
Fathan tersenyum kecil melihat Ziara yang sedang mengomel sambil menyapu. Itu terlihat lucu baginya, sepertinya ini gambaran Ziara jika saat marah padanya di rumah ketika mereka sudah menjadi sepasang istri.
'Mikir apa si.' Batin Fathan sambil mengetuk kepalanya pelan.
"Tapi kamu harus kuliah," usul Fathan karena menurutnya kuliah itu sangat penting.
"Jangankan untuk kuliah, Pak. Kadang buat sehari-sehari aja sulit, saya gak mau tambah beban orang tua. Pokoknya setelah lulus saya pengen cari kerja."
"Tapi cari kerja gak semudah yang kamu bayangkan, Zia."
"Saya tau, tapi saya akan berusaha."
"Kenapa kamu gak nikah aja, kan enak ada yang nafkahi tanpa cape-cape kerja."
Ziara langsung mematung sejenak mendengarnya. "Menikah?"
"Iya, nikah. Kamu bisa nikah muda sama cowok yang kamu suka, tapi saya kasih saran saja sama kamu. Kalau cari calon suami yang lebih tua sedikit dari kamu karena cowok yang dewasa biasanya pemikirannya matang."
__ADS_1
'Seperti saya contohnya.' Batin Fathan.
"Enggak, saya belum siap nikah. Lagian kalau saya nikah belum tentu bisa ngasih uang ke orang tua," jawab Ziara belum berfikiran untuk mau menikah muda.
"Wajar kamu belum siap nikah, kan usia kamu masih sangat muda. Tapi nanti satu atau dua tahun kamu lulus sekolah, cape nyari kerja atau cape kerja pasti kamu pengen nikah."
"Gitu yah?"
"Iyah, itu yang saya denger dari temen cewek yang udah nganggur lama."
"Tapi kayanya saya enggak deh, Pak. Kan saya gak pacaran, jadi kayanya santai-santai aja kan jodohnya belum ketemu."
"Emang kenapa kamu gak pacaran?" Fathan berani menanyakan hal seperti ini karena ia rasa ini kesempatan bagus.
"Bagi saya pacaran cuma buang-buang waktu, saya lebih memilih untuk memperbaiki diri dan berharap semoga jodoh saya lelaki yang baik ahlaknya."
'Pas! Saya banget, Zi. Walaupun agak minus nyebelin ke kamu.'Batin Fathan.
__ADS_1
Ia lega mendengar jawaban Ziara seperti itu, artinya ia tidak perlu khawatir Ziara di ambil orang lain. Fathan merasa tak salah pilih menyukai gadis seperti Ziara.
"Bagus pemikiran kamu, saya senang dengarnya." Fathan berjalan maju agar lebih dekat dengan Ziara.
"Bapak sendiri gimana? Apa ada niatan untuk nikah dalam waktu dekat ini?" tanya Ziara yang sudah lupa dengan jati dirinya yang selalu bersikap pendiam pada orang lain. Namun entah mengapa ia bisa selancar ini mengobrol dengan Fathan, mungkin karena saat ini sifat Fathan sangat nyaman untuk di ajak berkomunikasi.
"Oh enggak, saya gak ada niatan buat nikah saat ini," jawab Fathan sambil duduk di kursinya.
'Kecuali kalau nikahnya sama kamu, sekarang juga saya siap, Zi.'Batinnya sambil tersenyum kecil.
Ziara mengangguk paham lalu membuang kotoran debu dan sampah kertas ke tong sampah menggunakan 2 sapu karena tidak ada serokan.
Fathan segera membereskan buku dan laptopnya karena Ziara telah selesai membersihkan kelas. "Sudah selesai kan? Ayo saya antarkan kamu pulang," serunya pada Ziara yang sedang mencuci tangan di wastafel yang berada di depan kelas.
"Gak usah, Pak." Ziara jelas menolak karena tak mungkin jika harus di antarkan oleh Fathan yang membawa mobil. Ah! Itu membuatnya tak bisa membayangkan bagaimana jika ada siswi yang tau.
💓💓💓💓💓
__ADS_1
next or stop