
Ia menarik nafas dalam untuk mengatur emosinya agar bisa lebih tenang. "Tiap servies mobil-mobil mewah temen lo aja gak pernah lo ambil bayarannya, gak habis pikir gue. Terus tujuan lo buka bengkel buat apa? Mama buka warung jualan loh, bukan warung gratis."
"Diem deh lu, lu gak tau seberapa baik mereka sama gue dulu. Di saat gue dulu terpuruk cuma mereka yang ada."
"Mereka? Bukannya keluarga lo?!" balas Ziara keras. "Sadar, Bang! Cuma kita semua yang ada buat lo. Lo juga jangan lupa gara-gara lo kita jatuh miskin. Ayah di pecat sampe gak bisa lagi untuk dapet kerja di kantor mana pun karena lo, Bang!" Emosi Ziara kembali memuncak ia benar-benar tak habis pikir bagaimana cara pikir Bani.
Dulu mereka memang orang yang cukup berada. Namun, saat Bani kuliah dulu. Bani mendapatkan musibah yang membuatnya harus di penjara beberapa bula karena kesalahpahaman yang fatal dan membuat karier ayahnya sampai terlibat.
"Cih! Terus aja lo ungkit- ungkit."
"Emang susah ngomong sama orang yang gak punya hati nurani.โ
"Jaga mulut lo!"
"Sudah-sudah!" Zula menghentikan semuanya, ia sudah pusing dan sedih melihat kedua anaknya bertengkar. "Bani kamu keluar, sudah berhenti," lerainya kemudian Bani segera pergi tanpa berkata sepatah kata pun.
Ziara sesenggukan lalu segera masuk ke dalam kamarnya. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam kamar, hatinya sakit sekali karena perkataan Bani masih terngiang-ngiang di kepalanya.
Marah, kesal, sedih bercampur aduk. Kapan ini semua berakhir, ia ingin seperti dulu kala. Dimana keluarga mereka sangat harmonis tak pernah bertengkar masalah perekonomian. Mengapa ia harus kehilangan masa jaya ayahnya di saat ia dan adik-adiknya mulai menginjak dewasa. Namun, ini semua sudah takdir mereka tak bisa berbuat apa-apa lagi selain berdoa.
Saat Smp Ziara sudah berniat setelah lulus Sma ia akan masuk kuliah kedokteran karena ia bercita-cita ingin menjadi seorang dokter, tapi sekarang ia harus mengubur dalam-dalam itu semua.
__ADS_1
"Biarin Zia tenang dulu, kalian lanjut makan aja ya, Mama keluar dulu." Zula berpesan dan di angguki oleh Lulu dan Nari.
Nari enggan untuk melanjutkan makannya, nafsu makannya sudah hilang karena pertengkaran ini. Jujur saja ia sangat sedih melihat kedua kakaknya bertengkar hebat seperti ini, tetapi ini bukan pertama kalinya mereka berdua ribut. Semenjak Bani membuka usaha bengkel memang mereka sering sekali bertengkar.
Drrrtt....
Ponsel Ziara bergetar yang tergeletak di atas meja kamar. Ia segera menghentikan tangisannya, kemudian mengangkat telepon tersebut.
"Assalamualaikum, Zia," salam Shasa dari telepon.
"Waalaikumsalam, Sha. Ada apa?" jawab Ziara sambil mengatur nafasnya yang sedikit tak beraturan.
"Maaf, Sha. Aku lupa, aku udah dari tadi kok pulangnya. Cuma tadi lagi ada problem aja di rumah, jadi gak bisa kabarin kamu," balas Ziara sambil menghapus sisa air matanya di bawah kelopak mata.
"Problem apa? Eh suara kamu juga kaya abis nangis, kamu kenapa?"
"Gak apa-apa, cuma masalah biasa."
"Kamu ribut sama kak Bani lagi ya?"
"Iya, Sha."
__ADS_1
"Hmm, kapan sih calon suami aku itu sadar. Masa nyakitin adik ipar aku terus sih."
Ziara berdecak geli. Ia tak habis pikir mengapa Shasa bisa menyukai lelaki macam kakaknya. "Please, Sha. Berhenti naksir sama si Bani, kamu bakal nyesel kalau tau mulutnya gimana kalau ngomong."
"Gak papa aku nerima dia apa adanya kok."
"Kamu bisa tekanan batin terus kalau nikah sama dia."
"Gak papa yang penting punya suami ganteng."
"Astagfirullah."
"Hehe."
"Tadi aku di anterin, Pak Fathan," ujar Ziara memberitahu. Toh, Shasa sahabatnya sendiri jadi apa salahnya.
"WHAT! SERIOSLY?" Shasa terdengar begitu kaget.
"Iya, tapi kamu jangan kasih tau siapa-siapa."
next ๐ or stop ๐คจ
__ADS_1