Ling Junjie

Ling Junjie
Chapter 33 Pedang Kilat Dari Utara


__ADS_3

Di dalam kamar yang di tempati Ling Junjie, Ling Junjie terbangun dari tidur lelapnya karena suara ketukan di pintu.


Ling Junjie turun dari ranjang dan langsung membuka pintu.


"Tuan muda, Kaisar Lin mengundang anda untuk makan malam bersama!" Ucap seorang wanita yang memakai pakaian dayang istana.


"Baiklah, tunggu sebentar aku akan mencuci muka terlebih dahulu!" Ling Junjie pergi ke kamar mandi, kemudian mencuci muka dan menggganti pakaiannya.


Setelah selesai berpakaian, Ling Junjie keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian berwarna putih yang sangat mewah.


Sementara dayang yang menunggu Ling Junjie, dia sangat terpesona dengan penampilan Ling Junjie.


Ling Junjie mengingatkan dayang itu tentang dongeng karangan seorang penulis yang menjuluki nama penanya Yadi Alvaro, di dalam dongen itu menceritakan sorang pemuda tampan yang tiada duanya.


Setelah melihat penampilan Ling Junjie, si dayang mempercayai cerita dalam dongeng itu memang benar adanya.


"Silahkan tunjukan jalannya!" Ling Junjie berbicara hingga memecahkan lamunan dayang itu.


"Mari, tuan muda!" Dayang itu berjalan duluan, menuntun Ling Junjie untuk pergi ke tempat makan Kaisar Lin.


Sesampainya di sebuah ruangan makan yang begitu luas, Ling Junjie melihat seorang pria paruh baya sedang duduk di depan meja makan dengan seorang gadis cantik yang dia kenal.


"Salam yang mulia Kaisar!" Ling Junjie memberi salam penghormatan kepada pria paruh baya yang merupakan Kaisar Lin itu.


"Duduklah!" Kaisar Lin menyuruh Ling Junjie duduk di bangku yang ada di samping putrinya.


"Makanlah dulu, nanti kita akan berbicara tentang bisnis yang kau ajukan itu!" Lanjutnya.


Ling Junjie menuruti perkataan Kaisar Lin, dia langsung makan dengan khidmat.


Saat Ling Junjie makan, Kaisar Lin memperhatikan Ling Junjie makan dengan cara yang sangat elegan.


Setiap suapan Ling Junjie, seperti membawa ke anggunan tersendiri!

__ADS_1


Setelah selesai makan, Kaisar Lin mengajak Ling Junjie untuk mengikutinya. "Mari kita berbicara di tempat yang lebih nyaman!"


"Ayah, apakah aku boleh ikut?" Lin Hua bertanya kepada ayahnya.


"Tentu!" Kaisar Lin menjawab singkat.


Sementara Ling Junjie dia sangat tidak tahan untuk menjitak kepala Lin Hua, Ling Junjie sangat kesal kepada Lin Hua, karena menyembunyikan identitasnya, bahkan berbohong tentang ayahnya yang galak.


Daripada di sebut galak, Kaisar Lin lebih baik di sebut ramah tamah dan luhur budi!


Sangat jelas Kaisar Lin merupakan sosok yang ramah, dan menghargai orang yang derajatnya lebih rendah dari dirinya.


Kaisar Lin membawa Ling Junjie ke sebuah taman yang ada di belakang istana, di sana ada paviliun kecil tempat favorit Kaisar Lin untuk bersantai atau sekedar minum teh.


Setelah mereka duduk di atas bangku yang tersedia di sana, Kaisar Lin memulai pembicaraan. "Jadi, bisnis apa yang akan kau dirikan itu, anak muda?"


Tanpa basa-basi Ling Junjie langsung mengeluarkan berbagai senjata yang telah dia ciptakan. "Aku akan menjual berbagai senjata seperti ini, dan juga kedepannya akan menjual pil dan kebutuhan kultivator lainnya."


Mata Kaisar Lin langsung terbelalak ketika melihat senjata artefak yang begitu bayak.


