedang disini".
"Lalu, senjata nona Lusie ini cakram. Senjata tipe jarak jauh. Anda bisa menggunakan dengan melemparnya ke musuh, senjata anda akan kembali dengan sendirinya nanti".
"Senjata Nona Luna adalah tombak, namun tombok anda bisa diperkecil sekecil jarum akupuntur. Senjata tipe jauh dan dekat."
"Senjata Nona Lumina adalah busur, busur yang bisa menembak ratusan bahkan ribuan anak panah!"
"Lalu senjata ini, itu, ini...." Meilan terus menjelaskan satu persatu dengan tenang sambil sesekali memberikan contoh.
Kali ini mereka akan memasak untuk makan malam atau pagi, didimensi kematian tidak ada cahaya matahari sedikitpun kecuali cahaya terang yang entah darimana asalnya.
__ADS_1
Hasil buruan yang luar biasa, mereka mendapatkan lima ekor, ayam sepuluh ekor, ikan satu wadah penuh, beberapa sayur dan bumbu yang didapatkan. Sisanya dari dapur dimensi Meilan tentunya, dan yang memasakpun juga Meilan bersaudari walau dibantu yang lainnya.
Makanan akan dibagi untuk beberapa hari kedepan, dan tentunya kembali Meilan yang akan mengatur seluruh makanan maupun minuman untuk mereka semua.
"Masakan nona Meilan sungguh sangat enak," ucap mereka.
Edward terdiam menatap Meilan, seorang gadis yang begitu cantik sekaligus kuat terlihat makan dengan santai seolah tak ada siapapun disekitarnya.
Meilan merasakan satu tatapan yang sedikit mengganggunya, matanya mencari siapa yanh berani menatapnya.
'Deg'
Sepasang mata hitam kelam menatapnya, pria bernama Edward entah kenapa terlihat sangat tampan di mata Meilan.
Keduanya saling berpandangan intens sebelum Meilan sadar dan mengalihkan perhatiannya kembali pada makanan, Edward tersenyum menatap gadis didepannya yang terlihat salah tingkah.
Jangan ragukan pesona seorang Vampire yang tentu saja setara dengan pesona rubah ekor sembilan bahkan lebih mempesona.
"Enak kan?" tanya Edward membuka suaranya tanpa memperdulikan keadaan sekitar yang menatap mereka terang - terangan.
"Tentu, karna ini masakan buatanku!" ucap Meilan kesal menutupi rona pipinya.
"Haha kau benar, masakanmu sungguh enak. Mereka yang menjadi suamimu akan sangat beruntung mendapatkan gadis seperti dirimu," ucap Edward.
Meilan akan menjawab ucapan Edward namun terpotong dengan suara Regan yang tiba - tiba duduk tepat disamping kiri Meilan.
Jadi, posisi saat ini Meilan sedang berada ditengah kedua pria yang sangat tampan dan menawan.
"Hey tentu saja siapapun pria yang menjadi pasangan nona Meilan sangat beruntung, begitupun jika aku," ucap Regan tanpa malu.
__ADS_1
Pipi Meilan semakin memerah mendengar ucapan pria tampan dihadapannya, Zilong bersaudara justru tertawa konyol. Adik mungil mereka sekarang beranjak dewasa terlebih adiknya sangat tidak tau mengenai urusan percintaan namun apapun pilihan adiknya nanti, mereka akan selalu mendukung.
"Kalian ini kenapa huh? siapa juga mau menikah aku masih kecil tau!" ketus Meilan kesal.
Disaat keduanya ingin berbicara se-ekor beast elang tingkat tinggi menghampiri mereka dengan membawa pesan disana.
"Tuanku berkata Nona Meilan adalah miliknya sampai kapanpun akan menjadi miliknya, untuk kalian berdua jangan pernah mendekati nona Meilan itu juga berlaku untuk semua pria yang ada . Dan untuk Nona Meilan anda harus ingat kejadian dihutan Bunga Persik, isi pesan misterius itu!" .
Sebuah suara didalam pikiran Meilan bergema berulang kali seolah mengingatkan siapa Meilan saat ini.
"Cincinnya sudah dipakaikan?pasti sudah, karna suratku pun sudah kau bakar. Saat mendengar pesanku mungkin kau akan bingung dan bertanya - tanya siapa aku? Aku pemilik diri dan hidupmu, begitupun dirimu yang pemilik dari diriku. Tunggu hingga waktunya nanti kita akan bertemu, jaga baik - baik pedang yang ku berikan. Jangan digadaikan! Apalagi di rusak, jangan melirik pria lain dan jaga dirimu! Aku Mencintaimu Mei'er, cincin itu tidak akan bisa dilepas oleh siapapun termasuk dirimu kecuali nanti jika kita sudah menyatu dibawah bumi dan langit, gunakan cincin itu dengan benar!" ucap suara asing yang sangat lembut namun juga tegas.
(Ada di part 4, pesan misterius)
Meilan menatap cincin indah yang entah sudah berapa lama menemani dirinya, yang pasti cincin itu selalu berada dijari manisnya semenjak Meilan sedikit mengetahui jati dirinya.
Beast Elang tingkat tinggi pergi begitu saja disaat keadaan diam dan hening, Edward ataupun Regan tidak akan pernah menyerah meskipun Burung jelek itu memperingatkan mereka.
"Jadi sebenarnya siapa pria itu, kenapa mengakuimu sebagai pemilik dari dirimu?" tanya Edward menggeram marah.
"Aku tidak tau, sebenarnya waktu pertama kali aku mengenal para saudariku disaat itu ada pesan misterius yang mengatakan jika kami telah terikat dalam takdir yang tidak akan bisa dipisahkan, entah hingga sekarang pria itu tak pernah muncul," jawab Meilan menghela nafas.
"Tak apa, meski dia mengatakan dirimu miliknya namun belum terlembat bagi kami untuk mendekatimu hehe," ucap Regan mencairkan suasana.
"Lagipula jika ingin mendapatkanmu seharusnya pria itu juga bersaing dengan sehat iyakan?" ucap Regan lagi.
"Iya, walaupun dia kuat akupun juga kuat siapa yang tau takdir seperti apa kedepannya!" ucap Edward.
"Sudah sudah, lebih baik pikirkan bagaimana kita menyelesaikan latihan di dimensi kematian ini, sejujurnya aku mulai bosan berada disini terlebih para iblis belum juga muncul. Benar - benar merepotkan memiliki takdir seperti ini," ucap Lyan kesal.
"Kurasa lebih baik untuk melanjutkan makan kita yang tertunda karna drama yang terjadi ini hehe," ucap Li Mei mengedipkan sebelah matanya kearah Meilan yang menatapnya dengan tajam.
Takdir oh takdir, benar - benar menyusahkan dan tentu tak bisa ditebak sekuat apapun dirimu!
__ADS_1
Mari tinggalkan jejak, terimakasih🖤