
Setelah selesai makan, Ling Junjie keluar dari rumah dan langsung mengajak Jiang Shen untuk pergi ke perpustakaan lagi.
Di perjalanan, Jiang Shen bertanya kepada Ling Junjie. "Kawan, tumben kau kesiangan?"
"Tadi aku bermimpi bertemu wanita cantik!" Jawab Ling Junjie.
"Apakah seperti ibumu?" Jiang Shen bertanya lagi.
"Tidak, lebih cantik dari ibuku!" Jawab Ling Junjie dengan pasti.
*Tak*
Kepala Ling Junjie langsung di jitak oleh ibunya.
"Eh, ibu?" Ling Junjie bertanya dengan mimik wajah ketakutan.
"Apakah sekarang kau berani membanding-bandingkan ibumu, ha?" Li Lingjie bertanya dengan menjewer telinga Ling Junjie.
"Tidak-tidak, ibu sangat cantik dan lebih cantik dari siapapun!" Ling Junjie mencoba bernegosiasi dengan ibunya.
"Cih, sekarang kau sudah berani menggoda ibumu, ya?" Li Junhe bertanya dengan menatap sengit Ling Junjie.
"Eh, ayah. sejak kapan ayah berada di sini?" Ling Junjie bertanya dengan heran.
__ADS_1
"Kami dari tadi mengikuti kalian!" Jawab Li Junhe.
"Ibu dan Ayah akan ke rumah kepala desa, kalian jangan pulang kemalaman!" Ucap Li Lingjie.
"Baik!" Sahut Ling Junjie dan Jiang Shen serampak.
Setelah berbicara dengan Ling Junjie dan Jiang Shen, Li Lingjie dan Li Junhe langsung melesat meninggalkan mereka berdua.
"Hebat!" Jiang Shen memuji orang tua Ling Junjie.
"Kita juga akan bisa seperti itu jika kita telah menjadi kultivator!" Ucap Ling Junjie sembari mempercepat langkahnya.
"Woy, tunggu!" Jiang Shen langsung mengejar Ling Junjie.
Sesampainya di dalam perpustakaan, Ling Junjie mengajari Jiang Shen seperti waktu kemarin.
Saat Ling Junjie menyimpan kembali buku yang telah di bacanya, Ling Junjie melihat buku usang yang di penuhi debu.
"Buku apa ini?" Ling Junjie bertanya kepada dirinya sendiri.
Karena penasaran, Ling Junjie mengambil buku usang itu dan melihat sampulnya.
"Alunan Neraka." Ling Junjie membaca judul dari buku usang itu.
__ADS_1
"Terdengar mengerikan!" Dengan menyentuh dagu, Ling Junjie mengomentari buku itu.
"Tapi aku sangat penasaran dengan catatan yang ada di dalamnya!" Ling Junjie langsung membuka buku itu.
Setelah buku itu terbuka, kesadaran Ling Junjie langsung terbawa ke suatu tempat yang sangat asing baginya.
"Eh, dimana ini?" Ling Junjie menatap sekitarnya yang di penuhi pohon bambu kuning.
"Hutan bambu, mengapa aku ada di hutan ini?" Ling Junjie bertanya kepada dirinya sendiri, kemudian dia mengingat-ingat kejadian sebelumnya.
"Bukankah aku sedang membaca buku!" Ucap Ling Junjie dengan heran.
"Selamat datang, anak muda!" Tiba-tiba suara Kekek Tua terdengar dari belakang Ling Junjie.
Ling Junjie langsung membalikan tubuhnya dan menyapa Kekek Tua itu. "Hormat Senior!"
"Haha... Anak yang sopan, kau memang pantas untuk mempelajari Kitab Alunan Neraka ini. Kitab ini sangat bermanfaat bila di pelajari oleh orang yang memiliki hati bersih, dan juga akan sangat berbahaya jika di pelajari oleh orang yang berhati busuk." Kakek Tua itu berbicara panjang lebar.
"Senior, kalau junior boleh tahu, siapakah senior ini? Dan di manakah kita saat ini?" Ling Junjie bertanya dengan hati-hati kepada Kakek Tua itu.
"Kakek bernama Tao An, dan kita sekarang berada di Dimensi Bambu yang ada di dalam Kitab Alunan Neraka!" Jawab Kekek Tua.
"Kakek An, jadi bagaimana caraku mempelajari kitab itu?" Ling Junjie bertanya dengan sangat penasaran.
__ADS_1
"Teteskanlah darahmu, ke atas permukaan Kitab Alunan Neraka ini. Maka Dimensi Bambu dan Kitab Alunan Neraka akan menyatu dengan tubuhmu." Jawab Tao An, kemudian dia mengembalikan kesadaran Ling Junjie ke dalam tubuhnya.
Setelah kesadarannya kembali, Ling Junjie langsung meneteskan darahnya di atas Kitab Alunan Neraka.