Love My Teacher

Love My Teacher
23


__ADS_3

Ia menggantung tasnya di balik pintu, kemudian membuka hijab dan menaruhnya di atas kasur lalu kembali keluar kamar untuk mengambil air wudhu di kamar mandi.


"Woi yang bener dong mainnya!"


"Ih ege lu mau kemana sih!"


"Ngeselin banget lu!"


"Diem lutung!"


"Dih mulutnya bisa diem gak sih!"


"Fokus fokus!"


Ziara menoleh ke arah ruang tamu, disana Bani dan kelima temannya tengah main bersama game online sambil bertengkar karena mungkin cara bermain beberapa dari mereka tidak bagus dan membuat mereka bertengkar.


"Cih! Sejak kapan mereka disana," gerutu Ziara kembali masuk ke dalam kamar karena tidak memakai hijab dan untung saja mereka tidak melihat kearahnya.


"Bani!" panggil Zula dari arah pintu depan.


"Apa, Mah?!" teriak Bani tanpa menoleh dan fokus.


"Ada yang mau tambal ban tuh."


"Iya-iya bentar!" Bani segera berdiri. "Eh, lu mainin dulu nih," ujarnya sambil memberikan ponsel miliknya pada salah satu temannya yang tak ikut bermain game.


Kemudian, Bani segera berjalan keluar rumah. "Mobilnya kenapa, Bang?" tanyanya pada pemilik mobil yang berhenti di depan bengkelnya.

__ADS_1


"Kurang tau, Bang. Tiba-tiba pas saya cek kempes."


"Coba saya cek." Bani memeriksa ban mobil tersebut untuk mencari tau apa menyebabkan. "Ini harus di tambal, Bang. Kayanya kena benda tajem," serunya memberitahu.


"Oh gitu ya."


"Iya, duduk dulu aja, Bang."


"Iyah."


"Emang abis dari mana, Bang?" tanya Bani sambil berusaha mencopot ban mobil untuk memperbaikinya.


"Dari rumah temen, kebetulan rumahnya deket dari sini."


"Oh gitu. Di liat dari penampilannya, Abang guru yah?"


"Sama aja itu udah keren, Bang." Bani berdiri mengambil beberapa peralatan yang tertinggal di bawah etalase kacanya. "Btw emang ngajar di mana kalau boleh tau?" tanyanya tanpa menoleh.


"Di Sma 1 Lamiar, Bang."


"Wih, ade saya juga sekolah disana. Abang ngajar kelas berapa?"


"Hanya kelas sebelas dan dua belas."


"Ade saya juga kelas 12."


"Adiknya laki-laki atau perempuan?"

__ADS_1


"Cewe sih. Namanya Ziara."


Deg!


Fathan terlonjak kaget mendengarnya. Ia langsung menoleh ke arah warung kopi yang jaraknya tak jauh dari bengkel. Ia baru teringat dengan cerita Ziara ibunya memiliki warung dan kakaknya memiliki bengkel.


Ia yakin orang ini adalah kakaknya Ziara, ia tak menyangka bisa kebetulan seperti ini.


"Kenal gak, Bang?" tanya Bani penasaran.


"Oh, iya kenal. Kebetulan saya wali kelasnya."


"Wih, pantes aja dia rajin banget sekolah wong wali kelasnya ganteng gini mana masih muda lagi. Seumuran kayanya kita, Bang."


Fathan tertawa kecil. "Kebetulan usia saya 20 tahun."


"Nahkan."


Ziara keluar rumah setelah melaksanakan sholat dhuhur dan makan siang, ia berniat membantu ibunya di warung. "Mah, Nari sama Lulu belum pulang?" tanyanya sambil duduk di kursi teras warung dan tanpa menoleh ke arah bengkel.


"Belum, tadi pagi bilangnya ada latihan nari buat lomba katanya," jawab Zula dari dalam warung. "Kak, coba kamu liat di bengkel ada cowok ganteng banget," ceritanya sembari menunjuk-nunjuk kearah orang yang ia maksud.


"Masa? Udah gak aneh, Mah. Temen kak Bani emang pada ganteng-ganteng." Ziara masih belum menoleh, malah ia lebih memilih membuka kulkas untuk mengambil minuman dingin.


"Ih! Ini beda, ganteng banget udah kaya aktor ganteng di tv."


Ziara tertawa kecil sambil memutar tutup botol untuk membukanya. "Masa sih? Jadi penasaran," jawabnya sembari menoleh

__ADS_1


next ๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“ or stop ๐Ÿคจ๐Ÿคจ๐Ÿคจ๐Ÿคจ๐Ÿคจ


__ADS_2