
Keesokan harinya, Ling Junjie terbangun lebih awal karena merasa tubuhnya seperti dihimpit bumi, dan di bakar api!
Saat membuka mata, Ling Junjie terkejut setengah mati, sebab yang dia lihat adalah tengkuk leher gurunya.
Ling Junjie melihat gurunya masih tertidur sembari mendekap tubuhnya!
"Pantas saja, tubuhku seperti ditindih gunung besar!" Ling Junjie berbicara sembari mendorong gunung besar yang sangat mengganggunya.
Saat tangan Ling Junjie bersentuhan dengan ujung gunung itu, Ling Junjie merasa tangannya seperti menyentuh balon air yang hangat!
"Ternyata ini juga yang membuat tubuhku seperti di bakar api!" Ling Junjie baru menyadari mengapa dia merasa kepanasan selama tidurnya.
"Akan tetapi, benda ini cukup lembut juga!" Dengan polosnya Ling Junjie memijit-mijit ujung gunung itu.
"Euh..., " Mulut Tetua Mayleen mengeluarkan suara yang terdengar lirih!
Ling Junjie langsung melepaskan tangannya dari sana, karena takut gurunya terbangun dan akan memarahinya.
Namun setelah menunggu sekitar beberapa tarikan napas lamanya, Ling Junjie tidak melihat reaksi akan terbangun dari gurunya!
Karena masih penasar dengan gunung besar, kenyal, serta hangat itu, akhirnya Ling Junjie melakukan kembali kegiatan sebelumnya.
__ADS_1
"Euh...," Suara Lirih dari mulut Tetua Mayleen terdengar kembali di telinga Ling Junjie, dan Ling Junjie langsung melepaskan tangannya dari tempat yang tidak seharusnya di sentuh itu.
Tapi karena Tetua Mayleen tidak kunjung bangun juga, akhirnya Ling Junjie melakukan kembali kegiatan itu hingga berulang-ulang kali!
Setelah hari menjelang pagi, Ling Junjie pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah membersihkan tubuhnya dan berpakaian rapi, Ling Junjie keluar dari kamar mandi dengan tersenyum cerah.
Senyum Ling Junjie bisa di ibaratkan, secerah mentari yang menyinari bumi!
"Kakak, bangun!" Ling Junjie menggoyang-goyangkan tubuh Chu Mei yang masih terlelap di atas ranjang.
Setelah Chu Mei terbangun dari tidur lelapnya, Ling Junjie bergegas untuk membangunkan gurunya.
"Eh, kakak. Apakah kau melihat keberadaan guruku?" Ling Junjie bertanya kepada Chu Mei yang baru bangun tidur.
Dengan menguap, serta menggisik mata. Chu Mei menggelangkan kepala.
"Aneh!" Ling Junjie bergumam pelan sembari mengelus dagu.
Akan tetapi, saat Ling Junjie tengah bingung memikirkan keberadaan gurunya, tiba-tiba suara gemericik air terdengar dari kamar mandi!
__ADS_1
"Sepertinya guru telah bangun tanpa sepengetahuanku!" Pikir Ling Junjie.
Setelah mereka bertiga selesai mandi dan berganti pakaian, mereka keluar dari kamar penginapan itu dan bertemu dengan Jiang Shen di halaman penginapan.
"Kawan, kau tidur di mana?" Jiang Shen langsung bertanya kepada Ling Junjie.
"Aku tidur di kamar lain!" Jawabnya cepat.
"Ooh, kirain kau tidur bertiga?" Jiang Shen berbisik di dekat telinga Ling Junjie.
"Kau ini!" Ling Junjie mendorong kepala Jiang Shen dengan tangannya.
Setelah mereka keluar dari penginapan, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka, mereka tidak ingin membuang-buang waktu di kota itu, karena perjalanan mereka masih sangatlah jauh.
Tetua Mayleen memimpin perjalanan mereka hingga keluar dari Gerbang Kota bagian barat. Setelah jauh dari Gerbang Kota, mereka berhenti di tepi sungai!
"Perjalanan kita selanjutnya akan merabas hutan itu!" Tetua Mayleen menunjuk hutan lebat yang ada di sebrang sungai.
"Mengapa harus masuk ke dalam hutan, guru?" Ling Junjie bertanya kepada gurunya.
Tetua Mayleen menjawab sambil mengeluarkan peta dari cincin dimensi miliknya, "Lihatlah!"
__ADS_1
Setelah mereka melihat peta itu secara bersama-sama, akhirnya Ling Junjie dan kedua temannya mengerti mengapa Tetua Mayleen memutuskan perjalanannya melaui hutan.
Dari Kota Chengding untuk sampai di Kota Tianyu, mereka hanya memiliki dua jalur lalu lintas. Yang pertama melalui jalan umum dengan memutari hutan, yang kedua menerabas hutan agar lebih cepat sampai di tempat tujuan.