
Di dalam Dimensi Bambu, Ling Junjie mengeluarkan pedang dari kantong penyimpanannya.
Kantong penyimpanan memiliki pungsi seperti cincin dimensi, namun kantong penyimpanan hanya bisa menyimpan beberapa barang saja, karena kapasitasnya yang sangat rendah.
Setelah mengeluarkan pedang, Ling Junjie langsung menebang pohon bambu yang diameternya sedikit lebih besar dari ibu jari.
*Trang*
Alih-alih terpotong, pohon bambu itu malah baik-baik saja tanpa lecet sedikitpun!
"Sial, malah pedangku yang patah!" Ling Junjie berbicara dengan raut wajah sedih.
Meskipun terlihat rapuh, tapi nyatanya pohon bambu itu lebih keras daripada baja!
"Apakah tidak ada cara lain untuk memotong bambu ini?" Ling Junjie bertanya kepada dirinya sendiri.
Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Ling Junjie tidak dapat menemukan solusi sama sekali!
"Sial, bambu ini sangat menyebalkan!" Ling Junjie berbicara dengan kesal, kemudian dia memukul bambu itu dengan mengalirkan qi di kepalan tangannya.
*Prakk*
Pohon bambu itu langsung hancur berkeping-keping!
"Eh, ternyata harus menggunakan qi!" Ling Junjie berkata dengan gembira, akhirnya dia menemukan cara dengan tidak sengaja.
__ADS_1
Setelah mendapatkan cara itu, Ling Junjie mengambil pedang lagi dari dalam kantong penyimpanannya.
Setelah mengeluarkan pedang, Ling Junjie mencoba mengalirkan qi miliknya ke pedang itu.
*Prakk*
Pedang di tangannya langsung hancur berkeping-keping!
"Sial, pedang terakhirku... ." Ling Junjie hampir menangis melihat pedang terakhir yang dia miliki juga hancur.
Ternyata qi yang di miliki Ling Junjie yang terlalu bersipat meruksak, jadi dia bisa menghancurkan pohon bambu dan juga pedangnya sendiri.
Setiap latih tanding bersama Jiang Shen, Ling Junjie memang belum pernah menggunakan pukulan dengan di aliri qi, jadi dia belum tahu bahwa qi miliknya dapat menimbulkan kerurakan yang sangat tinggi.
"Sepertinya aku harus mulai belajar mengendalikan qi, agar di masa depan aku tidak mudah lelah seperti ini." Ucap Ling Junjie sembari duduk lotos dan berkultivasi.
Setelah hari menjelang pagi, Ling Junjie baru mengembalikan kondisi tubuhnya.
"Sial, aku lupa pulang ke rumah!" Ling Junjie mengutuk kehilapannya.
"Ibu pasti akan marah!" Ling Junjie sangat khawatir dengan kemarahan ibunya.
Li Lingjie memang sangat memanjakan Ling Junjie, namun jika Ling Junjie tidak taat dengan aturan yang sudah di tetapkan, Li Lingjie pasti menghukum Ling Junjie dengan sangat berat.
Jangankan Ling Junjie, bahkan Li Junhe selaku ayah Ling Junjie juga selalu mendapatkan hukuman jika melanggar aturan.
__ADS_1
"Ibu sangat menakutkan jika marah!" Ling Junjie berkata dengan getir, dia tidak akan takut jika harus menyebrangi lautan api dan mendaki puncak berduri, tapi dia akan sangat ketakutan jika harus menghadapi kemarahan ibunya sendiri.
"Jiang Shen. Benar aku harus memita bantuan Jiang Shen!" Ucap Ling Junjie sembari keluar dari Dimensi Bambu.
Namun baru saja melangkahkan kakinya, telinga Ling Junjie langsung dijewer oleh ibunya!
"Akh... Ampun buk, ampun... ." Ling Junjie memohon ampun.
"Kau ini, aku semalaman mencarimu, ternyata kau ada di sini. Dasar anak kurang ajar!" Li Lingjie langsung memarahi putra satu-satunya itu.
Setelah melampiaskan kemarahannya, Li Lingjie mengajak Ling Junjie untuk pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Ling Junjie kembali di sidang oleh ayahnya!
"Dari mana?" Li Junhe bertanya singkat.
Dengan terpaksa, Ling Junjie menceritakan semua kejadian yang telah dia lalui.
Ling Junjie juga menceritakan perihal Dimensi Bambu yang dia miliki.
"Begitu ayah!" Ucap Ling Junjie setelah menceritakan semuanya.
"Bagus aku suka pria jujur sepertimu, di masa depan kau harus jujur ke setiap wanita yang menyukaimu. Ingat Jun'er, wanita itu sangat berbahaya!" Li Junhe menasehati Ling Junjie dan berakhir dengan di seret oleh istrinya ke kamar.
Melihat tingkah orang tuanya, Ling Junjie tidak memperdulikan hal itu, karena Ling Junjie sudah terbiasa dengan sipat orang tuanya yang seperti kucing dan anjing. Tidak pernah akur!
__ADS_1