Artefak bintang 1 sampai 5


Artefak Bumi


Artefak Langit


Artefak Semesta.


Dan yang sedang di perlihatkan Ling Junjie kali ini adalah Artefak bintang 5.


"Anak muda, apakah kau memiliki lebih banyak lagi?" Kaisar Lin bertanya untuk memastikan saja.


"Aku masih memiliki banyak, dan ada yang telah mencapai tingkat langit!" Pernyataan Ling Junjie itu hampir membuat Kaisar Lin muntah darah.

__ADS_1


Di Kekasaran Lin, Senjata Artefak sangat langka dan jarang ada orang yang memilikinya, bahkan Kasar Lin sendiri hanya memiliki senjata artefak bintang 3.


"Anak muda, aku akan mendukungmu, bahkan aku akan memberikan lahan untuk dirimu mandirikan bisnis di kota kekaisaran ini!" Kaisar Lin berbicara dengan mengeluarkan peta dari cincin dimensi miliknya.


"Ini lokasinya!" Kaisar Lin menunjuk gamar yang ada di dalam peta.


"Bukankah ini terlalu besar?" Ling Junjie bertanya seperti itu karena lokasi yang akan di berikan Kaisar Lin hampir menyamai kota kekaisaran.


"Jangankan tempat itu, jika kau menginginkan Kekaisaran ini pun, Kakaisaran ini akan aku berikan kepadamu. Tapi dengan satu sarat kau harus melakukan sumpah langit untuk selalu menjaga putriku." Secara tidak langsung, Kaisar Lin meminta Ling Junjie untuk menjadi menantunya.


Mendengar ucapan Kaisar Lin, Ling Junjie langsung terkejut setangah mati. Baru kali ini dia menemukan seorang penguasa yang menyerahkan kekuasaannya demi menitipkan putrinya, benar-benar sosok ayah yang sangat luar biasa.


"Yang mulai Kaisar, aku akan menjaga putrimu, dan aku tidak menginginkan Kekaisaran ini, tempat yang Kaisar berikan saja sudah cukup bagiku!" Ling Junjie menerima keinginan Kaisar Lin, dan menolak Kekaisaran yang Kaisar Lin tawarkan.


"Terima kasih, anak muda. Sekarang panggil aku sebagai mana putriku memanggil diriku, karena sekarang kau telah ku anggap sebagai menantuku!" Kaisar Lin berbicara dengan senyum cerah mengambang di wajahnya.


"Baiklah, ayah!" Ling Junjie kembali menuruti keinginan Kaisar Lin.


"Ayah kelihatannya kau seperti Kultivator pedang?" Kali ini Ling Junjie yang bertanya kepada Kaisar Lin.


"Kau benar! di masa mudaku dulu, aku dijuluki Pedang Kilat Dari Utara." Kaisar Lin memperkenalkan julukannya.


"Kalau begitu, ini ada hadiah kecil sebagian ungkapan terima kasihku, karena ayah telah memberikan tempat untuk memulai bisnis!" Ling Junjie mengeluarkan pedang warna emas, kemudian meletakkannya di atas meja.


Swuusst.


Setelah Ling Junjie meletakkan pedang itu, aura luar biasa kuat keluar dari pedang itu.


"Itu artefak tingkat langit, dia memiliki kesadaran sendiri. Jadi cepat ayah teteskan darah ayah untuk melakukan kontrak jiwa dengan kesadaran yang ada di dalam pedang itu." Ucap Ling Junjie.


Kaisar Lin langsung melakukan apa yang Ling Junjie ucapkan.


Setelah Kaisar Lin selesai melakukan kotrak jiwa, pedang itu berubah menjadi gumpalan asap dan langsung masuk ke dalam tubuh Kaisar Lin.

__ADS_1


"Terima kasih menantuku, pedang ini sangat berharga bagiku!" Kaisar Lin berterima kasih dan hampir meneteskan air mata, dia sangat bahagia memiliki pedang yang luar biasa.


__ADS_2