
Ia melirik sekilas ke arah pintu kelas, kemudian memutar bola matanya malas ketika melihat Fathan masuk.
Yeah! Saat ini memang waktunya mata pelajaran bahasa Inggris. Ini sangat menyebalkan bagi Ziara.
"Siang anak-anak, gimana kabar kalian masih semangat belajar?" sapa Fathan dengan wajah ceria. Padahal ia baru selesai bermain basket namun tidak terlihat sedikit pun jika ia kelelahan, mengagumkan!
"Masih dong Pak!" jawab histeris semua siswi dan siswa kecuali Ziara yang memilih untuk tetap diam.
"Woah, hebat! Sebelum masuk ke materi hari ini kayanya asik nih ngobrol bentar. Heum, sebentar lagi kan kalian lulus, nah saya penasaran setelah lulus Sma kalian mau lanjut kuliah, kerja atau ada yang niatan nikah?"
"Haha."
"Kalau nikahnya sama bapak siap saya Pak!"
"Huuu!"
"Gatel!"
"Becanda woi, sabar!"
Ruangan kelas ricuh dengan kehebohan para murid dan Fathan hanya mampu tersenyum tipis.
"Sudah-sudah, saya mulai dari kamu Noni. Coba saya pengen tau setelah lulus dari sini apa yang akan kamu lakukan?" Fathan menunjuk Noni yang duduk paling depan barisan kanan.
"Saya kayanya lanjut kuliah, Pak."
"Wih keren, niatnya mau kuliah kemana?"
"Niatnya sih ke luar negeri, Pak."
"Bagus, kamu bisa dapat pengalaman banyak kuliah di luar negeri."
"Iya, Pak."
__ADS_1
"Semoga niat kalau di lancarkan ya."
"Aamin, terima kasih Pak."
Fathan mengangguk kecil sambil tersenyum tipis. "Oke selanjutnya samping Noni? Vina?"
"Sama, Pak. Saya juga mau lanjut kuliah di luar negeri," jawab Vina teman sebangku Noni.
"Wahh hebat, sukses buat kalian berdua."
"Terima kasih, Pak."
"Oke lanjut, yang di belakang. Shasa, kamu mau lanjut kuliah juga apa langsung nikah?"
"Haha." Para murid tertawa mendengar Fathan mebecandai Shasa.
"Enggak lah, Pak. Saya mau kuliah dulu," jawab Shasa marah.
Fathan terkekeh kecil. "Iya-iya saya cuma becanda, Sha. Jadi kamu mau lanjut kuliah dimana nih?"
"Pp dong gak ngekost?"
"Ngapain ngekost males, Pak. Apa-apa harus sendiri."
"Hmm, iya-iya." Fathan melirik sedikit ke arah Ziara namun ia langsung alihkan ke siswi di belakang meja Ziara dan Shasa. "Oke lanjut, Tiara. Kamu mau lanjut kemana?" sambungnya melewati Ziara.
Ziara telonjak kaget, perasaanya sangat terluka dengan perlakuan Fathan kepadanya. Padahal ia sudah mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan Fathan. Namun, Fathan malah melewati dirinya begitu saja.
Sakit dan malu, itu yang Ziara rasakan.
"Pak!" Shasa mengangkat tangan kanannya.
"Kenapa, Sha?"
__ADS_1
"Kok Ziara gak di tanya?"
"Shasa kamu gak dapet izin untuk bertanya, ayo Tiara kamu belum menjawab pertanyaan saya." Fathan segera mengalihkan topik pembicaraan.
"Ish! Ngeselin banget sih tuh orang," gerutu Shasa sangat pelan. "Ra, sabar yah." Ia menyentuh bahu kanan Ziara lembut, ia kasian dan ikut merasakan bagaimana perasaan Ziara sekarang pasti sakit bercampur malu.
Ziara tersenyum paksa, ia tak mau terlihat sedih oleh semua orang apa lagi hanya karena guru menyebalkan seperti Fathan. "Gak papa, tenang aja," balasnya pada Shasa yang ikut membalas senyumannya.
Tok tok.
Seorang guru wanita mengetuk pintu yang terbuka. "Permisi, Pak. Maaf ganggu," ujarnya saat ia menjadi pusat perhatian.
"Eh iya, Bu Irma. Tidak apa-apa, ada keperluan apa ya, Bu?" balas Fathan ramah.
"Ini, Pak. Kan selesai Bapak ngajar kan selanjutnya jadwal saya ngajar kelas ini, tapi sekarang saya ada keperluan mendadak. Saya liat jadwal Bapak kosong di jam terakhir, saya mohon maaf sebelumnya apa bisa bawa gantikan jadwal saya ngajar."
"Oh bisa, Bu. Tentu bisa, dengan senang hati. Saya malah senang jika jadwal ngajar saya durasinya lama, jadi saya bisa menjelaskan materi ke anak-anak dengan jelas."
"Woah seriusan, Pak. Saya ucapkan terimakasih banyak, Pak." Irma sangat senang mendengarnya, walaupun dari awal ia sudah yakin pasti Fathan akan menerima tawarannya untuk mengisi jadwal mengajarnya.
"Iya, Bu. Anak-anak juga pasti senang kan?" tanya Fathan sambil menoleh ke semua murid di kelas.
"Seneng banget, Pak!"
"Makasih Bu Irma, i love you!"
"Huu!"
"Haha!"
"Jangan di tanya kalau anak-anak, Pak. Pasti pada seneng," canda Irma karena hampir semua siswi di Sma ini sangat senang jika Fathan yang mengajar.
Fathan tertawa kecil. "Bisa gitu ya, Bu."
__ADS_1
next ๐ or stop ๐คจ