
"Saya berharap kamu tidak menolaknya."
"Maaf banget, Pak. Tapi saya gak bisa, Bapak anterin saya pake apa?"
"Mobil saya, masa pakai mobil orang."
"Nah itu permasalahannya, sebenarnya saya mabuk kalau naik mobil, Pak."
"Kamu tenang aja, saya jamin kamu gak akan mabuk naik mobil saya karena mobil saya harum dengan pengharum yang gak bikin perut mual. Lagian jarak rumah kamu gak jauh kan? Nah saya yakin kamu gak akan mabuk."
Skakmat! Ziara sudah tak punya alasan lagi. Mau tak mau ia harus menerima tawaran Fathan.
Padahal ia sudah mempermalukan dirinya demi menolak tawaran Fathan. Ia keheranan sejak kapan guru bahasa Inggrisnya ini mau berbaik hati padanya?
"Ayo," ajak Fathan yang hanya di angguki oleh Ziara. Kemudian, mereka segera berjalan.
Di parkiran sudah sangat sepi, tak ada satu pun murid yang terlihat. Namun, masih ada beberapa motor siswa yang sedang ikut ekstrakulikuler di dalam sekolah.
"Ayo masuk," suruh Fathan sambil membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
Ziara ikut membuka pintu mobil lalu masuk ke dalam. Ia dapat mencium aroma harum dari mobil Fathan. Tak heran jika mobilnya sewangi ini, aroma parfum tubuh Fathan saja masih tercium walaupun dari jarak beberapa meter.
Perlahan Fathan melajukan mobilnya keluar dari area sekolah.
Di sepanjang jalan keadaan hening hanya ada terdengar suara radio yang Fathan putar sejak 5 menit yang lalu. Ziara tengah fokus melihat ke trotoar jalan raya yang ramai, sedangkan Fathan hanya fokus menyetir.
Fathan kebingungan untuk basa-basi apa untuk memecahkan keheningan. "Oh iya, kamu mau mampir ke rumah makan dulu gak? Ada tempat makan yang jual sate enak banget, pasti kamu suka," tawarnya memilih untuk mengajak makan.
"Enggak, Pak. Saya mau langsung pulang aja," jawab Ziara menolak.
"Saya yang traktir, mau ya?"
"Enggak, Pak. Jangan paksa saya," balas Ziara datar.
"Oh iya, maaf."
Saat ini perasaan Ziara membingungkan. Ini seperti mimpi, bagaimana bisa ia sedekat ini dan sampai di antarkan oleh gurunya sendiri. Kalian juga harus tau, ini pertama kalinya Ziara di antarkan pulang oleh seorang pria.
"Berhenti disitu aja, Pak." Ziara menunjuk ke arah jembatan yang ada di depan.
__ADS_1
"Loh kenapa?" tanya Fathan namun menuruti perintah Ziara, ia pun segera menghentikan mobilnya di jembatan tersebut.
"Iya berhenti disini aja, rumah saya udah deket sini. Makasih ya, Pak. Udah mau antarkan saya pulang," jawab Ziara sebelum keluar mobil.
"Kenapa gak sampai rumah kamu aja?" Padahal Fathan ingin mengetahui lokasi rumah Ziara.
"Saya takut ada tetangga yang liat, terus gosipin saya yang enggak-enggak, Pak."
"Gosip? Gosipin apa?"
"Yah gosipin saya di anterin pulang sama om-om pake mobil."
"What? Om? Saya bukan om-om Zia, saya masih muda kamu gak liat wajah ganteng saya ini?" Fathan tak terima jika ada orang yang mengira ia adalah seorang om-om. Ah! Ini menyebalkan baginya.
"Iya maaf, Pak. Tapi intinya gitu, saya duluan ya. Sekali lagi terima kasih." Ziara buru-buru keluar mobil.
Ziara langsung menyipitkan kelopak matanya saat berhasil keluar mobil, ternyata sinar matahari hari ini sangat menyengat sehingga menyulitkannya untuk membuka mata dengan sempurna.
Fathan menurunkan kaca mobilnya dengan perasaan kesal. "Zia saya bukan om-om!" tegasnya masih tak terima namun Ziara pergi begitu saja tanpa menyelesaikan obrolan ini.
__ADS_1
💓💓💓💓
next