
*Wusshh....*
Liu Annchi dan Ling Junjie muncul kembali di dalam hutan yang lumayan lebat.
"Jun'er, ini adalah tempat latihanmu!" Liu Annchi berbicara sembari berjalan ke bawah pohon.
"Baik Maha Guru!" Sahut Ling Junjie dengan berjalan mengikutinya
"Panggil saja Kakak, aku lebih senang dipanggil seperti itu!" Ujar Liu Annchi.
"Baik Kakak Liu!" Balas Ling Junjie dengan patuh, akan tetapi dia merasa heran dengan wanita dewasa yang berjalan di hadapannya itu?
Sudah jelas-jelas bahwa usia mereka memiliki jenjang yang sangat jauh, tapi Liu Annchi malah ingin di panggil Kakak. "Ada-ada saja!" Pikir Ling Junjie.
"Apa kau sedang mengutuk keinginanku?" Liu Annchi bertanya dengan sorot mata tajam, memandang Ling Junjie.
"Tidak, Kakak!" Balas Ling Junjie berbohong.
"Cih, kau kira aku tidak bisa membaca pikiranmu?" Liu Annchi bertanya dengan nada membentak.
*Bruk...*
Ling Junjie menjatuhkan tubuhnya dan langsung bersujud di hadapan Liu Annchi.
"Maafkan aku, Kakak!" Ling Junjie meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
"Aku memaafkanmu, tapi kau harus menerima hukuman atas kelancanganmu itu!" Tegas Liu Annchi.
"Baik, aku akan menerima hukuman apapun!" Ling Junjie berkata dengan lapang dada, dia tidak akan mundur atau meninggalkan masalah yang telah terjadi.
__ADS_1
*Swoosh....*
Liu Annchi mengelurkan ranjang dari cincin dimensi miliknya, kemudian dia langsung berbaring telungkup di atas ranjang itu!
"Hukumannya adalah memijat punggungku!" Tuturnya.
Sementara Ling Junjie, dia merasa sedikit risih jika harus melakukan hal yang sedikit extreme itu.
"Mengapa kau masih berdiri di sana? Naiklah, dan cepat pijat punggungku!" Tegas Liu Annchi seraya melihat Ling Junjie dengan tatapan sendu.
Setelah melihat tatapan mata itu, akhirnya Ling Junjie memberanikan diri naik ke atas ranjang dan menyentuh punggung Liu Annchi.
"Aaaaah...." Liu Annchi begitu menikmati setiap tekanan dari tangan Ling Junjie.
"Jun'er, tolong sekalian pijat pinggangnya!" Pinta Liu Annchi.
Sementara Ling Junjie, dia hanya menurutinya tanpa bisa membatah.
Setelah memijat pinggul, Ling Junjie menjadi tidak sabar untuk menerima perintah selanjutnya.
Awalnya Ling Junjie memang sedikit risih dan takut-takut, tapi lama-kelamaan dia malah semakin penasaran!
"Sekarang lebih bawah lagi!" Liu Annchi meminta Ling Junjie untuk memijat bagian pahanya.
Ling Junjie memijat seluruh bagian tubuh Liu Annchi, hingga menghabiskan waktu seharian penuh.
"Latihannya besok saja, ayo kita ke tempat tinggalku!" Liu Annchi mengajak Ling Junjie untuk pergi ke tempat tinggalnya.
Saat di perjalanan, Ling Junjie bertanya kepada Liu Annchi. "Kakak, apakah ini dimensi milikmu?"
__ADS_1
"Benar. Dan ingat, satu tahun di sini, sama dengan satu hari di dunia luar!" Jawab Liu Annchi.
"Hebat, kalau begitu aku bisa berlatih lebih leluasa di sini!" Ucap Ling Junjie dengan semangat.
"Benar, makanya aku membawamu ke sini!" Balas Liu Annchi.
Setelah sampai di rumah mewah miliknya, Liu Annchi mengajak Ling Junjie masuk ke sebuah kamar.
"Kau tidur denganku saja!" Ucapnya.
"Apakah tidak ada kamar lain, Kakak?" Ling Junjie bertanya seperti itu karena takut Liu Annchi berbuat sesuatu yang tidak-tidak.
"Tenanglah, kita hanya tidur bersama. Lagi pula di sini tidak ada kamar lain!" Jawabnya
"Baiklah," sahut Ling Junjie singkat.
Sesampainya di dalam kamar, Liu Annchi langsung menerkam tubuh Ling Junjie dan membaringkannya di atas ranjang.
"Kakak, kau berbohong?" Ling Junjie bertanya di bawah tubuh Liu Annchi.
"Tidak, aku tidak berbohong!" Elak Liu Annchi.
"Tapi mengapa kakak menindih tubuhku?" Ling Junjie bertanya dengan menghirup aroma wangi dari tubuh Liu Annchi.
"Aku hanya iseng-iseng saja!" Liu Annchi menjawab santai.
"Kakak, tubuhmu sangat wangi!" Seru Ling Junjie dengan menenggelamkan wajahnya di antara kedua gunung besar milik Liu Annchi.
"Apa kau menyukainya?" Liu Annchi bertanya dengan menekan tubuhnya.
__ADS_1
Ling Junjie hanya mengacungkan jempol saja, karena wajahnya sudah tenggelam lebih dalam di antara dua gunung itu.