
"Bismillah, saya potong kuenya yah," ujar Fathan sembari mengambil pisau kue.
"Iya, Pak."
"Saya doa dulu ya." Fathan memejamkan kedua matanya dan mengangkat kedua tangannya untuk berdoa.
'Bismillah ya Allah. Terima kasih atas semua nikmat yang telah engkau berikan pada hamba, di usia yang bertambah ini hanya ingin semoga kedua orang tua dan hamba selalu di berikan kesehatan, di murahkan rezeki yang halal dan barokah. Selalu menjadi orang yang rendah hati, dan hamba juga berdoa untuk gadis yang hamba cintai. Semoga, dia selalu di lindungi, selalu diberi kesehatan, aamiin."
Fathan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya setelah berdoa. Kemudian, ia segera memotong perlahan bagian kue bule coklat tersebut.
Prok prok!
Para siswi bertepuk tangan dengan meriah saat Fathan berhasil memotong kue tersebut.
"Pak, potongan pertama buat siapa tuh?"
"Buat saya aja, Pak!"
"Ih saya aja, Pak!"
Beberapa siswi kini merebutkan potong kue pertama. Tidak bisa di pungkiri, anak sekolah memang selalu ribut dan rusuh.
Fathan terdiam sebentar, memikirkan bagaimana caranya ia memberikan potongan kue pertamanya untuk Ziara. Jika ka tiba-tiba memberikannya pada Ziara, tentu mereka semua akan curiga dan marah.
Beby mendekati Fathan, berharap Fathan memberikan kue tersebut untuknya. "Selamat ulang tahun, Pak. Ini kado dari saya," ujarnya sembari memberikan sebuah kado berukuran sedang yang terbungkus oleh kertas kado berwarna merah.
Fathan tersenyum, lalu menerimanya. "Terima, kasih." Namun, Fathan tidak memberikan kue tersebut pada Beby.
Beby berdecak sebal. Mengapa Fathan tidak memberikan kue tersebut padanya, padahal ia sangat berharap mendapatkan kue potongan pertama karena jika di pikir-pikir siapa siswi yang akan Fathan beri kue potongan pertama, sebab hanya Beby lah yang lebih dekat dengan Fathan.
"Saya potong semuanya aja ya, nanti kalian boleh ambil satu-satu," ucap Fathan lalu menyimpan kue potongan pertama tersebut di laci meja. Kemudian, ia kembali memotong kue tersebut hingga terpotong beberapa bagian kue.
"Ayo mari." Fathan mempersilahkan mereka semua mengambil kue yang sudah ia tata rapih di piring kertas kue.
Siswi-siswi berebut mengambil kue tersebut, sedangkan Ziara memilih untuk tidak mengambilnya walaupun kue tersebut banyak dan cukup untuk mereka semua. Tetapi, kebetulan ia memang tidak terlalu suka kue.
Fathan terkekeh melihat para siswi yang begitu heboh padahal hanya mengambil kue saja. "Pelan-pelan, jangan rebutan semuanya kebagian," tuturnya agar mereka semua antri dengan tenang.
__ADS_1
"GAYS YANG MAU KASIH KADO KESINI!" teriak Eren dan Melani yang membawa kardus besar sengaja untuk menampung kado yang di berikan para siswi untuk Fathan.
"Ayo-ayo."
Mereka semua segera mengumpulkan kado yang sudah mereka buat khusus untuk Fathan. Termasuk Ziara yang ikut mengumpulkan kado kecilnya.
Fathan sumringah saat melihat Ziara ternyata ikut memberikannya hadiah. Ia sudah sangat tidak sabar untuk membuka kado apa yang Ziara berikan untuknya.
"Anak-anak, jika sudah. Ayo kita pergi ke resto, kita makan sepuasnya di sana," ajak Fathan bersiap-siap.
"AYO PAK!" jawab mereka dengan serempak dan antusias. Kemudian, segera berhamburan menuju parkiran untuk pergi menuju tempat yang mereka tuju.
Karena jarak restoran milik Fathan cukup jauh, jadi mereka harus menggunakan kendaraan mereka masing-masing.
Fathan mendongak melihat ke arah balkon. Disana terlihat ada beberapa puluh siswa anak kelas 11 dan 12, tidak ada anak kelas 10 karena sedang belajar.
"ANAK-ANAK COWOK YANG MAU IKUT, BOLEH!" ujar Fathan keras agar terdengar oleh para siswa.
"WIH YANG BENER, PAK!"
"IKUT!"
"YESS!"
Dengan cepat para siswa yang berada di balkon berhamburan turun ke bawah.
Fathan mengambil potongan kue pertamanya yang tadi ia simpan di laci. Kemudian, ia membawanya. Lalu, ia melangkah sembari matanya berkeliling mencari keberadaan Ziara.
"Itu dia." Fathan berjalan cepat saat melihat Ziara yang tengah berjalan di depannya bersama Shasa. "Zia, ke ruangan saya sebentar," celetuknya pelan membuat Ziara dan Shasa sedikit terkejut.
Ziara dan Shasa mengehentikan langkahnya.
"Untuk apa ya, Pak?" tanya Ziara kebingungan.
"Barang kamu ketinggalan di ruangan saya," jawab Fathan bohong.
"Barang?" Ziara mencoba mengingat-ngingat barang apa yang tertinggal di ruangan Fathan, karena seingatnya saat ke ruangan Fathan ia tidak pernah membawa apapun. "Barang apa ya, Pak?" lanjutnya bingung.
__ADS_1
"Ikut saja."
"Yaudah, aku temenin ya, Ra," sahut Shasa.
"Kamu tunggu di depan aja, Sha. Aku paling cuma bentar," balas Ziara karena tak mau merepotkan Shasa.
"Oke, yaudah. Aku tunggu di depan yah."
"Oke."
Shasa beranjak pergi dan Fathan segera melangkahkan kakinya duluan. Ziara mengikuti Fathan dari belakang dengan jarak beberapa meter karena takut orang yang melihatnya salah paham.
Fathan masuk lalu duduk di kursinya. Kemudian, meletakkan kue tersebut di atas meja.
"Permisi," salam Ziara sopan yang baru membuka pintu setengah.
"Masuk," suruh Fathan.
Ziara menganggukkan kepalanya, lalu masuk ke dalam.
"Duduk."
Ziara duduk setelah disuruh oleh Fathan.
Fathan menggeser kue tersebut ke hadapan Ziara. Sontak, Ziara langsung menatapnya dengan tatapan bingung. Tentu saja Ziara kebingungan karena tiba-tiba di sodorkan sepotong kue.
"Makan," perintah Fathan paham arti tatapan Ziara yang seolah-olah bertanya apa maksudnya.
Ziara menyatukan kedua alisnya. "Makan?" ulangnya masih belum mengerti. Fathan menyuruhnya makan? Untuk apa?
"Kamu makan aja kue ini, saya tidak mau."
"Kalau tidak mau kenapa Bapak ambil?"
"Itu kue potongan pertama, saya bingung mau ngasih ke siapa. Yaudah, saya kasih kamu saja."
"Apa alasannya?" tanya Ziara dengan tatapan serius. Mengapa Fathan memilih untuk memberikan kue potongan pertamanya untuk Ziara, padahal ia bukan orang yang spesial bagi Fathan. Selain itu, semakin kesini Ziara lebih memperhatikan perilaku Fathan terhadapnya. Untuk memastikan apakah benar Fathan menyukainya atau hanya ia yang terlalu percaya diri.
__ADS_1
Next ๐๐
stop ๐คจ๐คจ