
Fathan menurunkan kaca mobilnya dengan perasaan kesal. "Zia saya bukan om-om!" tegasnya masih tak terima namun Ziara pergi begitu saja tanpa menyelesaikan obrolan ini.
Ziara tersenyum bingung. "Iya, Pak. Bapak bukan om-om, Bapak masih anak muda kok." Ia tak menyangka jika Fathan sampai sekesal ini padanya. Padahal niatnya agar Fathan tak memaksanya untuk di antarkan sampai depan rumahnya, karena yakin di depan rumah sekarang sangat ramai.
"Nah iya itu baru betul. Ingat ya, usia saya baru dua puluh tahun," peringat Fathan dengan tegas.
Ziara mengangguk. "Iya, Pak. Hati-hati di jalan, Pak."
"Kamu juga hati-hati, kalau begitu saya pergi dulu."
Ziara mengangguk, kemudian Fathan segera menstater mobilnya dan melaju secara perlahan.
Setelah mobil Fathan tak terlihat lagi, Ziara segera berjalan lurus menuju rumahnya yang jaraknya hanya melewati 3 rumah saja.
Kedua bola mata Ziara memutar malas saat melihat bengkel milik sang kakak yang tepat di samping kanan rumah miliknya. Lalu ia menoleh ke samping kiri rumahnya dimana disana tempat warung kopi milik sang ibu.
Ia melangkah mendekati warung ibunya dengan wajah datar.
"Baru pulang, Zi?" sapa salah satu teman kakaknya yang tengah berkumpul di bengkel.
"Iya," balas Zia sambil tersenyum tipis namun tanpa menghentikan langkahnya.
"Assalamualaikum." Ziara masuk ke dalam warung ibunya, lalu mencium punggung tangan sang ibu yang bernama Zula.
"Waalaikumsalam, Zia. Tumben baru pulang, tadinya Mama baru aja mau nyuruh abang jemput kamu ke sekolah. Takutnya gak ada angkot lewat hari ini, soalnya kamu belum pulang sekolah," balas Zula yang tadi tengah mencatat sesuatu di buku bon.
"Yakin abang mau jemput Zia?" sindir Ziara sambil tersenyum pedih. Mana mungkin kakaknya mau berbaik hati menjemputnya di sekolah, oh itu mustahil baginya.
__ADS_1
"Sudah, lebih baik kamu ganti seragam dulu. Kamu belum makan kan? Sana makan Mama sudah masak untuk kamu," suruh Zula mengalihkan topik pembicaraan.
Ziara mengangguk, lalu keluar warung untuk menuju rumah.
Setelah masuk ke dalam rumah Ziara segera masuk ke kamar untuk mengganti seragam terlebih dahulu. Kemudian, ia ke toilet untuk mengambil wudhu karena ia belum melaksanakan sholat dhuhur.
"Lulu jangan di abisin ayamnya!"
"Apa sih orang ayamnya cuma dikit."
Mendengar keributan dari luar kamar, Ziara yang baru saja selesai berdoa sehabis shalat segera merapihkan mukenanya. Kemudian beranjak keluar kamar untuk melihat apa yang sudah terjadi.
"Ada apa ribut-ribut?" tanya Ziara sambil mendekati meja makan yang di mana kedua adik perempuan yaitu Lulu dan Nari tengah makan siang.
"Kak, masa Lulu abisin semua ayamnya. Kan Kak Zia juga belum makan," jawab Nari dengan raut wajah kesal pada adiknya yang telah menghabiskan 2 potong ayam goreng. Sedangkan ia rela makan hanya dengan sayur dan tempe.
"Ya tetep aja jangan di abisin dong, terus kak Zia makan sama apa? Tempe sama tahu juga kan udah abis." Nari sangat peduli dengan Ziara karena ia pernah merasakan bagaimana saat pulang sekolah sudah kelaparan namun di rumah tidak ada lauk pauk apa pun, itu sangat menyakitkan!
Ziara tersenyum tipis, ia dapat memaklumi. Lulu anak bungsu yang memiliki sifat sedikit manja. "Yaudah, gak apa-apa. Kak Zia makan sama mie aja," lerainya agar kedua adiknya berhenti bertengkar.
"Jangan, Kak. Kemarin kan Kakak juga makan sama mie, masa sekarang makan mie lagi gak sehat tau," lontar Nari.
"Yaudah makan sama telur aja."
"Di warung telur lagi kosong, Kak."
"Bukannya kemarin masih sisa banyak yah, apa ada yang beli ya?"
__ADS_1
"Bukan, Kak. Tapi temen-temen kak Bani pada pesen mie sama telur, jadinya abis."
Ziara membuang nafas berat. Lagi dan lagi setiap hari teman-teman kakaknya selalu memesan makanan atau minuman di warung ibunya. Namun tidak pernah bayar. Lantaran, kakaknya selalu menolak jika temannya ingin bayar.
"Eh lagi pada makan anak Mama," celetuk Zula yang baru datang. "Yang kenyang yah makannya," lanjutnya sambil tersenyum senang.
"Kenyang gimana, Mah. Nasinya aja dikit lagi, belum lagi lauk pauknya udah abis. Sebenarnya Mama beli ayam berapa sih? Masa cuma sisa dua potong?" tutur Lulu masih belum puas.
"Ya Mama belinya banyak kok, mungkin udah abis tadi abang kamu ngajak temen-temennya makan disini." Zula menjawab dengan ragu-ragu.
Ziara dan Nari bersamaan hanya mampu tersenyum karena ini bukan pertama kalinya. Kakaknya lebih memilih memberikan semua makanannya pada temannya tanpa memikirkan kondisi adik-adiknya.
"Terus aja pikirin temennya, adik-adiknya mah gak punya perut sih jadi wajar kak Bani gak mikirin kita-kita," sindir Nari kecewa.
"Udah, De. Gak papa, nanti besok kita bisa beli lagi," balas Ziara menenangkan Nari agar tak memperpanjang masalah ini.
"Mau sampe kapan begini terus, Kak? Kalau kita maklumi terus yang ada kak Bani makin menjadi-jadi! Aku tuh cape harus ngalah, harus makan bekas sisaan kak Bani sama temennya!" lontar Nari emosi yang meluap-luap karena kesabarannya sudah habis.
Nari mengungkapkannya dengan bola mata berkaca-kaca. Ia sangat lelah dengan ini semua, hidup dalam kemiskinan. Bukan ia tak bersyukur namun saat ini ia benar-benar sudah lelah.
"Iya, Mah. Mama harus ngomong sama kak Bani, gak boleh gini terus. Kalau gini terus warung Mama bangkrut," seru Lulu ikut menambahkan.
"Udah gak papa, rezeki di depan kan Bani juga niatnya baik," jawab Zula sambil tersenyum.
Ziara berdesis kecewa, ibunya memang selalu membela Bani yaitu kakaknya.
next or stop 🤨
__ADS_1